A-I-B


Kemarin pagi saya nonton siaran berita apa gitu di TV. Salah satu beritanya tentang pembersih sampah yang menemukan sesosok mayat janin di tempat sampah. Orang menduga ada orang yang membuang janin itu dua hari sebelumnya, soalnya warna tubuhnya sudah biru dan baunya busuk.

Kok saya mangkel banget nontonnya. Bukan berita mengenai penemuan mayat janin itu yang membuat saya sebel. Tapi cara redaksi beritanya ngomong. Masa ya, si pembaca redaksinya bilang gini: “diduga pelaku membuang bayi tersebut untuk menutupi AIBNYA”.

Aib? Aib? Aib? Kok kesannya menghakimi banget ya. *eh, iya nggak sih* Apaan sih definisinya aib. Berikut definisi aib dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online
aib 1 [a] malu : bagimu, itu adalah — yg tiada terhapuskan lagi; janganlah merasa — melakukan pekerjaan yg kasar; (2) n cela; noda; salah; keliru: jika ada — dan bebalnya, hendaklah dimaafkan

Kok menurut saya – cetek amat ya cara mereka (dan masyarakat kebanyakan kayaknya, hihihihi) mendefinisikan “melahirkan anak yang (diduga) diluar ikatan pernikahan (biasanya pake kata “resmi” pula)” sebagai sebuah AIB.

Kenapa sih redaksi acara di TV itu harus memilih menggunakan kata AIB? *marah* Sadar enggak sih, ketika acara itu menggunakan TV sebagai medianya? Sadar enggak sih potensi media massa membentuk mitos dan menciptakan realitas? Sadar nggak sih – media massa itu punya kekuatan mengajari orang tanpa sadar.

Masih ingat kan kasus Smack Down dan peniruan pada aksinya si Limbad? Bukan hanya anak-anak lho yang bisa meniru apa yang ditayangkan media massa! Orang dewasa juga sering meniru tayangan media. Ya itu tadi salah satu contohnya, meniru pilihan kata untuk menggambarkan sebuah realita yang dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Anak-anak yang meniru kedigjayaan (semu) orang-orang macam Limbad kan membuat kita mengelus dada, ya. Prihatin. Ayo dong, kita juga prihatin pada kita sendiri – yang suka meniru realitasnya media massa – seenaknya aja ngecap orang yang melakukan hal beda sebagai aib, seenaknya manggil orang yang kerja sebagai pelacur, seenaknya aja ngecap orang yang berkondisi berbeda sebagai orang cacat.

Kalau kita bisa rusuh dan khawatir mengenai gimana seorang anak bisa belajar untuk melakukan kedigjayaan macam yang dilakukan Limbad – kenapa sih, kita enggak pernah gembar gembor protes (dan khawatir) tentang gimana media massa ngajarin kita untuk gampang menghakimi orang lewat pilihan kata mereka: aib, pelacur, digagahi, cacat, perbuatan tidak bermoral (HAH! HAH!)

Enggak heran kalau akhirnya masyarakat secara nggak sadar belajar menggunakan kata AIB (dengan tidak bijaksananya). Enggak heran kalau akhirnya masyarakat jadi gampang banget menghakimi orang lain. Enggak heran kalau akhirnya siapa pun pelakunya lebih memilih untuk membiarkan anak tidak bersalah kehilangan nyawa dibanding “menanggung malu” – diberi hukuman social yang tidak pas: dibilang melakukan AIB krn melahirkan anak di luar pernikahan.

Melahirkan anak di luar nikah. Ituuuuuuuu aja yang jadi fokus. Engga dilihat perempuan tunggal yang memilih tidak mengugurkan bayi walau tanpa suami. Engga dilihat perempuan tunggal yang membesarkan anak sendiri tanpa menikah. Enggak dilihat ketulusan perempuan banting tulang kerja menghidupi anak sendirian tanpa pendamping. Pokoknya kalau hamil dan punya anak tanpa menikah adalah AIB. Apaan sih?

Terus kalau ada laki yang pergi gitu aja habis ninggalin benih – itu enggak dihitung aib. Terus kalau ada laki perempuan yang nikah – punya anak tapi sibuk sendiri membiarkan anak membeku otaknya di depan TV – itu enggak dihitung sebagai aib. Terus kalau ada laki perempuan yang nikah dan punya anak tapi membiarkan anaknya jadi tukang bullying anak lain di sekolah – itu enggak dihitung aib. Terus kalau ada laki perempuan yang nikah – punya anak tapi anaknya lebih banyak sama baby sitter – itu enggak dianggap aib. Terus kalau ada laki perempuan yang nikah – punya anak tapi anaknya suka nyontek, bohong, dan kasar sama orang lain – itu enggak dianggap aib. Terus kalau ada laki perempuan yang nikah – punya anak tapi mukulin dan benta-bentak anaknya terus – itu enggak dihitung aib.

Kasihan. Kasihan anaknya. Kasihan orang tuanya. Kasihan penonton TV.

Kasihan, orang jadi lebih takut dicap sama orang lain – apa pun capnya, dibandingkan mempertanggungjawabkan kelakuan kepada yang kuasa. Kasihan, orang lebih takut dicap sama orang lain – dibanding melimpahkan kasih sayang pada yang tak berdaya. Kasihan, orang lebih takut dicap sama orang lain – dibandingkan membiarkan kesempatan tumbuh menjadi baik *siapa tahu bayi itu kelak jadi presiden Indonesia? Who knows?*

====================================================
Honor and dishonor are the same to me; I have placed my forehead upon the Guru’s Feet. Wealth does not excite me, and misfortune does not disturb me; I have embraced love for my Lord and Master (Atharva Veda)

6 thoughts on “A-I-B

  1. hmmm…media massa kan emang lebay gitu kan…melebih2kan…semoga pemirsa/penonton sekarang lebih cerdas dan tidak menelan mentah2 semua info…

    btw….*ikut angguk-angguk*

  2. wah, kocak lagi kalo sempet nongkrong di tempat yg potensial jadi sumber berita, mbak. beberapa reporter dari tipi2 gede begitu tololnya lempar pertanyaan dan bikin drama 3 babak. sama sekali nggak ada riset sebelumnya ttg sumber yg mo diwawancara. ya pantes aja sih kadang berita aja bisa maen asumsi seenak perut reporternya. so sad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s