Ketika (panitia) Natal tidak menyayangi anak-anak


little match girl

Semalam saya datang ke misa natal bersama keluarga (dalam jumlah agak) besar. Misa natal kali ini agak khusus dan beda. Ada dua hal yang menarik perhatian saya.

Yang pertama, Gita dan kedua sepupunya – Bram dan Widya – ikutan nyanyi, gabung dengan paduan suara anak-anak. Dua puluh empat anak-anak akan nyanyi bersama paduan suara dewasa. Lucu banget ngeliat bapak-bapak dan ibu-ibu anggota paduan suara itu sibuk ‘menyesuaikan’ diri dengan anak-anak yang polos-polos – karena beberapa anak bahkan masih dibawah lima tahun.

Yang paling nggemesin dan lucu, karena masih itungan balita (BAwah LIma TAhun), mereka bahkan belum bisa membaca, tapi tetap – demi kesetaraan dan kesamaan, mungkin – mereka diberi map berisi partitur lagu-lagu misa. Map yang jadi terlihat “sangat besar” itu justru menutupi wajah-wajah mungil mereka. Hahahaha Saya geli sekali ngeliat dirigen berulang kali bilang sama anak-anak itu untuk menurunkan mapnya supaya enggak nutupin wajah *yang artinya juga nutupin suara keluar* Belum lagi ngeliat ada satu ibu yang jadi malah sibuk nyolek-nyolek anak-anak itu – ngasih tahu supaya duduk tenang dan enggak berisik *padahal, dianya sendiri jadi malah enggak konsentrasi ngikutin misa jadinya, kayak saya yang malah asik nontonin “kesibukan” seputar daerah anggota paduan suara*

Yang kedua, beberapa anggota paduan suara dewasa ternyata telah meminta pada panitia liturgi untuk menyisakan beberapa baris paling depan di dalam gereja untuk pasukan penyanyi anak-anak itu. Alasannya, jika jumlah pasukan penyanyi anak-anak itu digabung dengan jumlah anggota paduan suara dewasa maka artinya akan ada hampir lima puluh orang yang duduk di tempat yang disediakan untuk paduan suara – di sudut muka gereja, di dekat orgen. Sementara, area paduan suara itu “cukup” sempit.

Tapi yang buat saya miris, panitia natal tidak merelakan beberapa baris paling depan diberikan pada pasukan penyanyi anak-anak itu. Alasan mereka: kasihan umat lain yang tidak kebagian tempat duduk – karena quota tempat duduk untuk umat berkurang. Oh, jadi – anak-anak bukan umat ya? Baru tahu lho saya! Mau misa kok jadi malah kesel ngeliat betapa tidak sayangnya (organisasi) gereja tempat saya misa itu pada anak-anak.

Saya minta maaf untuk mengatakan ini, tapi – itu misa malam natal, lho! Juga, bahkan Yesus sendiri menempatkan anak-anak sebagai tamu yang istimewa dalam perjamuannya. Kenapa sih, panitia natal itu ga mau ngeliat pasukan penyanyi anak-anak yang (kebetulan) berseragam itu – adalah umat yang datang dan bersedia bernyanyi (lebih banyak) dengan sukarela? *pake latihan sebulan penuh sebelumnya, lagi!* Akhirnya, beberapa bangku yang awalnya sudah disediakan untuk pasukan penyanyi anak-anak itu dilepaskan, direlakan digunakan umat lain. Bangku-bangku pun diatur berdesak-desakan di area paduan suara – supaya bisa memuat hampir 50 orang anggota paduan suara – baik anak dan dewasa.

Yang lebih lucu (secara sarkasme, tentu) – beberapa kali dulu saya datang ke misa anak. Biasanya sih misa anak itu diadakan hari Minggu pagi jam 8.30 pada minggu pertama setiap bulan. Oleh panitia misa, disediakan baris-baris khusus dibagian depan untuk anak. Para pengasuh bina iman mendorong dan menemani anak-anak untuk duduk bersama teman-temannya (bukan bersama orang tua atau pengasuhnya).

Nah, selalu setiap kali misa anak – saya melihat banyak orang dewasa memaksa duduk di baris-baris khusus untuk anak-anak. Padahal, pada ujung-ujung meja sudah ditempeli kertas dengan tulisan besar-besar: KHUSUS MISA ANAK. Tapi, yang selalu saya lihat adalah panitia enggak bisa berbuat banyak ketika orang-orang dewasa merebut hak anak-anak itu *tidak setegas apa yang tadi malam saya lihat mereka lakukan pada anak-anak itu* Dan akhirnya, banyak anak yang tidak bisa duduk di baris depan. Padahal misa hari itu seharusnya jadi misa khusus, yang harusnya menjadikan anak-anak sebagai tamu istimewa *namanya juga misa anak-anak gitu lho!*

Mmmhh, enggak di dalam negara, keluarga, juga gereja – anak-anak selalu jadi warga kelas dua, ya. Saya memang bukan pengikut organisasi Katolik yang baik. Saya jarang ke gereja. Saya sudah bertahun-tahun enggak ngaku dosa. Saya sungguh bukan anggota organisasi yang baik. Saya sadar betul enggak punya kapasitas memadai untuk berkata-kata bijak. TAPI saya kesal sekali melihat bagaimana mereka memperlakukan anak-anak. Apa iya, Tuhan melihat anak sebagai warga negara dan umat kelas dua?

Ayolah, ini natal – hari kelahiran seorang ANAK – bukan ORANG DEWASA! Menurut saya, harusnya anak-anak justru jadi tamu istimewa pada setiap misa malam Natal, layaknya seorang anak mengundang teman-temannya ikut merayakan hari ulang tahunnya. Kenapa justru tamu istimewa itu dinomorduakan? Huh, masa memberikan tiga baris tempat duduk yang satu barisnya cuma bisa diisi mentok-mentok 5 orang anak aja enggak rela sih??? Natal-natal gini, kenapa juga saya jadi riwil gini ya? Hahaha

HAPPY CHRISTMAS EVERYONE!

5 thoughts on “Ketika (panitia) Natal tidak menyayangi anak-anak

  1. Di hadapan Tuhan, semuanya bak anak domba yang belum bisa tenang dan dewasa, mungkin itulah kita dengan segala pertimbangan kita🙂

    Selamat Natal Mbak Titut, dan si kecil Gita….

  2. Pingback: Tweets that mention Ketika (panitia) Natal tidak menyayangi anak-anak « Tobytall’s Blog -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s