Ex TV Generation


Pada jamannya, saya adalah generasi tivi. I was. Waktu itu cuma ada satu stasiun tivi, TVRI – yang mulai siaran jam empat sore dan selesai sekitar jam 12. Hanya hari Minggu – kalau nggak salah – tivi itu bisa nyala dari (agak) pagi.

Jadi, kalau sore-sore bangun tidur kegiatan saya pasti langsung mandi *eh, kadang-kadang naik sepeda dulu ding*. Habis mandi, saya akan langsung duduk di depan tivi, nonton. Dulu kalau sore-sore acaranya pasti untuk anak-anak duluan. Entah itu drama (Keluarga Marlia Hardi), atau menggambar bersama Pak Tino Sidin (“bagus… bagus…”), kadang cerdas cermat (“di sebelah kiri saya adalah …, di sebelah kanan saya adalah …”), ada juga lomba menyanyi, yang pesertanya dari sekolah-sekolah di Jakarta (Jakarta atau Indonesia ya? Saya lupa), ada juga acara Taman Indria asuhannya Bu Kasur atau Kak Seto atau Kak Henny yang ditemani Bu Meinar, kadang juga ada sandiwara anak-anak yang biasanya menceritakan kembali foklor dari penjuru tanah air (Bandung Bondowoso, Si Pahit Lidah, dan lainnya), atau juga kadang ada film kartun asing (nah, saya lupa. Waktu itu sudah ada diberi teks bahasa Indonesia belum ya?).

Setelah acara anak-anak biasanya berita. Terus habis berita, giliran acara niaga. Jaman dulu, program tivi enggak diselak-selak iklan. Jatah iklan untuk nampang ada sendiri, kalau ga salah dua sesi yang tiap sesinya 30 menit. Adil ya, bahkan iklan juga nggak diselak-selak program tivi. Habis iklan biasanya acara untuk orang tua (termasuk penyuluhan, hihihihihi) kayak Dari Desa ke Desa, atau ES A EF A ER I, SAFARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII – nya Eddy Soed. Seringnya, saya melewatkan program-program ini karena sudah waktunya tidur.

Iya! Jaman dulu, orang tua saya memberlakukan batas tidur. Untuk saya jam 20.30 dan untuk kakak-kakak saya jam 21.00 (tidak ada yang adil untuk anak bungsu, huh!). Padahal, banyak film-film bagus yang diputar jam 23.00 malam. Ada Invisible Man, Denny Manusia Ikan (versi Inggrisnya), dan (ini kesayangan saya) – The Little House in The Prairie.

Untungnya, jaman segitu sudah ada alat video player *versi betamax kalau nggak salah*. Jadi, orang tua saya akan merekam program-program acara yang diputar di malam hari. Haha, senang sekali. Biasanya, jatah kami (anak-anak) menonton siaran tunda itu setelah pulang sekolah, sebelum tidur siang.

Sekarang saya pikir saya bukan generasi tivi lagi. Sudah beberapa tahun ini saya berhenti nonton tivi. Kapan ya terakhir kali saya secara berkala nonton tivi? Mmmhh lupa, tapi sepertinya ketika Gita berumur 2 tahun.

INTERMEZZO
*settingnya: berdoa malam*
Ayah Gita: Tuhan, sekarang Gita, Bapak dan Ibu mau tidur dulu.
Gita *mengulangi*: Tuhan, sekarang Gita dan Bapak mau tidur dulu.
Ayah Gita: Tuhan, sekarang Gita, Bapak dan Ibu mau tidur dulu.
Gita *mengulangi*: Tuhan, sekarang Gita dan Bapak mau tidur dulu.
Ayah Gita: Dek. Tuhan, sekarang Gita, Bapak dan Ibu mau tidur dulu.
Gita *mengulangi*: Tuhan, sekarang Gita dan Bapak mau tidur dulu.
Ayah Gita: DEK!
Gita *menoleh dengan muka polos*: TAPI KAN IBU GA TIDUR! IBU MAU NONTON TIVI!!!

Tapi, rasanya bukan itu yang membuat saya berhenti mengkonsumsi tivi. Sepertinya sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu (KSDHM) yang mematikan rasa saya ingin nonton tivi. Saya masih ingat, dulu masih seneng banget nonton sinetron rame-rame, termasuk sinetron KSDHM itu. Sampai suatu ketika, saya merasa ngeri nonton sinetron itu. Entah darimana yang buat sinetron (atau cerita) punya ide-ide jahat semacam itu. Kalau pun itu hanya cerita (kesamaan nama dan tempat dalam cerita ini hanya sebuah kebetulan), tapi gagasan tentang kejahatan yang ditawarkan (untuk ditonton orang) sungguh diluar nalar saya. Kalau gagasan jahat itu hanya ditampilkan di satu atau dua episode, menurut saya masih lumrah. TAPI INI?? Disetiap episode, di setiap scene. Capek sekali menontonnya.

Jadi, saya disini. Bukan lagi generasi tivi. Rasanya, sampai sekarang sudah hampir lima tahun saya tidak lagi mengkonsumsi acara tivi secara berkala. Once in a blue moon, saya nonton tivi. Biasanya saya ikutan nonton tivi kalau sedang main ke rumah ibu atau kakak saya.

Dan ternyata, mmhhh dengar-dengar, program tivi di Indonesia sekarang belum bertambah baik. Katanya, masih saja banyak sinetron-sinetron (hampir) di setiap jam. Pppfffff Mau sampai kapan ya? Saya percaya hukum ekonomi, kalau tidak ada permintaan maka tidak akan ada pasar. True. Masalahnya, kadang jadi ada permintaan karena masyarakat dididik untuk suka barang tertentu, sih. Jadi kayak lingkaran setan, deh.

Ngomong-ngomong, setelah saya pikir-pikir, kok program tivi jaman dulu itu lebih suportive dan mendidik ya sifatnya (terutama program tivi yang untuk anak dan keluarga) – dengan catatan saya menyingkirkan segala aspek politik dan laten brain washing lhooo. Program tivi untuk anak-anak, ya benar-benar bernuansa anak-anak. Program tivi untuk keluarga, ya benar-benar bernuansa keluarga. *hmm yang kasihan justru kelompok dewasa, karena diwakili oleh program tivi yang isinya “gelas-gelas kaca”, “semut-semut merah” dan lain sejenisnya hwa hwa hwa hwa*

However, ada satu bagian di buku “Charlie and Chocolate Factory” yang sangat saya suka. Kalau sedang mengajar Sosiologi Komunikasi Massa, bagian ini selalu saya share untuk teman-teman saya di kelas.

‘The most important thing we’ve learned, so far as children are concerned, is never, NEVER, NEVER let them near your television set —
Or better still, just don’t install the idiotic thing at all.

In almost every house we’ve been, we’ve watched them gaping at the screen. They loll and slop and lounge about, and stare until their eyes pop out. They sit and stare and stare and sit until they’re hypnotized by it, until they’re absolutely drunk with all that shocking ghastly junk.

Oh yes, we know it keeps them still, they don’t climb out the window sill, they never fight or kick or punch, they leave you free to cook the lunch and wash the dishes in the sink —

But did you ever stop to think, to wonder just exactly what this does to your beloved tot?

IT ROTS THE SENSES IN THE HEAD! IT KILLS IMAGINATION DEAD!
IT CLOGS AND CLUTTERS UP THE MIND! IT MAKES A CHILD SO DULL AND BLIND. HE CAN NO LONGER UNDERSTAND A FANTASY, A FAIRYLAND! HIS BRAIN BECOMES AS SOFT AS CHEESE! HIS POWERS OF THINKING RUST AND FREEZE! HE CANNOT THINK – HE ONLY SEES!

THEY … USED TO … READ! They’d READ and READ, AND READ and READ, and then proceed TO READ some more.

So please, oh please, we beg, we pray, go throw your TV set away, and in its place you can install a lovely bookshelf on the wall.

Dan, saya setuju. Saya suka. Dan sekarang, saya lebih memilih membeli buku untuk Gita. Kalaupun ia ingin menonton sesuatu, DVD lebih baik. Karena saya bisa membiarkan otaknya membeku dalam waktu yang ditentukan. Hahahahaha.

Well, good bye TV (programmes)! See you once in a blue moon!

6 thoughts on “Ex TV Generation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s