Membaca Dongeng Klasik dari Sudut Pandang Teori Feminis Liberal


Pendahuluan
Sampai sekarang minat akan dongeng tidak pernah surut. Beberapa dongeng klasik malah terus bertahan dan menjadi abadi sepanjang masa, seperti Snow-White, Cinderella, Sleeping Beauty, Beauty and The Beast, The Little Mermaid, dan Little Red Ridding Hood. Dongeng-dongeng klasik itu diceritakan berulang-ulang dan di kemas dalam berbagai versi. Snow-White yang ditulis Grimm Bersaudara pada tahun 1898, misalnya, memiliki lebih dari 30 versi. Sementara Cinderella karya asli dari Charles Perrault memiliki lebih dari 80 versi.

Dongeng-dongeng klasik yang menjadi populer biasanya memiliki seorang tokoh perempuan sebagai tokoh utamanya. Tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng-dongeng klasik dapat dibagi menjadi dua kategori (www.ocf.berkeley.edu/~wadam/html/article.php3?sid=25). Kategori pertama adalah tokoh perempuan yang mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya, lalu diselamatkan oleh seorang laki-laki. Pada kategori yang pertama ini tokoh perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan patuh. Sementara pada kategori yang kedua tokoh perempuan digambarkan sebagai sosok yang mandiri, yang dapat menyelesaikan sendiri masalahnya dengan menundukkan musuhnya, dan bahkan melakukan tindakan penyelamatan bagi dirinya, anaknya atau keluarganya.

Banyak pendapat mengenai tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng-dongeng klasik itu–ada pendapat yang bernada negatif (berupa kritik) dan ada pendapat yang bernada positif. Ada beberapa kritik yang sering diberikan pada dongeng-dongeng klasik (www.gwu.edu.folktale/germ232/bearskin/feminist.html). Marcia K. Lieberman dan Karen Rowe melihat dongeng sebagai sumber mimpi, harapan dan fantasi bagi anak-anak perempuan. Dalam “Some Day My Prince Will Come: Female Acculturation through the Fairy Tale” Marcia K. Lieberman mengatakan dongeng menyajikan sosok perempuan yang pasif, patuh, dan tidak berdaya. Perempuan dalam dongeng hanya akan menemukan kebahagiaan melalui pernikahan.

Lieberman berpendapat dongeng akan melanggengkan pemikiran yang salah mengenai peran perempuan dalam masyarakat. Kritik ini berdasar pada asumsi bahwa secara kodrati perempuan terpisah dari laki-laki yang memiliki kodrat untuk menjadi pihak yang superior. Gambaran mengenai sosok perempuan yang pasif, patuh, dan tidak berdaya itu diperkuat melalui cerita-cerita penyelamatan oleh pahlawan laki-laki.
Pendapat Lieberman tersebut didukung oleh Kay F. Stone, yang dalam “Feminist Approach to the Interpretation of Fairy Tales” mengatakan bahwa dongeng dapat menjadi agen sosialisasi yang menyurutkan kesadaran perempuan akan potensi positifnya sebagai manusia. Asumsi yang mendasari kritik ini adalah bahwa perempuan berbeda dan tidak sederajat dengan laki-laki.

Tidak semua kaum feminis memberikan kritik terhadap penokohan perempuan dalam dongeng-dongeng klasik itu. Bagi beberapa feminis, tokoh-tokoh perempuan dalam dongeng klasik adalah pahlawan perempuan. Bagi mereka, femininitas perempuan justru merupakan senjata dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Mereka berpendapat cara perempuan untuk menjadi pahlawan berbeda dengan cara laki-laki untuk menjadi pahlawan.

The American Heritage Dictionary, misalnya mengatakan bahwa yang disebut dengan pahlawan perempuan adalah perempuan yang memiliki keberanian dan melakukan aksi yang menantang (www.studenweb.tulane.edu/~twhitney/sarah.doc). Karena alasan itu pula, Sarah Wallace mengatakan martir dapat dikategorikan sebagai pahlawan perempuan karena mereka membiarkan bagian tubuhnya dihancurkan atau dipotong karena sebab tertentu. Tindakan martir itu menunjukkan keberanian dan keteguhan hatinya.

Dengan definisi pahlawan perempuan itu, tokoh Belle dalam Beauty and The Beast misalnya, dapat dikategorikan sebagai pahlawan, karena ia memiliki keberanian untuk tinggal bersama the Beast, dan berani menerima cinta The Beast yang masih memiliki bentuk menyeramkan. Sementara Ariel dalam The Little Mermaid, dapat pula dikategorikan sebagai pahlawan, karena ia merelakan suaranya untuk mendapatkan kesempatan mejelajah dunia luar.

Permasalahan
Dengan melihat adanya sikap pro dan kontra dari kaum feminis kepada penokohan perempuan dalam dongeng-dongeng klasik, apakah hal tersebut merupakan tanda bahwa mereka ada pada posisi yang berseberangan? Kalau begitu, bagaimana dengan nilai-nilai feminism yang mereka perjuangkan? Apakah juga kaum feminis itu memperjuangkan nilai-nilai feminism yang berbeda? Saya akan mencoba membahas permasalahan ini dari sudut pandang teori feminis liberal.

Pengetahuan Laki-laki tentang Perempuan
Bisa dikatakan ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini lebih condong pada laki-laki sebagai pusatnya. Ilmu pengetahuan mengacu pada apa yang diketahui oleh umum, dapat dibuktikan, struktur realitas yang objektif (seperti ilmu matematika), fakta, informasi, pencerahan, menitikberatkan pada subjek, peralihan dari gelap dan ketidaktahuan ke terang dan kebenaran (Wilshire, 1989:93).

Ilmu pengetahuan semacam itu berasal dari pemikiran para filsuf Yunani yang hidup kira-kira enam abad sebelum masehi. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin mantap dengan munculnya pemikiran Plato mengenai filsafat dualisme, yaitu pemikiran bahwa dunia terpisah dalam dua bagian (Berman, 1989:232), yaitu jiwa (soul) dengan tubuh (body). Bagi Plato jiwa bersifat nonmaterial, abadi dan tidak dapat berubah, sementara tubuh bersifat sementara, tidak tetap dan materi tiruan dari dunia yang lain. Kondisi jiwa dan tubuh ini telah ditetapkan sebagai nilai manusia yang melekat dan menentukan tingkatan sosial secara alamiah.

Plato berpendapat bahwa jiwa bersifat superior dan berkuasa karena itu jiwa memiliki kapasitas untuk menghasilkan segala sesuatu yang baik/sempurna, indah dan rasional. Sementara tubuh bersifat inferior yang tidak memiliki kemampuan rasional seperti yang dimiliki oleh jiwa. Bagi Plato, women had the recycled souls of inferior, cowardly men [perempuan memiliki jiwa daur ulang laki-laki: inferior dan lemah] (Berman, 1989:233).

Pemikiran Plato itu kemudian dikembangkan muridnya, Aristoteles (Berman, 1989:232-233). Aristoteles menyatakan bahwa filsafat dualisme itu bersifat absolut, yaitu sesuatu yang ideal, alasan pemisahan yang baik, layak dan menjadi syarat untuk segala hal. Filsafat dualisme itu juga merupakan bentuk ideal dan menjadi karakteristik tetap dari setiap substansi. Filsafat dualisme yang dikembangkan oleh Aristoles dianggap sebagai sesuatu yang ideal dan alamiah dan menjadi perintis dan akar dari ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini.

Aristoteles juga menaruh perhatian yang besar pada perempuan sebagai ibu. Bagi Aristoteles, perempuan yang sedang mengandung adalah pemelihara tubuhnya, namun harus menjaga pikirannya untuk tetap tenang. Karena bagi Aristoteles, inferioritas pada perempuan bersifat alamiah. Hal tersebut yang membedakan perempuan dengan laki-laki, di mana jiwa perempuan tidak serasional jiwa laki-laki, namun merupakan nafsu dan gairah semata. Perbedaan rasionalitas di antara keduanya menyebabkan berbagai perbedaan perilaku di antara laki-laki dan perempuan.

Aristoteles mengakui kalau perempuan memiliki rasa kasih sayang yang lebih besar dibandingkan laki-laki, namun pada saat yang bersamaan, perempuan juga lebih mudah untuk iri hati, untuk berselisih, cenderung untuk bersedih, untuk merasa malu dan seperangkat ciri-ciri negatif lainnya. Sementara laki-laki memiliki sifat yang berani dan memiliki sifat penolong, karena itu laki-laki selalu siap menolong perempuan, namun perempuan malahan melarikan diri ketika laki-laki membutuhkan pertolongannya.

Dari ciri-ciri itu, Aristoteles menyimpulkan bahwa laki-laki memiliki kekuasaan karena mampu berpikir, memiliki sifat rasional, dan tidak mengandung (bagi Aristoteles, mengandung adalah kelemahan yang mengurangi rasionalitas seseorang), sementara perempuan yang tidak rasional memiliki kegunaan untuk melayani. Aristotels mengatakan, pengetahuan yang berasal dari akal sehat adalah pencapaian tertinggi manusia yang hanya dapat diraih oleh laki-laki. Sehingga pantaslah apabila laki-laki – yang menurutnya lebih aktif dan lebih mampu dalam mencapai rasionalitas – disebut mahluk superior yang agung (Wilshire, 1989:93).

Sementara bagi Aristotelese perempuan adalah “monster” karena menyimpang dari jenis manusia yang biasanya. Aristoteles menyebut perempuan “mutilated males”, emosional, pasif, dan terperangkap dalam fungsi tubuhnya. Ciri-ciri yang dimiliki perempuan itu menjadikan perempuan sebagai mahluk yang rendah, yang lebih menyerupai hewan dibandingkan manusia.

Pemikiran dualisme Aristoteles mengenai jiwa dan tubuh, pada akhirnya melahirkan dualisme yang memandang segala sesuatu berada dalam dua polar yang saling bertentangan, di mana hal yang satu berada lebih tinggi dibanding yang lain:

“one side rules over the other; for him soul rules over body, reason over emotion, male over female, and so on”

Teori terus berkembang dengan kecenderungan memantulkan gambaran maskulin. Para ilmuwan banyak yang meneruskan pemikiran yang berpola seperti Aristoteles. René Descartes, misalnya, menyatakan bahwa rasionalitas bersifat objektif (Berman, 1989:235). Hanya dengan sifat objektif inilah kebenaran dapat ditemukan, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat, atau halangan yang bersifat fisik lainnya. Menurut Descartes sifat objektif ini hanya ada pada jiwa yang bersifat abadi, sementara materi – lawan dari jiwa–tidak bersifat abadi dan dapat binasa.

Dalam bahasa yang sederhana, sesuatu yang dapat disebut sebagai pengetahuan bila definisi tentang sesuatu dihasilkan dari pemikiran yang logis; objek yang dapat dipelajari melalui metode pengamatan dan deskripsi; pernyataan yang dapat dibuktikan dengan penelitian yang berulang-ulang; atau hukum mengenai keberaturan yang dapat diuji nilai-nilai kebenarannya (Farganis, 1989:208). Menurut Farganis, ilmu pengetahuan itu lalu digunakan untuk melegitimasi sikap dominasi terhadap alam, kelas, dan jender (1989:210). Dengan demikian ilmu pengatahuan menjadi sebuah wacana yang memiliki otoritas terhadap apapun.

Karena itu, Wilshire mengatakan, setiap ilmu pengetahuan selalu mencerminkan kepentingan apa yang ada dibelakangnya, karena ilmu pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan – di mana dari kekuasaan itulah ilmu pengetahuan dibangun.

Teori Feminis Liberal mengenai The Feminine Mystique
Menurut saya, bagaimana ilmu pengetahuan laki-laki telah memerangkap perempuan digambarkan dengan sempurna dalam The Feminine Mistique karya Betty Friedan (1984). Fridan menceritakan bagaimana di pertengahan abad 20, hampir seluruh media berteriak-teriak pada perempuan bahwa mereka dapat pencapaian kepuasan mereka hanya dapat dipenuhi dengan melaksanakan peran sebagai istri dan ibu, yang disebut Friedan dengan feminine mystique (1984:15-18).
Saat itu, media dengan gencar menyerukan keinginan perempuan yang dikutip dari pemikiran Freud bahwa hasrat terbesar perempuan adalah memenuhi panggilan kodrat femininitasnya. Para ahli juga tidak mau kalah, mereka memberikan tips-tips pada perempuan tentang bagaimana cara mendapatkan seorang laki-laki, menjaganya, dan tidak ketinggalan cara merawat anak-anak. Selain itu mereka juga mengajarkan bagaimana cara perempuan harus menghadapi saingan mereka dan menyikapi anak remaja yang memberontak. Tidak ketinggalan, perempuan diajarkan untuk membeli pencuci piring, memanggang roti, memasak, dan membangun kolam renang.

Perempuan juga mendapat tips untuk diri mereka sendiri: bagaimana cara berbusana yang baik, bagaimana agar terlihat dan bersikap feminin sehingga membuat perkawinan menjadi lebih bahagia; bagaimana menjaga kesehatan suami dan pertumbuhan anak-anak.
Pada periode itu, perempuan diajarkan untuk mengasihani perempuan lain yang menderita gangguan emosi, tidak feminin, termasuk para perempuan yang (dianggap) tidak bahagia karena keinginannya untuk menjadi seniman, dokter, dan presiden. Pada saat itu mereka diyakinkan bahwa perempuan yang feminin tidak menginginkan karier, atau pendidikan yang tinggi, atau hak politik, termasuk kebebasan dan kesempatan dalam bidang lain. Mereka belajar bahwa yang harus mereka lakukan hanyalah untuk dari awal masa gadis mengabadikan hidup untuk mencari seorang suami dan melahirkan anak-anak.

Gambaran perempuan yang sehat, cantik, berpendidikan, penuh perhatian pada suami, anak-anak dan rumahnya menjadi gambaran ideal yang diinginkan perempuan pada masa itu. Perempuan yang menjadi seorang ibu rumah tangga dan ibu pada saat itu sangat dihormati sebagai rekan yang sejajar dengan laki-laki. Karena itu ia dibebaskan memilih kendaraan, pakaian, alat-alat rumah tangga, dan tempat ke mana ia akan belanja. Perempuan yang seperti itu dianggap telah memiliki segala sesuatu yang diinginkan oleh semua perempuan di dunia.

Hingga di akhir tahun 1950 Friedan menemukan bagaimana perempuan-perempuan mulai merasakan mereka memiliki masalah yang sama. Masalah itu bukan mengenai suami atau anak-anak atau rumahnya, mereka bahkan tidak mengetahui mengenai apa sebenarnya masalah itu. Seorang dokter dari Claveland menyebut perasaan itu “the housewife’s syndrome” (Friedan, 1984:20). Seorang ibu rumah tangga, misalnya, mengatakan:
I begin to feel I have no personality. I’m a server of food and a putter-on of pants and a bedmaker, somebody who can be called on when you want something. But who I am? [saya mulai merasakan tidak memiliki kepribadian. Saya hanya pengurus makanan dan pencuci pakaian dan tempat tidur, seseorang yang dapat dipanggil ketika engkau menginginkan sesuatu. Tetapi, siapakah saya?]

Fenomena ‘the problem that has no name’ (begitu Friedan menyebutnya) terus melanda ibu rumah tangga di Amerika hingga awal tahun 1960 (Friedan, 1984:22). Namun, tak ada satupun tanggapan serius yang diberikan oleh orang-orang yang telah meneriakkan kemegahan femininitas perempuan di awal tahun 1950-an. Orang-orang itu mengira, masalah itu akan menghilang sendirinya dengan menggiring perempuan kembali ke ‘kandang’:
The problem was dismissed by telling the housewife she doesn’t realize how lucky she is – her own boss, no time clock, no junior executive gunning for her job. What if she isn’t happy – does she think men are happy in this world? Does she really, secretly, still want to be a man? Doesn’t she know yet how lucky she is to be a woman? (Friedan, 1984:24). [masalah dilenyapkan dengan mengatakan kepada ibu rumah tangga mereka tidak menyadari betapa mujur dirinya – bos bagi diri sendiri, tanpa waktu, tanpa atasan yang menagih tenggat? Bagaimana mereka tidak bahagia? – apakah mereka (perempuan) pikir laki-laki hidupnya bahagia? Apakah ia (perempuan) diam-diam masih ingin menjadi seorang laki-laki? Apakah ia (perempuan) tidak tahu betapa beruntungnya menjadi seorang perempuan?]

Namun apakah masalah perempuan itu terselesaikan? Ya dan tidak. Karena kenyataannya penyelesaian masalah yang ditawarkan oleh masyarakat bersifat semu. Sehingga akhirnya masyarakat mulai mencari kambing hitam, mereka mengatakan bahwa pendidikan, kebebasan dan persamaan dengan laki-laki yang membuat perempuan menjadi tidak feminin lagi. Menurut masyarakat itulah yang menjadi sumber masalah perempuan.

Apa yang dikatakan oleh masyarakat ini melekat dengan begitu eratnya di dalam pikiran para perempuan di jaman itu. Misalnya saja, banyak di antara perempuan itu yang memiliki kesempatan bagus di bidang pendidikan dan pekerjaan. Namun, banyak pula di antara mereka yang pada akhirnya meninggalkan kesempatan itu karena merasa kehidupan rumah tangga merupakan panggilan hidup mereka. Mereka masih percaya bahwa menikahi seorang laki-laki dan memiliki anak adalah hal yang lebih membahagiakan ketimbang pendidikan dan pekerjaan. Anehnya, setelah menikah, para perempuan itu memiliki masalah yang sama, yang tidak mereka ketahui namanya. Namun kondisi tidak juga pernah berubah.

Menurut Betty Friedan, masalah perempuan itu berakar dari adanya feminine mystique (1984:71). Karena feminine mystique mendorong perempuan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri perempuan mengenai identitasnya:
The mystiques says they can answer the question, “Who am I?” by saying “Tom’s wife … Mary’s Mother.”

Feminine mystique menjadikan perempuan tidak mampu untuk melihat keberadaan dirinya yang sesungguhnya. Kondisi ini tidak hanya menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki identitas, namun juga menunjukkan perempuan tidak memiliki hak apapun, bahkan terhadap dirinya sendiri:
“The tragedy was, nobody ever looked us in the eye and said you have to decide what you want to do with your life, besides being your husband’s wife and children’s mother”

Ternyata kondisi yang disebabkan oleh feminine mystique amat mempengaruhi generasi selanjutnya. Banyak anak-anak perempuan yang mengambil pelajaran dari pengalaman ibunya – akibatnya generasi perempuan setelah itu terbagi menjadi dua (Friedan, 1984:75-77). Kelompok pertama adalah para gadis yang memutuskan untuk masuk ke dalam lembaga pendidikan formal.
Dalam pendidikan, para gadis menemukan bahwa mereka memiliki kesempatan dan kebebasan yang sama dengan laki-laki. Namun, di sekolah para gadis itu mengalami krisis identitas. Menurut para ahli, krisis identitas itu disebabkan sekolah tidak mempersiapkan para gadis mengenai peran mereka sebagai perempuan.

Krisis identitas ini tidak terjadi pada kelompok kedua. Kelompok kedua terdiri dari para gadis yang menikah muda. Karena mereka berpendapat, mereka tidak perlu repot-repot membuat rencana masa depan dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Yang harus mereka lakukan adalah hanya menunggu dipilih, hingga akhirnya seorang suami, anak-anak dan rumahnya memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Walaupun para gadis dari kelompok ini tidak mengalami krisis identitas, namun justru merekalah yang di masa pernikahan mengalami masalah yang tidak memiliki nama itu.
Kondisi itu menunjukkan bahwa feminine mystic sangat melekat didalam pikiran para gadis itu. Dalam hal ini, majalah, televisi, film dan buku memegang peranan penting dalam mempopulerkannya, sementara orang tua, guru dan pengawas yang berpihak pada feminine mystic adalah pihak yang menjadi agen sosialisasi yang ampuh.

Posisi perempuan yang serba salah itu menurut saya membuktikan ketidakrelaan dunia patriarki untuk membiarkan perempuan memiliki atau mengetahui identitas mereka. Karena itu, Friedan mengatakan bahwa perempuan harus mendengarkan suara hatinya untuk menemukan identitas mereka (1984:338). Untuk itu, perempuan harus membuktikan bahwa mereka adalah manusia, dan bukan mahluk pasif, cermin kosong, bukan hanya berfungsi sebagai hiasan, bukan binatang yang tidak memiliki pemikiran, bukan benda yang dapat diatur oleh orang lain, tidak mampu menyuarakan eksistensi dirinya sendiri (Friedan, 1984:81).

Bagi Friedan, perempuan dapat menemukan identitasnya sendiri apabila mereka dapat menggunakan seluruh kemampuan mereka di dalam masyarakat, dan menemukan sendiri eksistensi dirinya tanpa harus meninggalkan rumah, anak-anak, cinta, dan seksulitasnya (1984:380).
Sejauh ini, saya merasa pemikiran Friedan dalam The Feminine Mystique, merupakan jalan keluar yang sangat bagus bagi keberadaan perempuan. Saya tidak akan membicarakan kesimpulan Friedan mengenai bagaimana seharusnya perempuan hidup dalam masyarakat yang patriarki. Masalahnya sekarang, bagaimana cara memasukkan suara perempuan dalam dunia yang patriarki ini?

Ilmu Pengetahuan dalam Pandangan PerempuanSeorang perempuan berkata demikian, “I’ve never had a personality. I’ve always been someone’s daughter, someone’s wife, someone’s mother. Right now I’m so busy being born, discovering who I am, that I don’t know who I am” (Belenky, 1986:82). Mungkin bagi beberapa orang, perkataan perempuan ini hanya merupakan curahan hati yang tidak beralasan. Mungkin bagi mereka perempuan itu tidak seharusnya mengeluh karena menjadi anak, istri, dan ibu adalah hal yang paling mulia yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan.
Namun, apabila kita mau berusaha untuk lebih peka sedikit, perkataan perempuan itu merupakan suatu gambaran tentang dunia ini, yaitu dunia yang diciptakan dari apa yang dikatakan laki-laki. Perkataan tersebut sekaligus menjadi petunjuk bagaimana posisi perempuan selama ini di dalam masyarakat. Perempuan tidak pernah tahu apapun, karena tidak ada satupun yang ada dunia ini yang tidak dibuat oleh laki-laki–baik pemikiran, bahasa, kata-kata, bahkan diri perempuan sendiri (Leclerc, 1999:436).

Kaum feminis mengajak kita untuk mempertanyakan rasionalitas yang disebut-sebut bersifat fungsional, efisien, dan berguna, karena dengan standard itulah Nazism dan perang nuklir terjadi. Namun kenyataannya objektifitas dan aturan moral yang seharusnya mengatur kehidupan manusia itu justru telah diabaikan dengan adanya standard realitas yang seperti itu.

Karena itu, kaum feminis merasa perempuan seharusnya berupaya menemukan ilmu pengetahuan yang juga berpihak pada dirinya, di mana mereka menjadi bagian dari ilmu pengetahuan. Hal itu perlu dilakukan mengingat selama ini pengalaman perempuan sebagai individu dan mahluk sosial dalam bidang pekerjaan, kebudayaan, pengetahuan, sejarah dan politik secara sistematis telah dikeluarkan dan disalahartikan oleh wacana patriarki. Dalam wacana itu apa yang dilakukan oleh perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap dan inferior dari laki-laki (Narayan, 1989:256).

Bagi Farganis, tantangan terbesar kaum feminis dalam membangun ilmu pengetahuan bukanlah pembuktian bahwa perempuan dapat berpikir dengan cara yang sama seperti laki-laki (1989:207-208). Melainkan menunjukan bahwa perempuan menjalankan ilmu pengetahuan secara berbeda. Ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui metodologi, perangkat, cara pandang, dan pemahaman yang berbeda mengenai dunia di sekitar mereka.

Menurut Wilshire, cara perempuan untuk memandang sesuatu membutuhkan kesadaran tertentu, yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Kesadaran untuk melihat tidak hanya fokus ke satu titik, melainkan pandangan yang meluas dan mengabur.
Called ‘splatter vision’ by trackers, this is and essential skill in the wilds where one must constantly be alert and guard one’s safety by attending to the entire surroundings, not focusing even on the place where one will step (1992:98).

Menurut saya, kesadaran semacam inilah yang menyebabkan perempuan terbiasa melihat segalanya secara kontekstual. Perempuan tidak pernah memulai sesuatu dengan sebuah justifikasi atau rumus, melainkan:
She waits uninflated, without ego, without control – content to be in ignorance for an unspecified time, willing to be not-knowing until the elusive essential pattern appear in their own good time. (Wilshire, 1992:99).

Itu sebabnya, bagi kaum feminis tidak pernah menjustifikasi ilmu pengetahun, karena bagi mereka ilmu pengetahuan bersifat kontekstual. Kaum feminis mempercayai bahwa kehidupan seseorang adalah hasil dari sosialisasi (Farganis, 1989:208) dan segala bentuk interaksi dengan realitas berhubungan dengan wacana yang terbentuk secara historis (Code, 1998:183) sehingga munculnya perbedaan atau kontradiksi bukan merupakan hal yang aneh.

Kaum feminis ingin menekankan bahwa ilmu pengetahuan adalah karya manusia yang tidak bisa terlepas dari kebudayaan setempat (Farganis, 1989:216). Rose mengatakan Ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari pikiran dan hati dan tangan dari orang-orang yang membangun ilmu pengetahuan itu, sehingga sebenarnya tidak ada yang disebut ilmu pengetahuan murni, melainkan kontekstual. Dengan kata lain, kaum feminis menolak apa yang disebut “epistemological distancing”.

Kaum feminis mengadopsi tehnik yang kreatif dan inovatif dalam membangun ilmu pengetahuan, bukan hanya ilmu pengetahuan yang hanya memiliki tujuan akhir filosofis. Dalam pandangan feminisme, ilmu pengetahuan berkembang menjadi proyek interdisipliner dan antardisipliner, di mana cara kerja dan penjelasan ilmu pengetahuan tidak dibatasi pada subyek yang selalu menerangkan predikat (S-know-that-p). Ilmu pengetahuan yang dikembangkan kaum feminism selalu mengacu pada semangat lokal, di mana pengamatan dan penanganan yang spesifik pada hukum, pertimbangan moral, pengetahuan sosial, dan pembuatan kebijakan yang ada di area lokal tersebut (Code, 1998:183).

Selain percaya bahwa ilmu pengetahuan bersifat kontekstual, kaum feminis juga yakin bahwa yang disebut ilmu pengetahuan bukan hanya seperangkat argumen, melainkan juga merefleksikan minat (Farganis, 1989:209). Seperti yang dikatakan oleh Jürgen Habermas, bahwa yang disebut dengan ilmu pengetahuan bisa saja merupakan tehnik untuk membantu kita mencapai tujuan tertentu, atau cara tertentu yang dapat memuaskan rasa keingintahuan kita dalam memahami sesuatu, atau bahasa yang digunakan untuk membangun sebuah ralitas sosial.
Ilmu pengetahuan semacam itu berbeda dari idealisme ilmu pengetahuan umum yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dapat dipisahkan dari waktu dan ruang. Di mana untuk waktu dan ruang apapun, ilmu pengetahuan telah ditetapkan oleh jender seseorang, sehingga jender kita akan menentukan pola pikir dan kedudukan kita dalam ilmu pengetahuan itu (Farganis, 1989:207).

Dengan pertimbangan ini, ilmu pengetahuan feminis berusaha merombak model ilmu pengetahuan yang maskulin dan membangun baru yang sesuai dengan nilai-nilai feminisme, yang telah dijadikan sebagai ciri-ciri perempuan (Farganis, 1989:216). Hillary Rose menyatakan bahwa perempuan secara tradisional terlibat dalam pekerjaan yang memungkinkan mereka untuk merasakan dan mempedulikan apa yang mereka ciptakan. Kondisi ini berbeda dengan cara kerja laki-laki yang bersifat mekanis (Farganis, 1989:212).

Sehingga kalau selama ini ilmu pengetahuan yang dibangun oleh dunia laki-laki dijauhkan dari emosi dan hanya mementingkan rasional saja, kaum feminis justru bertujuan untuk memasukkan kekayaan sejarah perempuan, termasuk nilai-nilai dan emosi perempuan. Dengan demikian gambaran ilmu pengatahuan sebagai sesuatu yang abstrak, rasional, dan universal dapat dikurangi (Narayan, 1992:257).
Dengan melihat ilmu pengetahuan sebagai sebuah wacana atau sebagai cara untuk menggambarkan dunia, maka kaum feminis dapat mendekonstruksi hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lalu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai otoritasnya, seperti yang telah dilakukan oleh wacana ilmiah lainnya (Farganis, 1989:14).

Ada Apa Dengan Dongeng Klasik?
Banyak pendapat dari kaum feminis yang diberikan pada dongeng-dongeng klasik. Ada dua pertanyaan yang bisa diajukan: “Ada apa dengan kaum feminis?” dan “Ada apa dengan dongeng klasik?”. Untuk menjawab pertanyaan pertama, hal yang paling penting adalah memahami cara pandang perempuan.

Bagi perempuan, dongeng klasik bukan hanya sekedar dongeng yang berguna untuk menghibur. Dongeng klasik bukan hanya pengisi waktu luang atau penghantar tidur anak-anak. Perempuan menyadari bahwa dongeng klasik bisa dikategorikan sebagai pengetahuan. Karena bagi perempuan, yang disebut dengan ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang merefleksikan minat seseorang. Minat anak-anak terhadap dongeng klasik adalah sarana mereka untuk memperoleh pengetahuan dari dongeng itu.

Sementara, di lain pihak, perempuan sangat menyadari bahwa tidak ada yang disebut dengan ilmu pengetahuan murni, yang bisa lepas dari kebudayaan setempat. Perempuan percaya, setiap ilmu pengetahuan merupakan hasil interaksi dengan budaya setempat dan dengan pihak-pihak yang membangun kebudayaan itu, seperti yang dikatakan oleh Dona Wilshire:
“All the ‘whats’ described by science and philosophy, all of those supposedly objective truths, have been determined by the point of view, the world view, the pattern through which the observer has been looking. Every human carries within her or him the the pattern through which she or he sees the world; the pattern – the describer’s (subjective) world view – will always be inseparable from “what-is-seen.” (1989:104).

Yang perlu dipertanyakan adalah ilmu pengetahuan macam apa yang mendominasi wacana kita sekarang ini? Suka atau tidak suka, sepertinya kita masih harus mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini adalah ilmu pengetahuan yang telah bertahan sejak 2500 tahun yang lalu, yang dibangun oleh filsuf seperti Plato dan Aristoteles.

Ilmu pengetahuan itu mengajarkan pada kita tentang dualisme nilai, misalnya laki-laki adalah mahluk yang rasional, sementara perempuan adalah mahluk yang emosional. Dualisme nilai itu lalu disusun ke dalam peringkat-peringkat, sehingga laki-laki ada di tempat yang superior sementara perempuan ada di tempat yang inferior. Karena itu, perempuan hanya dapat menjadi pengikut dan pelayan dan tidak mampu menjadi pemimpin.

Pemikiran Aristoteles ini sangat mempengaruhi tatanan pemikiran dan sosial dalam masyarakat sehingga mampu mengasingkan perempuan ke wilayah domestik, di mana sebagai pihak yang inferior, tugas utama perempuan adalah untuk melayani pihak yang superior atau laki-laki.
Hal yang ironis adalah, ketika laki-laki mengetahui bagaimanapun rendahnya perempuan di mata mereka, laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan. Mereka tetap membutuhkan perempuan untuk melangsungkan kehidupan mereka. Kasarnya, mereka membutuhkan tubuh perempuan untuk menaruh benih. Ironis, karena sebagai mahluk yang superior mereka tidak memiliki rahim untuk membesarkan benih mereka sendiri. Karena itulah, pada akhirnya mereka memutuskan untuk meromantisasi femeninitas perempuan.

Inilah kedok yang dipakai laki-laki: rangkaian kata-kata indah, berbagai hadiah yang terdiri dari benda-benda mewah, membiarkan perempuan memiliki kebebasan dalam memenuhi kebutuhan yang mendukung femininitasnya, dan banyak mimpi indah lainnya. Untuk apa kedok ini? Untuk menggiring perempuan ke tempat di mana mereka tidak bisa melihat bakat alamiahnya, melainkan meyakini semua kebohongan yang diciptakan laki-laki adalah benar adanya.

Perempuan pada akhirnya terus mengalami krisis identitas dan atau masalah yang tidak bisa mereka sebut namanya. Menurut saya, hal itu terjadi karena perempuan selalu menghubungkan antara fakta obyektif dengan realitas yang ada. Di satu sisi, masyarakat yang patriarki terus meromantisasi femininitas perempuan. Dengan tujuan untuk memanipulasi, mereka berusaha meyakinkan, bahwa mereka telah menyediakan tempat terbaik bagi perempuan, yaitu di area domestik.
Sementara perempuan mengalami realitas bahwa mereka pun bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki, bahkan banyak perempuan yang bisa memperoleh hasil yang lebih baik dari laki-laki–dan sebagian perempuan menyenangi hal itu. Lalu apa yang terjadi ketika perempuan ingin hidup di wilayah-wilayah yang biasa ditempati laki-laki? Masyarakat terus meyakinkan bahwa perempuan tidak mampu bertahan di wilayah itu. Karena setiap jenis kelamin telah memiliki wilayahnya masing-masing.

Lalu, ada apa dengan dongeng klasik? Menurut saya, dongeng klasik mengundang banyak pendapat karena dongeng-dongeng itu menyajikan sepotong kehidupan perempuan, yang dituliskan dalam beberapa lembar kertas atau dalam film yang berdurasi 120 menit. Mungkinkah kehidupan perempuan bisa dituangkan sesingkat dan sesederhana itu?

Dongeng Snow White, misalnya, diawali dengan kata-kata “Long, long ago, in the winter-time, when the snowflakes were falling like little white feathers from the sky …” dan diakhiri dengan “Snow-white consented, and went with him, and the wedding was celebrate with great splendour and magnificence.” Penonton tidak mendapat informasi, apa yang terjadi setelah Snow-White menikah.
Tambahan kata-kata seperti “…and they lived happily ever after” menurut saya merupakan sebuah usaha untuk meyakinkan penonton bahwa pangeran dan putri yang baik itu benar-benar akan selalu mengalami kehidupan perkawinan yang menyenangkan. Kata-kata itu juga tidak memberikan pilihan pada penontonnya, terutama anak-anak perempuan. Sehingga mereka meyakini bahwa sebagai perempuan pada akhirnya mereka harus menikah dan akan mengalami kebahagiaan melalui pernikahannya itu.

Mungkin keadaan akan berbeda, apabila setelah terbangun dari tidurnya, Snow-White menolak ajakan pangeran untuk menikah dan mengatakan bahwa ia ingin mempergunakan kesempatan itu untuk hidup dengan lebih baik, hidup tanpa rasa ketakutan dari ibu tirinya, hidup dengan mencari hal-hal menarik yang ada di dunia ini, seperti menjadi pemburu, misalnya.

Di lain pihak, kaum feminis menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang mereka bangun bukanlah ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang akan dibangun oleh perempuan adalah ilmu pengetahuan yang bertolak dari pengalaman seorang individu sebagai perempuan.

Mereka percaya, seksualitas dan ketubuhan mereka akan menjadi sumber kekuatan yang dapat menjadi faktor penting dalam ilmu pengetahuan yang mereka bangun. Kaum feminis menolak untuk membuang cirikhas mereka sebagai perempuan, termasuk yang tradisional sekalipun. Annie Leclrec, misalnya, menyatakan perempuan sebaiknya membangun sesuatu yang berasal dari perempuan, sebuah wacana perempuan yang menyatakan apa yang selama ini ditutup-tutupi oleh laki-laki (Leclrec, 1999:437):
“I have to reveal everything that you have so determinedly hidden, because it was with that repression that all the others began. Everything that was ours, you converted to dirt, pain, duty, bitchiness, small-mindedness, servitude. Once you had silence us, turn us into maid, goddess, plaything, mother hen, feeme fetale.”

Menurut saya, apabila nilai-nilai yang menjadi cirikhas perempuan, seperti kasih sayang, ketulusan, perhatian, pengertian, dan lain sebagainya dihilangkan, artinya kita mengakui apa yang telah dikatakan oleh ilmu pengetahuan patriarki. Bahwa cirikhas itu menunjukkan bahwa kita adalah mahluk yang lemah.

Bisa dikatakan, pro dan kontra kaum feminis dalam menanggapi dongeng-dongeng klasik ini sebenarnya secara tidak langsung mempertanyakan persoalan ideology yang membentuk mitos-mitos femininitas perempuan. Menurut saya, persoalan ini mungkin bisa dijawab melalui teori perbedaan seksual (sexual differece theory).
Para tokoh teori ini memfokuskan pada perbedaan posisi subjek antara maskulin dan feminine (Baidrotti, 1998:299). Luce Irigaray melandaskan pemikirannya pada postrukturalisme yang membawanya pada inti persoalan adanya pandangan palogosentrisme (phallogocentrism). Dalam pandangan ini, terjadi hubungan kekuasaan yang tidak seimbang, di mana perempuan diposisikan sebagai Liyan.

Bila Simone de Beauvoir menyatakan perempuan harus menghapuskan pandangan masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai Liyan, maka Luce Irigaray justru mengatakan bahwa kekuatan perempuan adalah karena perempuan adalah Liyan (Braidotti, 1998:302-306). Irigaray memberi pendapat terhadap pernyataan de Beauvoir bahwa perempuan harus menyakan dirinya. Menurut Irigaray, karena ketika kita mengatakan “kita adalah perempuan”, maka yang terjadi sebenarnya adalah kegiatan kesadaran. Padahal, perempuan justru hidup di wilayah bawah sadar.

Menurut Irigaray, dengan menerima posisi kita sebagai Liyan, maka perempuan hidup di area ketidaksadaran. Dengan hidup di area itu, perempuan memiliki kemampuan untuk memahami masalah-masalah manusia, khususnya perempuan, yang terpinggirkan, seperti jender, ras, kelas, ekonomi dan lain-lain.

Karena itu, teori perbedaan seksualitas dapat menjadi alat untuk memberdayakan perempuan. Karena teori ini memunculkan sisi-sisi subyektifitas perempuan–yang merupakan cirikhas perempuan. Dengan demikian, kita bisa melihat dan membongkar seluruh makna seputar perempuan.

Yang perlu diingat, teori ini tidak bertujuan untuk mengagung-agungkan atau meromantisasi nilai-nilai feminin, melainkan merupakan sebuah bentuk aktualisasi perempun untuk membuat strategi proyek politik perempuan. Dapat dikatakan, tujuan teori perbedaan seksual ini adalah untuk mempresentasikan perempuan dan dapat memasukkan pluralitas perempuan ke dalam sebuah wacana baru.

Buka Mata atau Ganti Kaca Mata
Pro dan kontra kaum feminis dalam memberi pendapat kepada cerita dongeng bukan menandakan bahwa kaum feminis itu memperjuangkan hal yang berbeda. Bagi saya, pro dan kontra yang dilontarkan kaum feminis itu merupakan satu kesatuan kerisauan dan harapan mereka pada cara dunia memandang perempuan. Menurut saya sikap kontra mereka berasal dari kesadaran bahwa pandangan masyarakat mengenai seksualitas, cirikhas, dan ketubuhan mereka yang ada selama ini adalah sebuah fitnah. Sementara sikap pro mereka berasal dari kesadaran bahwa sebenarnya seksualitas, cirikhas, dan ketubuhan mereka merupakan sebuah kelebihan dan kekuatan.

Setiap aliran feminisme, memiliki pandangan tertentu mengenai penindasan terhadap perempuan karena cirikhas, seksualitas dan ketubuhan mereka. Teori feminisme liberal memandang penindasan perempuan disebabkan karena kebebasan mereka dalam bidang pendidikan dan pekerjaan dibatasi. Dalam The Feminine Mystique saya menemukan, bahwa perempuan yang mendapat pendidikan yang baik dan perempua yang bekerja dengan gaji yang baik, belum berhasil bebas sepenuhnya dari penindasan patriarki.

Ini menunjukkan, bahwa peluang dibidang pendidikan dan pekerjaan belum cukup untuk memberikan kebebasan pada perempuan. Menurut saya, perempuan masih terikat pada sebuah ‘borgol’ yang paling kuat, yaitu wacana patriarki. Untuk itu, perempuan harus membangun sebuah wacana milik perempuan sendiri, di mana kebaikan dan keburukan serta kelebihan dan kekurangan perempuan ditentukan oleh perempuan itu sendiri dan digunakan untuk membangun sebuah wacana untuk perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
Belenky, Mary Field, et.al.
1986 Women’s ways of knowing: the developmental of self, voice and mind. US: BasicBooks

Friedan, Betty
1984 The Feminine Mystique. New York: W. W. Norton & Company, Inc.

Leclerc, Annie
1999 Woman’s Word dalam Feminist Philosophies: Problems, Theories, and Applications. 2nd ed. Janet A. Kourany, James P. Sterba dan Rosemarie Tong (editor). Hal. 436-339. New Jersey: Prentice Hall.

Wilshire, Donna
1989 The Uses of Myth, Image, and the Female Body in Re-visioning Knowledge dalam Gender/Body/Knowledge: Feminist Reconstructions of Being and Knowing. Hal. 92-114. New Jersey: Rutgers University Press.

Farganis, Sondra
1989 Feminism and the Reconstruction of Social Science dalam Gender/Body/Knowledge: Feminist Reconstructions of Being and Knowing. Hal. 207-223. New Jersey: Rutgers University Press.

Berman, Ruth
1989 From Aristotle’s Dualism to Materialist Dialectics: Feminist Transformation of Science and Society dalam Gender/Body/Knowledge: Feminist Reconstructions of Being and Knowing. Hal. 224-255. New Jersey: Rutgers University Press.

Narayan, Uma
1989 The Project of Feminist Epistemology: Perspective from a Nonwestern Feminist dalam Gender/Body/Knowledge: Feminist Reconstructions of Being and Knowing. Hal. 256-269. New Jersey: Rutgers University Press.

Code, Lorraine Code
1998 Epistemology dalam A Companion to Feminist Philosophy. Alison M. Jaggar dan Iris Marion Young. Hal. 173-184. Blackwell.

Braidotti, Rosi
1998 Sexual Difference Theory dalam A Companion to Feminist Philosophy. Alison M. Jaggar dan Iris Marion Young. Hal. 299-306. Blackwell

http://www.ocf.berkeley.edu/~wadam/html/article.php3?sid=25, Feminist Criticism

http://www.gwu.edu.folktale/germ232/bearskin/feminist.html, Feminist Theory and Women in Folktale

http://www.studentweb.tulane.edu/~twhitney/sarah.doc, Is Ariel a Heroine, Sarah Wallace

One thought on “Membaca Dongeng Klasik dari Sudut Pandang Teori Feminis Liberal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s