Gegar budaya dua kali


dan mungkin jadi tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali …

Dulu sebelum ke Australia – di Jakarta dan Depok (apakah Depok itu masuk Jakarta atau bukan ya?), saya tidak terlalu takut menyeberang jalan, walaupun selalu sebelum menyeberang selalu mempersiapkan badan dan konsentrasi. Tapi, lebih nekatlah dibandingkan kakak dan ibuku dan beberapa temanku (kecuali Kiki yang kalau tiap mau nyebrang justru mendorong saya ketika ada kendaraan yang lewat. *oh, emang dia jahat*).

Biar nekat, tetap saja setiap kali ingin menyeberang jalan, saya akan berwaspada: tengok kiri dan kanan dan kiri dan kanan dan kiri dan kanan sebelum mengukur jarak kendaraan yang akan lewat dengan ketepatan waktu menyeberang lebar jalan. Artinya, saya akan berdiri di tepi jalan selama beberapa detik atau menit.

Nah, ketika saya datang ke Australia saya mengalami gegar budaya dalam hal menyebrang jalan. Ada beberapa sih, yang pertama – saya jadi selalu menempatkan diri di dekat lampu merah setiap akan menyeberang jalan. Di tiang lampu merah ada tombol yang harus ditekan kalau kita mau menyeberang jalan (jujur, saya ga tau fungsi tombol itu apa. Karena tanpa menekan tombol pun, lampu hijau akan berubah jadi merah – tanda penyeberang jalan sudah mulai beraksi). Jadi, saya selalu berdiri di sekitar tiang lampu merah, menekan tombol, dan menunggu lampu hijau berubah jadi merah, baru menyeberang. Saya merasa bersalah sekali kalau menyeberang jalan di sembarang tempat yang tidak ada tiang tombol itu.

Yang kedua berurusan dengan zebra cross. Pertama kali saya menyeberang jalan di zebra cross, seperti biasa saya bersiap-siap. Berdiri di pinggir jalan – menunggu kesempatan untuk pindah tempat ke seberang jalan. Tapi saya kaget dan bingung (sempat black out beberapa detik) ketika semua mobil tiba-tiba berhenti: “Ha? Kok mobil-mobil berhenti?”. Untung saya cepat sadar, kalau mereka berhenti karena saya berdiri dipinggir jalan di depan zebra cross. Saya cepat-cepat menyeberang.

Sekarang, saya sedang ada di Indonesia untuk beberapa minggu. Ternyata kegiatan menyeberang jalan adalah salah satu kegiatan tetap saya tidak perduli di mana saja. Aksi menyeberang jalan yang pertama kali saya lakukan di Indonesia itu di depan Terminal Rawamangun. Saya sudah siap berdiri di dekat salah satu tiang lampu merah – lalu bingung: “Mana ya tombol untuk menyeberang?” hahahaha baru sadar kalau saya sudah kembali ke Indonesia. Waduh, pikun.

Sama, waktu saya mau menyeberang zebra cross di Bali. Saya main nyeberang saja – karena berasumsi mobil-mobil dan motor-motor itu akan langsung berhenti ketika saya menapakan kaki pertama di atas zebra cross. Asumsi yang terlalu cepat. Motor dan mobil itu tidak perduli, lho. Jelas-jelas ada zebra cross. Jelas-jelas ada manusia yang mau menyeberang. Sepertinya menghemat waktu beberapa menit lebih penting dibanding keselamatan nyawa orang lain.

Sisi baiknya adalah – saya semakin terampil mengukur kesempatan: kapan saat yang paling baik menyeberang dengan jarak kedatangan mobil/motor dan jarak lebar jalan yang mau diseberangi.

Dan saya pasti akan mengalami gegar budaya menyeberang lagi nanti. Hahaha

One thought on “Gegar budaya dua kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s