K-A-C-A-N-G-A-N


Barusan aja gembar-gembor di milis perihal perokok idealis kacangan. Sumpah, enggak tau kenapa jadi perokok aja dibilang idealis? Kalau lihat Kamu Besar Bahasa Indonesia online idealis itu adalah orang yang bercita-cita tinggi. Cita-cita tinggi macam apa yang ingin dicapai seorang perokok dengan kegiatannya merokok? *heran*

Lalu kalau kacangan.. yahhhh enggak tau jugalah, maksud “kacangan” apa. Tapi kalau mengacu pada “playboy kacangan” atau “produk kacangan” atau “lagu kacangan” atau “film kacangan” – kamu bisalah ngerti maksudnya kacangan apa.

Nah, kemarin waktu saya jalan-jalan ke Bandung, secara kebetulan saya bertemu orang-orang (dewasa) kacangan in terms of smoking. Eh,sebelumnya saya minta maaf sama orang-orang yang saya rekam gambarnya tanpa minta ijin dulu. Soalnya ga yakin kalau saya minta ijin boleh motret tindakan kacangan mereka. Maaf ya.

Pertama, waktu mobil antarjemput saya berhenti di pangkalan shuttle. Terus saya ngeliat ada seorang laki-laki dewasa yang dengan enaknya santai-santai di tangga di dekat seorang anak kecil yang lagi makan kentang goreng.

Waktu itu, di dalam mobil ngeliatin laki-laki dewasa kacangan itu, pikir saya: “Biasa deh, laki-laki. Ngga tau sih rasanya menjaga kehidupan sampe sembilan bulan”. Secara aneh dan sinis, saya masih bisa “maklum” kalau laki-laki dewasa perokok adalah manusia kacangan, yang tidak peduli pada orang lain – khususnya anak-anak. Memang kacangan sih, tapi …. ya sudahlah. Maklum.

Nah, waktu saya makan di salah satu warung surabi, saya lihat ada dua orang perempuan dan seorang gadis kecil – kurang lebih lima atau enam tahun gitu. Enggak yakin, kedua perempuan dewasa itu siapanya gadis kecil cantik itu. Mungkin kakaknya, mungkin tantenya, mungkin tetangganya, mungkin (salah satunya adalah) ibunya *semoga tidak*. Yang jelas, kedua perempuan itu adalah dua manusia (super) kacangan. Dengan santainya merokok pada jarak yang amat sangat dekat dengan si gadis cilik. Dengan santainya mereka meniupkan asap rokok sisa hisapan. Dengan teganya mereka bahkan tidak berusaha mengipas asap rokok supaya bertiup ke arah lain. Tega. Tega.

Kondisi yang mengenaskan ya? Mereka kan perempuan, yang mungkin nantinya akan jadi memilih untuk memelihara kehidupan. Terus buat apa (nanti) mereka repot-repot periksa kehamilan, pergi ke dokter tiap bulan? Terus ngapain mereka (nanti) pakai susah payah mengalahkan rasa mual dan tetap minum susu dan makan makanan sehat demi demi harapan anaknya lahir sehat?

Manusia paling super hebat kacangan saya lihat waktu sedang makan malam. Ini benar-benar buat saya geleng-geleng. Pasangan suami istri – dua-duanya ngerokok habis makan keluarga. Iya, mereka bawa anak perempuan kecil. Iya, mereka ngerokok di dekat anak perempuan kecil itu. Entah mau nangis atau marah melihat ketidakpedulian mereka.

Anak-anak perempuan yang jadi perokok pasif itu kan juga punya pilihan untuk hidup sehat ya – jauh dari penyakit dan kegagalan fungsi organ-organ tubuh. Anak-anak perempuan yang jadi perokok pasif itu kan nantinya (mungkin) akan jadi ibu juga ya? Anak-anak itu perempuan. Tega. Tega.

What a hypocrite human. Susah-sudah keluar uang banyak untuk menjaga kehamilan supaya sehat, kalau sudah malah kesehatan anak dirusak sendiri. Anak sudah lahir sehat malah dibuat sakit. Wah. Apa saya yang terlalu naif ya? Menganggap semua perempuan itu (harusnya) bangga dengan kemampuan menjaga kehidupan. Mau ngerokok, ya terserah. Sama kok hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal merokok. Tapi saya pikir, mereka bisa lebih peka terhadap sekitar, terutama kalau yang disekitarnya itu anak-anak.

Saya berharap saya punya cukup keberanian untuk mendekat ke meja itu dan berkata: “sayangi anak kecil”. Saya berharap saya punya cukup keberanian untuk mendekat pada pasangan suami istri itu untuk berkata: “Kalian tidak kasihan pada anak kalian?” Sayang, saya juga tukang protes kacangan atau sebutlah idealis kacangan yang cuman berani rusuh di blog saya sendiri. Saya berharap punya keberanian kayak pemilik toko satu ini di Cempaka Mas *kali ini saya minta ijin kok waktu ngambil gambarnya*

15 thoughts on “K-A-C-A-N-G-A-N

  1. tadi di samsat srondol. padahal sudah ada ruang merokok malah kosong mlompong
    eeelhaa kok pada rokokan di luar ruangnya..

    *itu kacangan juga ya*

  2. bener sih,kayak dikantor ada aja diruangan kerja pake ac pada ngerokok, padahal jelas-jelas disampingnya ada gambar dan peringatan perda dilarang meroko..dasar kacangan !

  3. sebagai mantan perokok yang baru satu tahun berhenti…saya tidak bisa komen, karena saya juga dulu melakukan hal2 kacangan itu…dan waktu itu saya tidak perduli dengan sekitar saya, bahkan dengan anak saya..
    Kalau sekarang saya melihat mereka yang masih kacangan – seperti saya dulu- , saya hanya bisa bersyukur karena tidak seperti itu lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s