Let’s Play no PS!


Beberapa hari dalam satu minggu, saya menitipkan Gita ke afterschool care. Nah, salah satu fasilitas bermain di sana adalah PS, playstation. Anak-anak membuat daftar absen sendiri untuk menentukan giliran. Tiap anak mendapat jatah bermain selama 10 menit. Believe me, antriannya panjang. Walaupun banyak penggemarnya, rasanya, tahun lalu Gita tidak pernah mengatakan “Bu, can you buy me PS?”. I was pretty happy, for I’ve never agreed sort of those game for kids to play. In my very dull opinion, it kills them, stops their brain to grow, avoids their body to be active, waste their childrenhood and poisons them to be anti social human being. I preffer Gita to be outdoors: at the park, at the beach, riding her bike or scooter, flying the kite or just playing bubbles.

Tapi sejak dua minggu lalu, beberapa kali kalau saya menjemput Gita di afterschool care, dia menggamit tangan saya dan berkata: Bu, can I have DS? *walau saya tidak tau pasti artinya, hampir yakin DS itu adalah sejenis PS*. Ngga cuma sekali dua kali Gita mengajukan proposal yang sama, tapi berkali-kali.

Jujur ya, saya sebal. Apa pun alasannya saya tidak suka dan tidak ingin Gita ikut gelombang arus jutaan anak yang kecanduan PS. Ketika saya cerita ke seorang teman yang anaknya *menurut saya* sudah kecanduan PS, dia bilang: “but it trains children’s brain!”. Yeah.. you’re rite!

Lalu, akhirnya – kemarin saya jalan-jalan ke mall. Pulang-pulang membawa dua kotak mainan yang – menurut saya: keren banget. Yang satu adalah TANGRAM dan CASTLE LOGIX.

Logika tangram itu sama seperti puzzle. Bedanya, tangram menggunakan bentuk-bentuk geometri: segitiga, jajaran genjang, bujur sangkar dan lainnya. Satu kotak tangram yang saya beli kemarin terdiri dari: empat set bentuk-bentuk geometri yang berbeda-beda warnanya, 12 kartu ukuran raksasa dengan bentuk geometri yang menyertakan garis panduan, dan 50 kartu ukuran kecil dengan bentuk geometri tanpa garis panduan.

Hebatnya lagi, mainan itu bisa dimainkan oleh empat orang, yang umurnya bisa berkisar dari empat tahun sampai 99 tahun. Artinya permainan ini bisa dimainkan oleh satu keluarga dengan asumsi: satu ayah, satu ibu dan dua anak hehe. Jadi, tentu saja kartu-kartu tadi punya tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

Mainan lain yang saya beli untuk Gita kemarin adalah CASTLE LOGIX. Sepintas, mainan ini seperti mainan susun balok. Memang, model dasar permainan ini adalah permainan susun balok. Bedanya, permainan ini membutuhkan kegiatan berpikir.

Satu kotak Castle Logix terdiri dari empat balok ukuran berbeda yang punya lubang. Jumlah lubang tiap balok berbeda-beda. Juga ada tiga tongkat silinder dengan tiga ukuran yang berbeda dan satu buku tantangan. Buku tantangan ini terbagi menjadi empat bagian: starter, junior, expert, dan master. Bagian starter memiliki tingkat kesulitan menyusun balok yang paling rendah, sementara bagian master memiliki tingkat kesulitan menyusun balok yang paling tinggi.

Ada 48 tantangan yang tersedia untuk pemain. Jadi, di tiap halaman buku tantangan, ada gambar bangunan yang harus diselesaikan oleh pemain. Terlalu sulit? Jangan khawatir, pada halaman sebaliknya disediakan jawabannya kok!

Senang sekali melihat Gita main Castle Logix. Dia bisa berteriak-teriak kegirangan kalau berhasil menyelesaikan satu tantangan. Oh ya, permainan ini juga bisa dimainkan oleh orang yang berumur 3 sampai 99 tahun. Jadi, tentu saja tantangan-tantangan yang ada di tingkat master agak tricky. Waktu saya mencoba satu tantangan, saya butuh waktu hampir 10 menit untuk menyelesaikan.

Harga dua permainan ini hmm agak nguras dompet juga huhuhu. Tangram saya beli seharga 19.95 AUD dan Castle Logix saya beli seharga 39.95 AUD *nangis darah* Agak kesal, karena tadi pagi saya browsing Internet, dan nemu satu toko online yang jual Castle Logix dengan harga ‘cuma’ 28 AUD. Ah, ngga apa-apa. Soalnya saya mau beli Camelot Jr., permainan sejenis Castle Logix tapi lebih rumit sedikit.

Senang sekali. Saya sudah menemukan jenis-jenis permainan yang bisa mengusir playstation or DS or Wii dari otak Gita, dari keinginannya. Maaf kan ibu ya, Nak. I might dehumanize you by limiting your desire. But, for now, I think that is the best for you.

6 thoughts on “Let’s Play no PS!

    • heheh iya belum hehe
      eh, gita bawa kok!
      ada congklak dan ada lompat karet.
      tapi kan itu outdoors!
      aku lagi ngajarin Gita catur jawa.
      di sini ada versi gancilnya: conect four.
      *bukan apa2 dibanding catur jawa*

  1. kl tanteku tetep beliin mbak. tapi cuma boleh dimainin pas long week end. week end normal jangan harap mereka bisa main. kupikir g ada selahnya beliin tp pengawasan ortu harus ketat juga. jadi inget dulu jaman minta di beliin gambot (mbuh nulise piye) akhirnya dibeliin satu buat berdua ma ade dan hanya boleh main pas hari minggu sama ma jadwal nonton tv. jd pilih salah satu, tv atau game.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s