A-S-I


Sebelum punya anak, saya yakin sekali dengan slogan “tidak bisa tidak, harus ASI”, selama enam bulan. Harus ASI dan hanya ASI. Apalagi kakak saya ASI-nya banyak, malahan ia bisa menyusui sampai dua tahun. ASI kakak saya melimpah ruah, sampai-sampai didonorkan pada bayi lain yang ibunya tidak bisa memberikan ASI atau ASInya tidak mencukupi.

Saya pikir, secara alami – setelah melahirkan ASI akan membanjir dari payudara ibu. Sebelum saya melahirkan, begitu yang saya baca, tentu disertai tips-tips agar payudara menghasilkan ASI yang mencukupi: massage, membersihkan puting, mengompres bagian dada dan payudara, minum banyak air, makan banyak sayur, dan makanan yang bergizi lainnya. Saya melakukan itu semua ketika kehamilan saya memasuki bulan ke delapan dan sepanjang saya memberikan ASI.

Sampai bulan ke dua, berat badan Gita naik dengan sangat tidak signifikan dan dikategorikan sebagai: mal nutrisi. Pantas, Gita itu rewel dan sulit tidur. Bagaimana bisa tidur dan tenang kalau kelaparan? Bagaimana tidak kelaparan kalau saya hanya memaksakan ASI padahal ASI saya sedikit sekali?

Saya akhirnya mulai memberikan susu formula dalam botol untuk Gita. Tapi, masalah baru muncul – Gita gila puting (menolak payudara saya). Jadi ternyata, minum susu dari botol (dot) itu lebih mudah dibanding minum dari puting payudara ibu. Dot punya lubang yang besar, sementara puting itu lubangnya kecil-kecil (pori-pori) sehingga butuh tenaga ekstra untuk menghisap. Bayi yang sudah mengenal dot, biasanya jadi malas menghisap puting ibunya.

Saya lalu mengambil kursus laktasi di R.S Carolus, Salemba. Selama kursus, saya diajari cara menyusui yang benar. Ternyata, selama menyusui bayi mata kita sebaiknya bertatapan dengan mata bayi. Komunikasi melalui mata, menurut dokter yang membantu saya, membantu memicu produksi ASI. Bayi juga sebaiknya didekap dekat dada ibu, bukan dekat perut ibu. Ini adalah posisi paling nyaman agar nyaman selama menyusui.

Oh iya, saya juga disuntik setiap minggu. Nggak tau disuntik apaan. Tapi, kalau habis disuntik, ASI saya keluar banyakkkkk sekali. Sayangnya hanya bertahan dua atau tiga hari setelah disuntik. Setelah tiga hari, lagi, ASI saya seperti sumur di musim kering. Lalu saya tanya pada dokter: “Masa setiap minggu selama enam bulan saya harus disuntik terus supaya ASInya keluar deras?” *ngga lucu*

Lalu dokternya menyarankan saya untuk mulai memberi susu formula. Saya bingung. Lho? Susu formula? Bagaimana nanti kalau Gita gila puting lagi? Tahu nggak rahasianya? SENDOK! Jadi, menurut dokter itu, kalau ASI seorang ibu memang kering, nggak masalah memberikan susu formula selama pemberian susu formulanya pakai sendok, bukan pakai botol (dot). Saya takut sekali Gita tersedak kalau minum dari sendok. Salah! Ternyata, bayi itu peminum-dari-sendok yang sangat natural. Selama kita menempatkan sendok (sendok kecil, bukan sendok sayur) pada posisi benar, bayi akan mudah sekali minum dari sendok.

Kenapa harus sendok dan bukan botol? Untuk menghindari gila puting. Jadi, walaupun mendapat tambahan makanan dari susu formula, bayi tetap nyaman menyusui dari puting ibu. Setelah saya ikut kursus laktasi itu, ternyata yah, sebenarnya *refer to my dull understanding* inti utama memberikan ASI adalah bukan “hanya (exclusive) memberikan ASI”, tapi sebisa mungkin (sekuat tenaga) memberikan ASI: walaupun memberikan susu formula, tetap dicari cara supaya bayi tidak gila puting supaya dapat terus minum ASI – paling tidak untuk menjaga kedekatan emosi ibu dan anak, paling tidak untuk memberi kesempatan ibu mendekap bayi di dekat dadanya, paling tidak untuk memberi kesempatan bayi mengadakan kontak mata dengan ibunya. Well, that’s not too bad.

Nah, akhirnya dari Gita berusia dua bulanan saya sudah memberikan ASI tandem – terus sampai dia berumur empat tahun hehe *yeah, I am a bit maniac*. Begitu usianya menginjak empat bulan, dokter di tempat kursus laktasi meminta saya mulai memberikan makanan padat pada Gita, karena berat badannya masih kurang. Saya memberikan semua jenis sayuran yang saya tahu. Saya campur jadi satu dalam bubur saringnya. Setelah Gita tumbuh gigi, saya sering menaburkan sayur-sayuran rebus dalam boxnya atau di tempat tidur, karena ada usia di mana bayi senang merangkak dan mengambili makanan apa saja dari lantai.

Saya bersyukur, Gita tumbuh sehat walaupun saya tidak memberikan ASI eksklusif. Saya tetap percaya kalau ASI itu baik dan mengandung berjuta manfaat. Tetapi dari pengalaman saya, saya jadi memahami bahwa ada yang lebih penting dari ASI, yaitu kenyamanan dan keamanan bayi dan ibu. Saya percaya, kasih sayang dan keikhlasan itu adalah alat pertahanan tubuh bayi yang paling utama. Entah, I know it doesn’t make sense. Tapi, paling tidak, dari pengalaman dan pemahaman saya, itu yang saya dapatkan. Saya percaya, memberikan ASI adalah sebuah pilihan, bukan keharusan. If you make your choice under your consciousness, I believe we can value at once for its sincerity.

===================================================
Happiness is an inner state of well being. A state of well being enables you to profit from your highest: thoughts, wisdom, intelligence, common sense, emotions, health, and spiritual values in your life.

11 thoughts on “A-S-I

  1. apakah ini karena komentar di milis laknat ituh? hihihi..daku percaya, manapun jalan yang terbaik untuk si bayi itu dilakukan dengan penuh cinta oleh ibunya.🙂

    • uumm jain – ja und nein
      ini draft hampir setahun yg lalu.
      lalu, krn milis *ga cuma yg kemarin, tapi misalnya ketakutan2 calon ibu baru*, saya jadi ngeh “oh, ternyata…” Jadi, tadi malam menguatkan niat nambahin dua paragraf haha

  2. salut, Mbak. pelajaran yang berharga buat para calon ibu…
    eh, jangankan milist, status FB aja bisa memberi inspirasi buat postingan…ya, nggak, Mbak…hehehe…

  3. makasih ya. inspiratif. babyku jg penambahan bb ga signifikan. boleh tau ga, Gita perkembangan BBnya gmana? lahir brp? bulan 1,2,3 brapa? trus konsulnya ke klinik laktasi mana? dianjurkan tambah sufor dr klinik itu? thx ya

    • hai dila. lupa aku. tp yg jelas wkt lahir gita itu 3.2 kg – keluar RS turun jadi 3 kg. terus sampai umur 4 bulan apa ya hanya naik beberapa ons. 3,6 kayaknya. dikit banget kok. dan dibilang sama susternya malnutrisi. konsulnya di klinik laktasi st. carolus. dianjurkan makanan padat lebih dini.

  4. Tdk bnyk cerita jujur spt ini. Kebanyakan yg saya baca adl cerita kesuksesan ASIx, bhkn sampai 2thn. So thanx for sharing🙂. Sblm pny anak saya jg bertekad hrs full ASI& ikut kursus laktasi jg spt Mbak Titut. Tp kemudian kasus saya adl saya jd depresi krn bayi saya menyusu hampir sepanjang hari (bkn 2jam atau 1jam sekali spt kata teori). Jadilah saya menyusui, tp di wkt lain jg memberikan susu formula. Dan utk mengurangi rasa frustasi, saya unsubscribe diri dari milis yg mngkn sama dng yg dibicarakan di komentar awal2 :-p. -Alumn Kom UI’O4

  5. agree banget. aku menyusui eksklusif sih untuk anak2ku karena ASI nya keluar dan itu pilihan paling masuk akal dan anak-anak terus naik berat badan meski gak banyak. Tapi perjuangannya emang luar biasa. Apalagi aku rada OCDP. Mulai dari jam 3 merah asi ampe subuh dan mesti nyisain buat di minum langsung si baby. bikin makanan baby from scratch, nyiapin di wadah2 khusus agar si mbak gampang ngaetinnya, dan kemudian berangkat kerja. dan, masih harus memikirkan gizi yang masuk ke dalam body kita. di kantor masih merah lagi. Pulang kerja merah. nyusuin. merah. nyusuin. belum lagi harus masak, nyuci botol, ngesteril, ngelabelin, dll, dst, bla bla bla *ehhh, kok jadi curhat. Stress?? banget! Apalagi semua dikerjakan sendirian. Dan dari jaman Anak kedua dah mulai cuek sama twit nya kelompok yang promo ASI Karena malah bikin tambah stress. Dari situ aware bahwa ngasih ASI bukan sekedar nyodorin payudara dan semua masalah selesai. pemberian ASI benar2 tergantung sikon kita. because I believe, a happy mother build a happy family. ASI or formula? mana aja lah, yang penting keluarga dan si ibu sehat fisik dan mental🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s