C-A-R-E-L-E-S-S


Kami berdua sudah siap-siap naik ke atas tempat tidur, ingin melakukan ritus seperti biasa: membaca buku dan ngobrol-ngobrol sebelum tidur sambil main kitik-kitik dan tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba, dia bilang: I wish you were my teacher,
dan saya: he? why?
dia: coz i don’t like my teacher
saya: why?
dia: she is sooo bossy and keeps yelling all the time
saya: at you?
dia: once, and at class all the time. i got dizzy everytime she yelled. couldnt think. when she yelled at me, my body shivered. and even after that, my body kept shivering everytime she talked to me.
saya: *speechless*

Tiba-tiba saya merasa jatuh kasihan. Sebulan ini, sejak kami pulang – saya mendorong dia *dengan terlalu keras* untuk mengejar ketinggalan selama enam minggu. Bahkan akhir pekan lalu, saya memaksa dia untuk tinggal di rumah, mengerjakan latihan matematika dan menulis. Bayangkan, akhir pekan: hari Sabtu dan Minggu. Dan dia merasa begitu tertekan di sekolah. Dan saya tidak memberikan perlindungan yang nyaman di rumah.

Ketika dia bingung, saya begitu tidak sabaran. Ketika dia lelah, saya terus memaksa. Ketika dia ingin bermain-main sejenak, saya anggap dia maunya bercanda terus. Ketika dia tidak mengerti, saya menuntut untuk (cepat) mengerti. Dan saya lupa bertanya such of a simple question: how was your new teacher?

Saya berkedok supaya dia cepat bisa mengejar ketinggalan. Saya berkedok supaya dia tidak mendapat kesulitan dengan gurunya. Saya berkedok supaya dia tidak malu *karena tidak bisa*. Saya berkedok membantu dia. Dan saya lupa memberi semangat setiap pagi sebelum sekolah.

Padahal, saya hanya membantu diri saya sendiri. Mengurangi rasa bersalah karena mengajak dia pulang dan akhirnya membolos lama sekali. Padahal, saya hanya menyelamatkan muka saya sendiri. Supaya – sebagai orang tuanya – saya tidak malu di sekolahan (dia). Dan saya lupa belajar harusnya sesuatu yang menyenangkan.

Dan saya tidak ingat dia juga sudah berkorban untuk saya – ikut pulang dan meninggalkan sekolah. Dan saya lupa yang terpenting adalah dia: kenyamanan hatinya, ketenangan jiwanya, dan hanya dia. Dan saya lupa dia mempercayakan dirinya pada saya. Dan saya lupa dia juga tertekan. Dan tunggang langgang. Dan takut. Dan cemas.

Ya ampun. I dehumanized her.

Terlalu. Terlalu. Terlalu. Saya sungguh terlalu. Dan saya malu. Dan saya menyesal, sungguh menyesal. Maafkan ya, Nak.

6 thoughts on “C-A-R-E-L-E-S-S

  1. 😦 menyentuh… akan aku inget2 deh, untuk bekal aku nanti kalau udah jadi ibu….

    di lain sisi, Gita menganggap ibunya as a great person, bahkan she wishes that u could be her teacher,… daripada lebih mengidolakan gurunya ketimbang ibunya,.. hayoo…

  2. but still, she choosed you to be her teacher, not her real teacher at school..forgot and careless may will always be human mistakes..after all, when you realized that you dehumanized her and you regret that, then you do something to apologize to her, it’s a good thing, i think😉 cheer up!

  3. so common thing.
    aku juga pernah ngalamain hal yang (mirip) begini. masalahnya, guru di kelas itu ngajari banyak anak, sedang tiap anak punya ‘cara’ sendiri untuk mengerti. iya, wong anakku yang kembar aja cara mudhengnya beda.
    jadi sempat ngga sempat aku sempatin walau ngga rutin, jadi guru les buat anak-anakku. masih kurang sih kayanya, tapi dari pada enggak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s