S-U-N-A-T


Buat saya sunat atau tidak sunat itu bukan masalah besar, kalau untuk laki-laki. Karena struktur alat laki-laki di luar, jadi menurut nalar saya – kalau alasan sunat untuk kebersihan dan kesehatan, tinggal dibersihkan saja yang benar. Tapi kalau saya jadi ibu dari seorang anak laki-laki, saya akan memilih untuk menyunatkan alat anak laki-laki saya. Alasan saya kurang lebih serupa dengan alasan yang diutarakan oleh dr. Rini Sekartini, SpA: “Lapisan kulit penis terlalu panjang, sehingga sulit dibersihkan. Kalau tidak dibersihkan, kotoran yang biasa disebut smegma akan mengumpul, dan sering menimbulkan infeksi pada penis. Bahkan bisa memicu timbulnya kanker leher rahim pada perempuan yang disetubuhinya.

Kemarin, saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman saya, dua-duanya wanita. Teman saya yang satu orang Irlandia dan yang satu orang Australia. Kebetulan mereka berdua punya anak laki-laki. Sebenernya, saya tanya hanya untuk iseng: “Anak kalian disunat tidak?”. Wah, saya nggak nyangka kalau jawaban mereka jadi sengit dan defensif sekali.

Yang satu dengan langsung, dan berapi-api langsung bilang:
SUNAT? NGAPAIN? Nggak deh. Nggak! *sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat* Buat saya, sunat itu ide yang dibuat-buat. Coba, kalau misalnya setelah sunat ada komplikasi, apa dokternya mau tanggung jawab? SUNAT? Terimakasih deh, itu ide yang nggak masuk akal. Apa alasannya? Kebersihan? Kalau saya sih, tinggal saya gosok alat anak saya kuat-kuat. Beres! Gile aje! Kalau salah potong gimana?

Yang lain, sama berapi-apinya langsung bilang:
HALAH, SUNAT! Ngapain sih? Orang Tuhan udah buat alat itu bentuknya kayak gitu, ngapain pake dipotong lagi terus dijait lagi. Diubah-ubah dengan membahayakan? Orang Tuhan udah membuat kayak gitu, ya biarkan saja sama seperti aslinya. Itu hanya ide lucu dari negara-negara Asia dan Afrika. Yah, saya tau – ada agama yang mengharuskan laki-lakinya untuk sunat, tapi kan itu hanya alasan keagamaan. Tapi, itu juga jaman dulu. Jaman sekarang? SUNAT? Ada-ada saja! Jaman udah moderen kayak gini, masih mikirin sunat!

Hahaha. Hanya ditanya “Anak kalian sunat atau tidak”, yang mestinya jawabannya bisa sangat normal dan “damai”: YA atau TIDAK. Tapi kok malah jadi defensif?

Malam harinya, saya cerita pada sahabat saya: seorang laki-laki orang Australia. Ini jawaban dia:
Hahaha, kan tinggal jawab ya atau tidak, kenapa jadi emosi? Saya disunat kok, demi alasan kesehatan dan kebersihan. Buat saya itu masuk akal sekali. Lagian, kok sunat pake acara dipotong? Disobek kali! Kok dipotong? Emangnya steak? Yang saya heran, itu… *diam* Bekas istri saya disunat, loh!

Dan saya kaget.

Menurut beberapa agama dan kelompok budaya di dunia, sunat pada perempuan PERLU dilakukan untuk mengekang nafsu perempuan yang berlebihan. Hahaha. You must be jokin’! Kalau sunat pada laki-laki bertujuan untuk membersihkan dan menyehatkan alas laki-laki, kenapa tujuan sunat pada perempuan untuk “membatasi nafsu”? Menurut saya, sunat pada perempuan itu lebih pada penindasan pada perempuan yang ujung-ujungnya bermaksud menjadikan perempuan sebagai objek (seksual) saja: yang pasif, yang menurut, yang tidak protes, yang tidak meminta, yang bisu *dan membiarkan laki-laki yang menentukan waktu, frekuensi, gaya dan selera*.

Jika sunat pada alat laki-laki membawa manfaat (bagi laki-laki) dari segi kesehatan, kebalikannya – secara medis, sunat pada alat perempuan justru merugikan kesehatan perempuan. Berikut beberapa komplikasi yang sangat mungkin terjadi akibat sunat pada perempuan: infeksi local, tetanus, trauma dari bagian-bagian seputar alat reproduksi, air seni tertahan, timbul kista yang nyeri, infeksi panggul, rasa sakit saat bersenggama, masalah infertilitas, dan infeksi saluran kemih berulang.

Masalahnya, masih banyak kelompok masyarakat, terutama di Asia dan Afrika bersikukuh tetap melakukan tradisi ini. Badan-badan dunia seperti PBB, WHO, dan UNIFEM telah mengeluarkan larangan terhadap sunat perempuan – dan mengkategorikan tindakan ini sebagai salah satu bentuk kekerasan (seksual) pada perempuan. Stelah Obasanjo dari Nigeria – untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya sunat pada perempuan – menetapkan tanggal 6 Februari setiap tahunnya sebagai International Day of Zero Tolerance To Women Genital Mutilation.

Tanpa hendak menyinggung apa pun dan siapa pun, saya tidak pernah percaya bahwa sunat pada perempuan itu perlu. Sebaliknya, menurut saya – sunat pada perempuan itu sebuah kedok penindasan terhadap perempuan. Sekelompok orang percaya, sunat pada perempuan itu berfungsi untuk “mengendalikan hasrat seksual perempuan yang dianggap berbahaya”. Hahaha. Berbahaya? Berbahayakah kalau perempuan menikmati seksualitas? Berbahayakan kalau perempuan berkeinginan berseksualitas? Berbahayakan kalau perempuan punya hak atas mandiri atas seksualitasnya? Lalu, kalau benar berbahaya – membahayakan siapa? Come on!

Kalau memang nafsu perempuan sangat, sangat, sangat besar – coba ditelisik angka perkosaan. Siapa yang lebih banyak melakukan perkosaan? Laki-laki atau perempuan? Kalau diteliti lebih lanjut, coba periksa korban perkosaan, apakah mereka semua disunat? Harusnya kalau mengikuti logika “sunat pada perempuan membatasi nafsu perempuan”, semua korban perkosaan harusnya sudah disunat, atau? Nah, kebayang tidak – kalau tidak disunat saja diserang dan diperkosa. Mengikuti logika tadi, apa jadinya kalau perempuan disunat?

8 thoughts on “S-U-N-A-T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s