P-D-A


PDA adalah singkatan dari Public Display of Affection. Public Display of Affection pada dasarnya adalah memperlihatkan emosi antara dua orang yang saling menyayangi dalam ranah publik. Jadi sebenarnya PDA bisa berbentuk pelukan atau butterflies kiss ibu/ayah pada anak(-anaknya). Tapi, PDA lebih sering diidentikan dengan kelakuan pasangan kekasih, in terms of sexual sense: holding hands, hugging, petting and kissing, back rubs, sitting on laps – are all forms of attachment.

Kalau mengacu pada the free dictionary, affection adalah emotion or a positive feeling of liking, yang didorong oleh perasaan cinta atau kasih sayang. Sehingga ketika kita bicara soal affection, mestinya kita sedang berbicara mengenai sesuatu yang sifatnya personal. Masalahnya, ada kata-kata “public display” juga, yang kalau mengacu pada penyajian visual yang menyangkut/diperlihatkan pada umum (orang banyak). Definisi public display yang saya berikan itu adalah gabungan dari sini dan sini. Artinya, ada ranah pribadi dan ranah publik yang bersinggungan dalam PDA.

Jadi, walaupun emosi itu sifatnya pribadi – tapi karena menyangkut pasangan kita dan ranah publik (bisa orang lain, bisa masyarakat, bisa norma masyarakat, bisa norma agama, bisa aturan pemerintah, bisa aturan sekolah) – menurut saya – banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan PDA.

  1. Kenyamanan pasangan kita. Mungkin penting untuk dipertimbangkan apakah pasangan kita juga setuju dan menikmati PDA? Jenis PDA apa yang bisa ditoleransi oleh pasangan kita: hanya berpegangan tangankah, atau ditambah dengan pelukan, atau juga mengusap punggung mereka, atau mengusap-usah kepala, atau memasukan tangan ke dalam celana/rok, atau?
  2. Kadang mereka yang berpacaran pergi dalam kelompok. Menurut saya sih, hati-hati ketika melakukan PDA saat bepergian dengan peer group. Mungkin kita yang pacaran nggak peduli dengan pendapat orang lain. Tapi, teman-teman kita yang satu rombongan – mereka peduli lho! Apa yang tiap individu lakukan dalam kelompok – sedikit banyak akan berimbas pada anggota kelompok lainnya.
  3. Ini yang paling penting menurut saya: PDA boleh jadi hak pribadi. Tapi jangan lupa kalau tiap masyarakat itu punya normanya sendiri! Mungkin orang-orang di kota-kota metropolitan nggak masalah lihat orang ciuman di depan umum. Masalahnya, masih banyak masyarakat di tempat-tempat lain yang masih menabukan – bahkan – pegangan tangan dengan lawan jenis.
  4. Nah yang menurut saya (rada) aneh tapi penting: tempat umum! Namanya juga tempat umum, pasti penuh dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan dari berbagai umur. Bener sih, ketika kita ciuman, yang kita cium pacar kita – bukan pacar/suami/istri orang lain. Artinya, itu sepenuhnya hak kita yang logikanya secara fisik tidak menyakiti/merugikan orang lain. Tapi inget dong, ada orang lain yang juga punya hak atas kenyamanan di tempat umum. Please DO consider, others would be offended when exposed to certain behaviors. RESPECT CHILDREN! Also, other people in public tend to feel annoyed or hurt the eyes and uncomfortable because of such overmuch PDA actions.

Menurut Gia Recio berpegangan tangan, berpelukan dan kecupan ringan adalah bentuk PDA yang umumnya bisa diterima oleh masyarakat (hampir) di mana saja, tapi – don’t let your hands wander too far! Anyway, saya setuju pendapat Recio: there’s a time and place for everything.

=============================================================================
A little Consideration, a little Thought for Others, makes all the difference. (Winnie the Pooh)

18 thoughts on “P-D-A

    • Well, di mesjid/gereja ga ada peraturan yg bilang “diijinkan/ga diinjinkan” masuk kalo masih pake rol rambut. Tapi, ada perasaan “mengerti” a.k.a “peka” yg membuat (ke)banyak(an) org melepas rol rambut sebelum masuk mesjid/gereja.🙂

  1. pernah baca artikel tentang PDA ini tapi duluuu..banget..sampe2 aku lupa apa singkatannya..ingetnya cuman ‘ P ‘ nya doang,,hehe..setelah baca ini jadi inget lagi sama ‘DA’ nya..
    iya mbak, saya termasuk orang yang risih (banget) sama pasangan2 yang ber-PDA ria di tempat umum, kayak nggak bisa ntar2 aja. aku mending menjauh deh daripada liat pasangan kek gini.. jijayy !!

    • hahaha PDA kan ada juga yang menyenangkan untuk dilihat/dibaca *secara sekarang udah ada dunia online loh! ada juga online PDA*: panggil mesra “beb” misalnya, ahahahahaha

      Aku seneng sekali lihat pasangan yg bergandengan tangan/salah satu memasukan tangannya ke saku belakang pasangannya. It is nice to enjoy hehe

  2. haarrgghh..mbak titut..beb itu kan cuman panggilan, *membeladiri.com* hehe..maksutku yang sampe pangku2an,trus peluk2an, cium2an..dan yang berakhiran ‘an’ lainnya..hehe..

    • lah – kalau ga ketauan kan ga papa tho? ihihihiihi kalau keliatan umum itu yang kadang bikin ingin.
      Ya kan Danindra?

  3. eh, aku ndak khan ya..ya khan yaa…?
    hehehe..nek aku sukanya ndusel..ndusel private tapi, bukan ndusel public..
    *maketin sigundul kesonoh…

  4. namanya juga lagi pacaran tho yo..??
    kadang ga peduli ada orang apa tidak…
    itu termasuk efforia ,bisa krn lama ga punya pacar..trs punya pacara..atau emang kegatelan…

    kalo gatel,di garuk aja…hahhaha

    • ini hanya tulisan kok, Ulie. Maaf kesamaan gambar/cerita/karakter bukan sengaja. Maaf kalau ternyata sama dengan pengalamanmu. Maaf lhoooo

    • bukan harus, i suppose. just forms of affection, in public sphere. and nothing’s wrong to show it, tho. awareness that you are in public sphere – that’s the key (menurutku).

  5. Mba titut, aku berpandangan bahwa Euforia baru jadian yg biasanya cenderung PDA tanpa memperhatikan orang disekelilingnya menyebabkan org yg melihatnya jadi pekewuh. Kata pekewuh disini bukan berarti iri, tapi lebih cenderung risih.. dan itu yg biasanya tidak disadari oleh pelaku. hihihihihi..

    • Hehehe. Kayaknya kalau aku punya pasangan – aku akan suka melakukan PDA. Holding hands sounds nice. I love it. Dan kayaknya itu bukan euforia. Aku sering terharu kalau liat kakek-nenek gandengan mesra.
      Suka agak malu kalau liat PDA yang berlebihan. Jadi norak ya keliatannya? Biarin aja mereka pikir kita iri. Hehehehehe Orang punya pacar kadang menimbulkan perasaan “jagoan” hahaha “bangga”, sampai lupa beberapa hal. Tutup muka aja, kky! aku akan tutup muka kalau ketemu pasangan2 kayak gitu yang kebetulan temenku. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s