Am I a bloody feminist?


Beberapa bulan yang lalu, seorang teman sekantor memperkenalkan saya pada istilah baru, honor killing. Ken, teman saya itu – menemani saya meng-google istilah itu. Tadinya, saya bingung – kok dia bersikeras buat nemenin saja browsing. Tapi, setelah halaman-halaman situs terbuka – saya baru tahu kenapa dia begitu gigih ingin menemani saya.

Honor killing, membunuh untuk kehormatan – adalah tindakan membunuh anggota keluarga yang ditujukan untuk menjaga kehormatan keluarga karena salah satu anggota keluarga dianggap telah mencemarkan nama baik keluarganya.

Lucunya, yang kebanyakan jadi korban honor killing ini adalah: perempuan. Apa alasan keluarga mereka melakukan pembunuhan dengan alalasan kehormatan? Alasannya macam-macam: tidak berpakaian “sepantasnya perempuan”, berkencan dengan laki-laki, menolak dikawinkan (dengan paksa, atau bahasa halusnya dijodohkan), diperkosa lalu hamil, meminta cerai dari suami (karena sering dipukul atau mengalami perkosaan dalam rumah tangga), hingga karena menikahi laki-laki dari suku atau agama lain.

Cara membunuhnya bisa beragam, dari mulai dilempar batu (rajam), dibakar, ditembak, dipancung, you name it – they have it. Sebenarnya, ga semua perempuan di bunuh untuk menyelamatkan muka keluarga. Seorang gadis dari Afganistan, misalnya, hamil karena diperkosa. Ibu dan saudara laki-laki gadis itu mengeluarkan janin dalam kandungan gadis itu tanpa prosedur operasi yang pantas (menggunakan pisau cukur, dan tanpa obat bius).

Ibu menjagal anak perempuannya sendiri? Iya. Jangan kira yang melakukan honor killing hanya laki-laki. Walau pun pelaku biasanya laki-laki, tetapi banyak kok honor killing yang dilakukan oleh (kelompok) wanita terhadap seorang wanita karena dianggap mempermalukan keluarga.

Bagi saya, situasi ini menggambarkan nggak cuma laki-laki yang melakukan praktik-praktik phallogocentrism atau phallocentrism. Gampangnya sih, phallogocentrism (atau phallocentrism) adalah praktik-praktik (atau wacana) dalam hubungan sosial yang berpusat pada keyakinan bahwa laki-laki adalah pihak yang superior (karena bertitit – baca The Chance of a Coming of the Otherwoman-nya Jacques Derrida atau Writing the Body-nya Hélène Cixous), karenanya “pengikutnya” senang-senang saja dan menganggap biasa – kalau semua aturan dibuat oleh laki-laki (tentu saja, berdasarkan kepentingan laki-laki *huuuuu*) dan tanpa merasa ada yang salah – perempuan bahkan ikut cara hidup seperti itu (perempuan tapi bertingkah laki-laki – I am not talking about sort of tomboy definitions yaaaaa).

Makanya ga heran, ada perempuan yang menindas perempuan lain, karena sudah teracuni oleh nilai-nilai phallogocentrism itu. Makanya lagi, nggak heran – banyak pelaku honor killing itu juga perempuan. Lupa, bahwa perempuan itu penggendong kehidupan.

Eh, sukanya saya pada istilah itu: penggendong kehidupan. Lihat saja “takdir” perempuan: memiliki rahim untuk “menjaga” janin selama sembilan bulan, memiliki susu untuk “memberi makan” bayi, paling tidak sampai enam bulan, dan air susunya mengandung kolostrum yang memiliki nilai kebaikan seumur hidup.

Tanpa mengecilkan si penghasil sperma (yang sering diagung-agungkan itu) – menurut saya, istilah penggendong kehidupan atau penjaga kehidupan, itu lebih cocok diberikan kepada perempuan, apalagi dihitung dari lamanya masa “bertanggung jawab menjaga/membuat kehidupan” – dibanding sperma yang cuma kisaran tiga menit (lalu mati).

Saya sih bangga karena punya syarat yang bisa menjadikan saya dipanggil “si penggendong kehidupan”. Bukan berarti saya percaya pada mitos terhadap “kelayakan” bahwa perempuan yang baik HARUS punya anak. Itu kan pilihan perempuan. Saya memilih mau punya anak, karena saya bangga punya kemampuan untuk “menggendong dan menjaga kehidupan”.

Terus saya jadi heran ketika ada perempuan-perempuan yang memilih untuk tidak menjaga kehidupan pada kasus honor killing itu. Judulnya aja udah “killing” – menyudahi kehidupan. Apa hebatnya? Siapa saja bisa kok menyudahi kehidupan – ga butuh sembilan bulan penuh kasih sayang dan kehati-hatian. Sekali tebas (kalau pake pedang), langsung nyawa melayang. Huh! Nggak keren sama sekali.

Tapi, terus saya akhirnya merasa kasihan. Kasihan karena perempuan-perempuan itu sebenarnya juga korban. Dimatikan rasa … rasa apa ya? Saya takut, kalau saya memakai kata “keibuan”, nanti diprotes karena dipikir tidak berpihak pada pilihan untuk tidak jadi ibu. Tapi memang bukan perasaan keibuan sih, tepatnya.

Apa dong?

Mmhhh, mungkin yang mati adalah rasa kebanggaan menjadi seorang perempuan (yang menggendong dan menjaga kehidupan) – yang harusnya sangat menghargai kehidupan dan tindakan menjaga kehidupan. Rasanya istilah saya yang terakhir itu lebih pas. Dunia yang phallogocentrism membunuh rasa bangga menjadi perempuan, dan lebih bangga menjadi orang yang berpikir dan berlaku layaknya laki-laki.

Kenapa juga bisa, perempuan jadi ikutan cara berpikir dan hidup yang nggak keren banget itu ya? *bingung* What our womb can do, what our breasts can produce, what our breast milk can suply – are amazing and powerful, no? No such power can ever be owned by MEN. Kok bisa hidup dengan bangga (honor) – dan tentu saja merasa POWERFUL sesudah mengakhiri nyawa? *logika yang aneh*

Saya bukan marah pada ulah honor killing karena saya seorang feminis. Am I a bloody feminist? Uumm…. Jain (baca: Yain – istilah dalam bahasa Jerman untuk jawaban antara YA dan TIDAK), eh – nggak tau ding! I am a humanist, yet – yes, I am a bloody (hell) feminist.

====================================================
dan tidak berdaya: “ya PANTES kalau laki-laki marah itu terus emosi, lalu mencekik dan menendang”. *untung masih hidup*

16 thoughts on “Am I a bloody feminist?

  1. Post ini sebegitu menyentuhku sampai aku nulis tentang hal yang sama, dengan pendekatan yang berbeda tapi semangat yang sama.
    I don’t even know what to hope for. Kebenaran manusia yang dianggap absolut itu sangat, sangat, sangat mengerikan dampaknya.

  2. Wigh, ga ada warning disturbing pict ;p

    Kayaknya logis, dari kebanyakan kultur, adat, budaya, aturan, dkk bahkan agama sarat dunia laki2.
    Tinggal fleksibilitas pelaku di komunitas, termasuk gerakan feminis ini. Kadang perlu komunikasi & interaksi intensif & makan waktu. Kadang jg ga berhasil T_T

    • what???? menggoda?? neng, definisi menggoda itu gimanah? kalau ada laki2 telanjang jalan (bawahnya pake celana panjang) terus diperkosa – salah siapa, non?

  3. di indonesia yg sangat mengikuti dan mengidolakan dunia arab. Honor killing tampaknya suatu saat akan dianggap sah, apalagi jika hukum kita tetap amburadul spt sekarang ini. Pertegas hukum !!!! Ya manusia2 penjaga hukum, yang ngakunya hamba hukum, coba pertegas hukum, tanya nurani anda.

    Waniat diperkosa karena rok mini? Cukil mata anda ! bukan rok mininya yang salah. Otak anda yg salah, atau imin anda yg tdk mau dikontrol otak anda yg salah?

    PERTEGAS HUKUM, YA KEPOLISIAN !!!! ANDA DI GAJI DR UANG KAMI BUKAN DARI UANG SBY ATAU UANG PRESIDENT

    saya hanya bilang
    “STOP Honor killing, there is no honor in honor killing’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s