In a different voice


Ada asumsi dan definisi yang amat disukai orang hingga hari ini mengenai pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang diketahui, dapat di buktikan kepada publik, merupakan struktur realitas yang obyek dan dapat dibuktikan, fakta, informasi, pencerahan, menyorototi subyek (Wilshire, 1992:92). Definisi ini sudah bertahan lebih dari 2500 tahun.

Pada masa Yunani, model pengetahuan di atas melambangkan dewa Apollo, dewa matahari dan pencerahan, dewa akal sehat. Mitos apolo ini lalu menjadi dasar penganggungan terhadap akal sehat, menempatkan akal sehat di posisi atas bersama dengan akal, tata tertib, kestabilan, pengendalian, obyektifitas – semua hal yang positif, yang dikaitkan dengan Apollo, dengan kelaki-lakian.

Aristotels mengatakan, pengetahuan yang berasal dari akal sehat adalah pencapaian tertinggi manusia yang hanya dapat diraih oleh laki-laki. Sehingga pantaslah apabila laki-laki ditempatkan di posisi superior, spesies yang lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan – yang disebut Aristoteles sebagai monster, “mutilated male”.

Mengapa Aristoteles sampai berpikiran demikian? Karena menurutnya, perempuan itu emosional, pasif dan terperangkap di dalam fungsi tubuhnya sendiri. Karena pendapatnya mengenai perempua itu, Aristoteles memandang perempuan sebagai spesies yang lebih rendah, yang lebih mendekati hewan dibandingkan laki-laki.

Lalu adakah sesuatu yang berharga dari perempuan menurut Aristotels? Tidak ada. Bahkan menurut Aristoteles perempuan tidak pantas menjadi orang tua. Tubuh perempuan hanya ‘alat’ menampung sperma laki-laki. Laki-lakilah satu-satunya mahluk yang pantas menjadi orang tua sejati. Laki-laki menjadi ‘tuan’ karena hidupnya bersandar pada akal sehatnya, sementara perempuan menjadi ‘budak’ karena hidupnya bersandar pada emosi sehingga tidak mampu berakal budi.

Pandangan Aristoteles terhadap laki-laki dan perempuan menyiratkan dunianya yang mencirikan dualisme yang sangat hierarkional, yang membentuk polar yang saling bertentangan (Wilshire, 1992:92).
“one side rules over the other; for him soul rules over body, reson over emotion, male over female, and so on”
Teori terus berkembang dengan kecenderungan memantulkan gambaran maskulin. Para ilmuwan banyak yang meneruskan pemikiran yang berpola seperti Aristoteles.

Lalu, apakah secara fakta kondisi perempuan dan laki-laki memang begitu? Apakah benar laki-laki dan perempuan secara etis berbeda secara akal sehat? Apakah kondisi itu kondisi yang terberi (nature) atau kondisi yang dipelajari (nurture)?

Kalau menurut saya, perbedaan biologi antara laki-laki dan perempuan memberi ruang adanya perbedaan ‘alam’ di antara keduanya. Paludi mengatakan perkembangan seorang gadis menjadi seorang wanita adalah sebuah proses (1998:112). Proses itu melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan – melibatkan area psikologis, fisik, kognitif dan sosial.

Pertumbuhan seorang anak laki-laki menjadi pria dewasa, misalnya, hanya melalui beberapa tahap – yang kebanyakan juga dilalui oleh perempuan, seperti tumbuhnya bulu diberbagai tempat. Setelah itu ada satu fase di mana laki-laki mengalami mimpi basahnya yang pertama. Setelah itu, tidak ada lagi yang berubah pada tubuh laki-laki.

Menurut saya, mimpi basah hanya dialami secara pribadi oleh seorang laki-laki. Itu pun hanya terjadi beberapa saat dalam satu malam tanpa disertai munculnya dampak-dampak negatif lainnya.

Lalu saya membandingkannya dengan kondisi tubuh perempuan. Ketika laki-laki mengalami mimpi basahnya hanya beberapa detik dalam satu malam, perempuan mengalami menstruasi dalam setiap detik dalam waktu 4-10 hari. Apakah ini berbeda?

Tentu saja, terutama dalam hal pengendalian fisik dan emosi. Perempuan harus mengendalikan tubuhnya yang berubah selama 4-10 hari itu. Bagaimana caranya supaya tidak tembus? Bagaimana caranya supaya bisa bergerak bebas? Selain itu perempuan juga harus mengendalikan emosinya. Aku berubah. Ada apa dengan tubuhku? Bagaimana nanti orang menilai aku? Aku tidak bisa lagi bersikap seperti dulu karena aku sudah ‘dewasa’.

Lalu pada fase berikutnya, ketika perempuan mengandung. Apakah laki-laki pernah merasakan sesuatu bergerak dan tumbuh di dalam tubuhnya? Apakah laki-laki bisa merasakan sesuatu menyatu dengan tubuhnya? Apakah laki-laki pernah merasa indahnya memberikan sebuah nyawa?

Bagaimana ketika bayi itu lahir? Apakah laki-laki bisa merasakan sesuatu meluncur dari lubang vaginanya? Apakah laki-laki bisa merasakan sedotan di buah dadanya? Apakah laki-laki bisa merasakan sebuah tanggung jawab “aku akan membawa kehidupan kecil di tubuhku”.

Menurut saya, laki-laki tidak pernah bisa merasakan pengaruh perubahan fisik sebesar yang dirasakan perempuan. Karena puncak kehidupan laki-laki adalah saat ia pertama kali mampu mengeluarkan spermanya melalui mimpi basahnya yang pertama. Disinilah menurut saya bagaimana perubahan fisik pada akhirnya mempengarui perkembangan moral seseorang. Perubahan fisiknyalah yang mengakibatkan perempuan pada akhirnya lebih mampu merawat, memperhatikan dan menyayangi kehidupan.

Apakah berbedanya kondisi moral perempuan dan laki-laki dapat diterangkan secara ilmiah?

Tempat Wanita dalam Siklus Kehidupan Laki-laki
Learning under my mother was – powerful.
She could figure people out.
She wasn’t one to be beating you,
and knocking you all the time
She taught me the facts of life

Belenky, et.al., 1986:164

Sigmund Freud mengadakan sebuah penelitian agar dapat menerangkan perbedaan kondisi moral laki-laki dan perempuan secara ilmiah. Ia mengembangkan teorinya melalui percobaan yang dilakukan pada sekelompok anak-anak laki-laki. Sayangnya, pemikiran maskulin mensyaratkan adanya sebuah universalisme. Artinya, sebuah teori dapat diterapkan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.
Freud lalu mencoba menerapkan teori ini pada sekelompok anak-anak perempuan, dan menemui bahwa teori yang itu tidak‘berjalan’ bila diterapkan pada anak perempuan. Lalu ia menyimpulkan kondisi ini sebagai kegagalan dalam perkembangan perempuan (Gilligan, 1997:10) karena perempuan tidak menunjukkan perkembangan moral yang sama dengan laki-laki.

Kondisi ini membawa Freud pada kesimpulan yang lebih jauh, bahwa rasa keadilan perempuan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga perempuan tidak pernah siap menghadapi keadaan genting karena pemikiran moralnya selalu dipengaruhi oleh perasaan sayang atau permusuhan.

Para ahli psikologi perempuan menanggapi kondisi ini secara berbeda. Chodorow, misalnya, mengatakan bahwa pengasuhan anak oleh perempuan menyebabkan kepribadian feminin lebih menemukan bentuknya yang pasti dalam relasi dan hubungan dengan orang lain dibandingkan dengan yang dialami kepribadian maskulin.

Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang juga ‘pernah’ merasakan diasuh oleh seorang ibu? Bagaimana pada akhirnya anak laki-laki tidak mewarisi pola relasional yang dimiliki ibunya? Chodorow menyatakan, bahwa anak perempuan yang menemui kesamaan ciri-ciri fisik dengan ibunya akan memelihara pola relasional. Sementara anak laki-laki pada suatu masa akan menyadari adanya perbedaan dengan ibunya. Sehingga ia melepaskan diri dari pola relasional dengan ibu, lalu meninggalkan ibu dan mulai mulai mencontoh identitas ayah.

Kondisi awal ini menurut Gilligan yang menyebabkan perbedaan pola relasional antara laki-laki dan perempuan. Hubungan relasional dengan ibu, menyebabkan anak perempuan selalu meletakkan dirinya dalam ikatan dan relasi dengan obyek-obyek di luar dirinya. Sehingga bagi anak perempuan, kebutuhan dan perasaan orang lain ditempatkan sebagai kebutuhan dan perasaannya sendiri.

Kondisi ini membuat perempuan sangat berhati-hati dalam menjaga keterikatan dan relasi itu. Gilligan mengatakan, anak perempuan lebih baik meninggalkan suatu konflik sementara waktu untuk menghindarkan pertentangan yang dapat merusak relasi. Berbeda dengan laki-laki yang lebih memilih untuk segera menyelesaikan konflik dengan membuat peraturan-peraturan yang distandarisasi. Namun bagi Gilligan dibalik itu semua, sebenarnya laki-laki menciptakan aturan untuk melindungi otonomi pribadinya melalui kewajiban timbal balik.

Pentingnya pola relasional bagi perempuan menyebabkan mereka sangat menghindari situasi kompetisi yang dapat menyebabkan perpecahan. McLelland mengatakan bahwa perempuan mengalami ketakutan pada kesuksesan (Gilligan, 1997:23). Namun mernurut Sassen menyatakan, perempuan hanya menghindari kesuksesan yang dicapai di atas kegagalan orang lain (Gilligan, 1997:24).

Menurut Virginia Wolf, bagaimana perempuan mempertahankan relasinya merupakan bukti kepedulian perempuan terhadap orang lain (Gilligan, 1997:24). Kepekaan dan rasa bertanggung jawab terhadap orang lain membuat perempuan memasukkan kepentingan orang lain dalam pertimbangan moralnya.

Sayangnya, kepedulian perempuan terhadap orang lain ini diterjemahkan laki-laki sebagai suatu kelemahan (Gilligan, 1997:25). Karena kepedulian pada orang lain menunjukkan kurangnya otonomi terhadap diri sendiri yang menunjukkan ketidakdewasaan seseorang. Atas dasar ini pula, Freud mengatakan perempuan adalah pribadi yang tidak pernah dewasa dan selamanya akan menjadi anak-anak.

Citra Relasi Antara Manusia
If we had a keen vision and feeling of all
ordinary human life, it would be like hearing
the grass grow and the squirrel’s hear beat,
and we should die of that roar which
lies on the other side of silence.

-George Eliot
Middlemarch

Menurut saya, Gilligan berusaha menunjukkan ‘bagaimana perempuan’. Penggambarannya mengenai kondisi perempuan dan laki-laki bagi saya adalah pengajuan bukti bahwa perempuan dan laki-laki memiliki alam yang berbeda. Namun, Gilligan menempatkan perbedaan itu bukan dalam relasi hirarkional, melainkan melihatnya sebagai suatu kekayaan pada masing-masing jenis kelamin.

Gilligan melakukan sebuah penelitian tentang pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Selama ini perempuan dianggap sebagai mahluk yang tidak dewasa karena tidak dapat mengambil keputusan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gilligan, kecenderungan tersebut juga nampak. Anak perempuan itu awalnya terlihat bingung dan tidak dapat memberi jawaban yang pasti.

Namun, seperti dalam pendahuluannya, Gilligan menyatakan bahwa dasar penelitiannya adalah dengan mendengarkan. Dengan mendengarkan penuturan anak perempuan itu, Gilligan mampu memahami bahwa ketidakmampuan perempuan untuk mengambil keputusan kebanyakan disebabkan peneliti enggan menggali lebih jauh melalui pernyataan perempuan. Mungkin karena suara perempuan tidak pernah dianggap penting, sehingga ada ketidaktertarikan untuk menggali lebih jauh suara perempuan.

Penelitian Gilligan dilakukan dengan mengadakan wawancara dengan menanyakan permasalahan yang sama berulang kali. Gilligan menemukan, walau pada awalnya terlihat adanya suatu ambiguitas dalam memutuskan sesuatu, namun pada akhirnya ditemukan bahwa ambiguitas tersebut berasal dari sikap perempuan yang memandang masalah secara kontekstual dalam relasinya dengan orang lain. Sehingga perempuan mempercayai setiap kondisi manusia akan memerlukan tindakan yang berbeda.

Sikap perempuan dalam memandang relasi ini berbeda dengan laki-laki. Citra relasi antara manusia yang dimiliki laki-laki berdasarkan pada logika. Keberadaan logika adalah bekal bagi laki-laki untuk membuat keteraturan di dunia melalui konvensi-konvensi (Gilligan, 1997:40-41).
Konvensi dibuat oleh laki-laki atas dasar pemahaman bahwa dirinya berbeda dengan orang lain dan memiliki kedudukan yang istimewa (Gilligan, 1997:53). Namun ada kenyataan yang harus diterima oleh laki-laki bahwa orang harus hidup bersama. Sehingga, laki-laki perlu membuat berbagai aturan baku untuk membatasi campur tangan orang lain. Dengan demikian memperkecil kemungkinan dirugikan dan merugikan orang lain (Gilligan, 1997:56). Karena itu aturan membuat laki-laki aman dengan melindungi otonominya melalui kewajiban timbal balik.

Menurut laki-laki, bila saja setiap orang menggunakan logika dengan sama baiknya dengan cara ia menggunakan logikanya, maka akan dihasilkan pemahaman yang sama dan standard (Gilligan, 1997:41). Ini sama saja mengatakan bahwa ketika perempuan memiliki pemahaman yang berbeda dengan laki-laki, perempuan berarti tidak memiliki logika.
Wilshire mengatakan, perempuan menggunakan bahasa simbolis yang berupa gambaran (image) dan kiasan (metaphor) untuk mengungkapkan kebenaran (Wilshire, 1992:97-98). Perempuan tidak menggunakan bahasa literal yang sangat diagung-agungkan pemikiran matematis.

Menurut Wilshire, untuk memahami bahasa seperti itu dibutuhkan kesadaran tertentu. Kesadaran untuk melihat tidak hanya fokus ke satu titik, melainkan pandangan yang meluas dan mengabur.
Called ‘splatter vision’ by trackers, this is and essential skill in the wilds where one must constantly be alert and guard one’s safety by attending to the entire surroundings, not focusing even on the place where one will step (1992:98).

Menurut Wilshire, hanya perempuanlah yang mampu memiliki kesadaran semacam itu. Mungkin itu sebabnya perempuan dapat mengerjakan beberapa kegiatan – mengasuh anak sambil menjahit dan menonton televisi – dalam satu waktu bersamaan.

Menurut saya, kesadaran perempuan inilah yang menyebabkan perempuan terbiasa melihat segalanya secara kontekstual. Perempuan tidak pernah memulai sesuatu dengan sebuah justifikasi atau rumus, melainkan:
She waits uninflated, without ego, without control – content to be in ignorance for an unspecified time, willing to be not-knowing until the elusive essential pattern appear in their own good time. (Wilshire, 1992:99).

Perempuan memiliki pemahaman berbeda mengenai citra relasi antar manusia. Bagi perempuan dunia adalah sebuah relasi pribadi yang saling terikat satu sama lain membentuk sebuah jaringan (Gilligan, 1997:45). Keterikatan ini melahirkan tanggung jawab satu terhadap yang lain dan membutuhkan sikap tanggap antara masing-masing orang (Gilligan, 1997:47).

Perempuan sangat menyadari keterikatan setiap individu terhadap individu yang lain. Sehingga suatu sikap akan mempengaruhi keberadaan individu lain yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh jaringan. Itu sebabnya, perempuan tidak mengikuti alur kebakuan aturan, melainkan melihat secara kontekstual, bahkan melakukan perubahan aturan bila perlu kalau saja itu bisa menguntungkan semua pihak dan dapat melestarikan hubungan (Gilligan, 1997:47-67).

Selama ini citra relasi antar manusia yang dipahami oleh perempuan ditolak oleh laki-laki. Karena laki-laki selalu memandang segala persoalan dengan kacamata hubungan hirarkional. Sehingga bagi laki-laki hubungan saling ketergantungan di mana setiap orang memiliki posisi setara adalah sebuah ketidakdewasaan (Gilligan, 1997:93).
Pemaksaan laki-laki untuk memberlakukan relasi hirarkional pada akhirnya meminggirkan suara perempuan mengenai citra relasi yang berbeda dengan laki-laki (ditambah dengan cara pandang laki-laki yang selalu meletakkan perbedaan dalam dualisme nilai).

Inilah yang akan dilakukan oleh Gilligan, yaitu menafsirkan ulang pengalaman perempuan dalam kerangka citra mereka sendiri mengenai relasi manusia (1997:94). Menurut Gilligan, pengalaman perempuan adalan pengalaman mengenai ketidaksamaan dan ikatan timbal balik. Pengalaman ini pada akhirnya mampu melahirkan visi bahwa dalam perbedaan, semua orang akan ditangapi dan dilibatkan.

Konsep Diri dan Moralitas
I never realized until I got there how
I had based on my own sense of worthiness
On everybody else’s estimation of what I was.
I didn’t have everybody else’s approval,
So it had to come from some other source.
MY SELF.

(Belenky, et.al., 1986:220)

Moralitas bagi perempuan adalah hubungan antarpribadi yang menempatkan diri kita sendiri sejajar dengan orang lain dalam sebuah jaringan (Gilligan, 1997:97-99). Memahami bahwa kesalahan sedikit dalam tindakan moral pribadi sedikit banyak akan mempengaruhi jaringan sehingga moralitas adalah juga keinginan untuk tidak melukai seorangpun.

Perempuan seringkali enggan melakukan keputusan moral karena belum menemukan konsep diri yang pas untuk dijadikan landasan (Gilligan, 1997:101-104). Selama ini perempuan seolah tidak memiliki konsep diri, karena harus tunduk dan pasif pada keputusan dan konsensus yang dibuat laki-laki:
Sebagai perempuan saya merasa tidak pernah mengerti bahwa saya adalah seorang pribadi (Gilligan, 1997:101)

Ketidakjelasan konsep diri ini menurut Gilligan membebaskan perempuan dari tanggung jawab untuk membuat keputusan moral. Karena hakekat keputusan moral adalah membuat pilihan dan kesediaan untk bertanggung jawab atas pilihan itu. Sejauh perempuan memahami diri sebagai orang yang tidak punya pilihan, mereka terlepas dari tanggung jawab itu.

Gilligan mengembangkan tahapan perkembangan moral yang berbeda dengan tahapan perkembangan moral Kohlberg dan Piaget serta juga berbeda dengan tahapan perkembangan moral Freud. Tahapan perkembangan moral Kohlberg berdasarkan model perkembangan kognitif milik Piaget. Sementara tahapan perkembangan moral Freud berdasarkan perkembangan ego manusia.

Model perkembangan moral yang dibuat oleh Gilligan merupakan gabungan antara Freud dan Kohlberg serga Piaget. Tahap pertama perkembangan moral perempuan masih mengenai kepedulian pada diri sendiri untuk menjamin kelangsungan hidup (Gilligan, 1997:112).
Tahap kedua perkembangan moral perempuan merupakan pemahaman mengenai hubungan antara diri sendiri dengan orang lain yang diungkapkan dengan konsep tanggung jawab. Pada titik ini kebaikan moral disamakan dengan kepedulian pada orang lain yang dianggap syah mendapat perhatian perempuan. Menurut Gilligan, peralihan ini masih menimbulkan masalah dalam relasi dengan orang lain. Sehingga dalam tahap ini, perempuan cenderung mengorbankan dirinya agar relasi antarpribadi tidak rusak.

Tahap ketiga perkembangan moral perempuan berpusat pada dinamika relasi da menghapus ketegangan antara egoisme dan tanggung jawab melalui suatu pemahaman baru mengenai hubungan timbal balik atnara orang lain dan diri sendiri. Kepedulian adalah prinsip penilaian moral yang dipilih sendiri. Dalam hal ini dibutuhkan pemahaman mengenaiperbedaan diri sendiri dengan orang lain yang akan menyebabkan meningkatnya pemahaman mengenai dinamika interaksi sosial.

moral

Etika kepedulian milik Gilligan ini mencerminkan suatu pengetahuan kumulatif mengenai relasi manusia. Etika ini berkembang atas dasar pengertian bahwa diri sendiri dan orang lain saling bergantung satu sama lain (Gilligan, 1997:113).

Etika kepedulian milik Gilligan ini menggambarkan kenyataan bahwa tindakan kepedulian dalam relasi akan menguntungkan semua pihak. Tentu saja pada tahap awal model yang menginginkan keuntungan di semua pihak ini akan menimbulkan konflik (Gilligan, 1997:107-108).
Ketakutan untuk menghadapi konflik, membuat perempuan memilih untuk menjadi egois, ada di tahap pertama. Sementara keinginan untuk menyelesaikan konflik dengan menggunakan ketegasan sikap moral yang kadang merupakan tindakan menyimpang menolak bertanggung jawab dengan alasan bahwa perempuan hanya ingin memenuhi kebutuhan orang lain merupakan gambaran kedewasaan konsep diri yang ada di tahap ketiga. Pada tahap kedua, perempuan sudah mulai menghadapi konflik. Namun seringkali ketidakmatangan akan konsep diri menyebabkan perempuan membiarkan dirinya menjadi korban agar tidak ada pihak lain yang tersakiti. Menurut Gilligan tentu saja pandangan ini masih merugikan perempuan.

Bagaimana perempuan dapat meningkatkan tahapan perkembangan moralnya, menurut Gilligan juga tergangung dari perkembangan pemahaman konsep diri perempuan tersebut. Konsep diri perempuan menguat apabila ia menanggap benar-benar anggota masyarakat dengan diterimanya nilai-nilai sosial (Gilligan, 1997:121).
Menurut saya, lambatnya perkembangan moral perempuan selama ini terjadi karena nila-nilai sosial perempuan selama ini dipinggirkan oleh anggota masyarakat. Perempuan dipaksa untuk mengikuti nilai-nilai sosial orang lain (laki-laki) dan dipaksa mengakui bahwa dirinya tidak memiliki nilai sosial.

Gilligan juga menyatakan bahwa konsep diri juga semakin berkembang ketika perempuan mulai mengkaji logika pengorbanian diri demi moralitas kepedulian (1997:125-126). Dalam pemisanah suaranya sendiri dari suara orang lain, wanita bertanya apakah mungkin bertanggung jawab atas diri sendiri dan atas orang lain dan dengan demikian menjembatani perbedaan antara menyakiti dan peduli akan oranglain.
Karena selama ini perempuan memiliki keyakinan bahwa ketika ia menyakiti orang lain, artinya ia tidak peduli akan orang lain. Menurut saya, tindakan itu mendorong perempuan pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri, dan itu adalah tindakan yang salah. Wanita seringkali tidak jujur pada dirinya sendiri dengan dalih pengorbanan, agar terlihat benar (131-132).

Menurut Gilligan, untuk menghindarkan diri terus menerus menjadi korban, perempuan membutuhkan kejujuran untuk mengakui apa yang sedang dilaksanakannya. Sehingga sebuah tindakan tidak dinilai berdasarkan tindakan itu tampak di mata orang lain, melainkn dalam kerangka maksud dan akibat yang sebenarnya (Gilligan, 1997:126). Untuk itu perempuan harus meyakinkan dirinya bahwa ia mampu mengambil keputusan dan mampu bertanggung jawab atas keputusannya itu.

Keyakinan itu menurut Gilligan membutuhkan konsep diri yang kedua, yaitu menyadari bahwa bahwa dirinya berharga. Ketika perempuan menyadari dirinya adalah individu yang berharga, maka ia tidak lagi selalu menempatkan diri pada sisi korban, sementara orang lain melepaskan tanggung jawab.

Dengan menyadari bahwa dirinya berharga, konsep perempuan mengenai kebaikan akan berubah (Gilligan, 1997:143). Bukan lagi kebaikan yang menjadikannya korban, namun kebaikan yang mengubah sesuatu yang secara moral salah menjadi baik secara moral (Gilligan, 1997:132):
Saya akan mengubah yang secara moral salah menjadi baik secara moral. (Bagaimana) Saya tidak tahu. Saya kira kita tidak bisa menerima sesuatu yang kita rasa moral salah atas alasan bahwa situasi membuatnya menjadi benar lalu membuatnya berjalan siring. Keduanya tidak sejalan. Keduanya bertentangan. Keduanya tidak seiring. Ada sesuatu yang salah. Tetapi tiba-tiba hal itu berubah menjadi benar, karena kita melakukannya.

Intinya, menurut saya Gilligan hendak menyatakan bahwa kebaikan perkembangan moral perempuan berangkat dari kepeduliannya terhadap orang lain. Ini terlihat dari sikap perempuan yang menghindari tindakan untuk menyakiti orang lain. Namun, kepedulian perempuan ini sering dimanfaatkan oleh orang dengan membebankan seluruh kesalahan dan masalah pada perempuan, walaupun awalnya mereka memiliki andil dalam kesalahan dan masalah tersebut. Kondisi ini memaksa perempuan meyakini bahwa jalan terakhir untuk sebuah kepedulian adalah dengan mengorbankan diri.

Menurut Gilligan ini tidak betul. Perempuan tidak perlu menanggung semua masalah (yang tidak diciptakannya sendiri) sendirian. Perempuan tidak perlu menjual diri dan tidak perlu membuat diri melakukan hal-hal yang benar-benar bodoh dan tidak ingin dilakukan (Gilligan, 1997:143)
Gilligan menunjukkan konsekuensi dari sebuah konsep diri yang negatif (1997:154), yaitu apabila kelangsungan hidup yang satu hanya bisa terjadi dengan mengorbankan yang lain. Dalam kondisi ini penilaian moral lalu terpusat pada pengorbanan dan perasaan berdosa menjadi konsekuensi yang tidak bisa dielakan dari pemecahan masalah
Penelitian Gilligan menurut saya menunjukkan bahwa bila laki-laki memperoleh kedewasaan dari kemampuan menghindari konflik, perempuan justru mencapai kedewasaannya dari kemampuan melibatkan diri dan berdialog dengan dengan konflik.

Krisis dan Peralihan
I have to find myself absolutely alone for a while.
Sort of getting rid of the dirt and the garbage
and just sort of crystallizing out what is me.
Gretchen, senior year college.

Belenky, et.al., 1986:210

Menurut saya, bagian ini menguraikan perkembangan moral perempuan yang selama ini hilang karena tidak pernah dimunculkan. Ada pemikiran yang sepertinya sudah menjadi sebuah stereotipe bahwa perempuan menyerupai anak-anak yang bahkan tidak dapat mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Akibatnya, berbagai pihak merasa berhak mengambilkan keputusan bagi perempuan:
“karena ia telah meminta alat kontrasepsi baik pada pacarnya mapun pada ibunya tetapi tidak dipenuhi, Betty menjelaskan bahwa ia menjadi hamil karena tak ada yang mau menolongnya. Karena ia sesungguhnya ingin menggunakan alat kontrasepsi, tetapi orang lain tidak memberikan?” (Gilligan, 1997:166)

Mereka tidak pernah bertanya apa yang dibutuhkan oleh perempuan, namun menentukan sendiri atas dasar ukuran universal. Dan ketika keputusan itu tidak tepat dan mendatangkan masalah pada perempuan, mereka akan menyalahkan perempuan dan meninggalkannya dengan masalah itu.

Disinilah, menurut Gilligan masa krisis dimulai, ketika perempuan dipaksa memutuskan penyelesaian bagi masalahnya, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dalam situasi ini krisis sangat berperan dalam pertumbuhan perempuan atau justru sebaliknya, dalam penghancuran perempuan (Gilligan, 1997:165).

Masa peralihan dimulai bagi perempuan. Melalui percobaan yang dilakukan oleh Erikson terhadap beberapa perempuan, ditemukan bahwa krisis pada akhirnya menjadi titik peralihan bagi perempuan melalui bantuan pengungkapan diri.

Menurut saya, perempuan akan sangat kesulitan dalam memutuskan masalah untuk pertama kalinya. Kondisi perempuan yang tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan dibiarkan bisu mendukung kondisi ini. Melalui pengungkapan diri, perempuan dilatih untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaanya, yang dapat membantu merangkai pemikiran moral untuk memutuskan masalahnya. Pengungkapan diri, menurut saya, menyebabkan perempuan tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Hak dan Penilaian Moral Wanita
I’ve never had a personality.
I’ve always been someone’s daughter,
someone’s wife, someone’s mother.
Right now I’m so busy being born,
discovering who I am, that I don’t know who I am
.
Belenky, 1986:82

Gilligan mengatakan bahwa hak-hak wanita berdampak pada penilaian moral perempuan (1997:199). Yang menjadi masalah, selama ini hak-hak perempuan tidak pernah diakui dalam masyarakat. Yang diakui dan digunakan secara paksa adalah sistem keadilan milik laki-laki (Gilligan, 1997:206). Akhirnya, perempuan tidak mempunyai ruang untuk menunjukkan kepedulian dan memilih untuk mengikuti saja aturan itu, aturan yang membagi antara kewajiban dan hak.

Apabila perempuan mengikuti aturan ini, dimana hak dipisahkan dengan kewajiban, maka akan terjadi pertentangan antara moralitas hak dan etika tanggung jawab (Gilligan, 1997:207). Menurut saya aturan laki-laki hanya cocok untuk laki-laki. Sementara perempuan, yang memiliki ‘alam’ berbeda akan mengalami stagnasi apabila mengikuti aturan itu.

Bagi saya stagnasi itu terjadi ketika perempuan lebih memfokuskan diri pada kewajibannya terhadap orang lain, dibandingkan dengan hak yang mestinya diperoleh dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa perempuan takut akan merusak hubungan apabila ia tidak menjalankan kewajibannya terhadap orang lain (Gilligan, 1997:208:220). Ini terjadi karena bagi perempuan, tanggung jawab adalah:
“bahwa anda peduli pada orang lain itu, bahwa anda peka terhadap kebutuhan orang lain itu dan bahwa anda menganggap kebutuhan-kebutuhan itu sebagai bagian dari kebutuhan anda sendiri karena anda bergantung pada orang lain” (Gilligan, 1997:212)

Ini menggambarkan bahwa dalam setiap keputusan moralnya, perempuan akan mendahulukan kewajibannya terhadap orang lain.
Namun menurut Gilligan, pada akhirnya, melalui pengungkapan diri, perempuan yang menjadi informannya menemukan bahwa hal yang terpenting dalam keputusan moral adalah melibatkan tanggung jawab perempuan terhadap dirinya sendiri. Artinya, perempuan berhak melakukan setiap keputusan asalkan ia mampu bertanggung jawab terhadap keputusannya itu, bukan terhadap orang lain (Gilligan, 1997:220-223).

Proses pengambilan keputusan seperti itu, menurut Gilligan membutuhkan pembuatan keputusan yang penuh kepedulian atas dasar apa yang kita ketahui dan bertanggung jawab atas pilihan sambil melihat legitimasi yang mungkin dapat diberikan pada pemecahan lainnya. Dalam hal ini Gilligan melihat perempuan menyamakan tanggung jawab dengan kepedulian, bukan dengan tidak merugikan orang lain (1997:224).

Gilligan menyatakan hak adalah cerminan pengakuan seseorang sebagai manusia. Karena dengan menggunakan haknya, manusia dapat menjalani hidupnya sebagai milik pribadinya secara bertanggung jawab. Pola penggunaan hak yang bertanggung jawab ini pada akhirnya akan melahirkan dinamika ketergantungan timbal balik (Gilligan, 1997:225).

Menurut Gillgan, dinamika ketergantungan timbal balik ini penting bagi perempuan. Dinamika ini memungkinkan perempuan tidak hanya peduli pada orang lian tetapi juga peduli pada diri sendiri sebagai tindakan moral.

Visi Mengenai Kedewasaan
To care means first of all to empty our own cup
Henry Nouwen
Waren, 2000:203

Visi kedewasaan yang ditawarkan oleh dunia laki-laki adalah kedewasaan yang diperoleh dengan mengguanakan rasio. Kedewasaan laki-laki adalah kedewasaan yang membuang jauh-jauh unsur emosi. Ini disebabkan kedewasaan laki-laki ditandai dengan sebuah pemisahan hubungan. Karena bagi laki-laki pemisahan menentukan dan memperkuat diri sendiri (Gilligan, 1997:234).

Kondisi ini berbeda dengan perempuan. Perempuan justru memperoleh kedewasaannya melalui konflik dalam hubungannya dengan orang lain. Hubungannya dengan orang lain menciptakan pertentangan antara integritas diri sendiri dengan kepedulian terhadap orang lain (Gilligan, 1997:236). Bagi perempuan, kedewasaan adalah ketika ia berhasil mempertahankan keutuhan suatu hubungan.

Menurut Gilligan, hal semacam ini hanya mungkin terjadi melalui pengakuan akan keragaman dalam hal kebutuhan. Hanya sikap toleransi terhadap hal-hal yang mutlak yang memungkinkan seseorang dapat peduli terhadap sesuatu yang berbeda (Gilligan, 1997:247-248). Inilah yang melahirkan kedewasaan pada perempuan.

REFLEKSI dan KRITIK
Women have been in the darkness for centuries. They don’t know themselves. Or only poorly. And when women write, they translate they darkness. Men don’t translate. They begin from a theorethical platform that is already in place, already elaborated. The writing of women is really translated from the unknown, like a new way of communicating rather than an already form language.
Marguierite Duras, 1975:174

Menurut saya, Dalam Suara Yang Lain, adalah suatu usaha Gilligan untuk meletakkan perempuan dalam kehidupan manusia. Selama ini perempuan telah dipinggirkan dan tidak dianggap dengan adanya asumsi tradisional mengenai perempuan, di mana asumsi itu berangkat dari perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

Stereotipe bahwa laki-laki rasional dan perempuan emosional, menyebabkan justifikasi bahwa perempuan inferior dibandingkan laki-laki. Menurut saya ini disebabkan adanya dualisme nilai yang disertai dengan pemikiran hierarkional. Budaya laki-laki selalu melihat perbedaan sebagai sesuatu yang dikotomis, di mana laki-laki lalu menempatkan perbedaan-perbedaan itu dalam peringkat-peringkat.

Aristoteles, misalnya, mengatakan bahwa perempuan lebih cocok menjadi pengikut dibanding menjadi pemimpin karena tidak memiliki rasio dan hanya memiliki emosi. Atau Imanuel Kant yang menyatakan “women lack civil personality”, sehingga tidak cocok ditempatkan pada ranah publik melainkan di rumah saja.

Is it dumb to be emotional?

Di dalam bukunya, Emotional Intelligence (1995), seorang psikolog, Daniel Goleman, menyajikan penelitian ilmiah untuk mendukung pandangan terhadap kecerdasan (Warren, 2000:109). Ia mengatakan, otak manusia memiliki dua bagian, bagian yang berpikir disebut rational mind serta bagian yang merasakan disebut emotional mind. Goleman menyatakan bahwa rational mind dan emotional mind menghasilkan dua kecerdasan yang berbeda.

Kecerdasan emotional berfungsi menjaga keseimbangan antara rational mind dan emotional mind. Dalam penelitiannya, Goleman menemukan bahwa emosi adalah esensi penting dalam akal sehat, artinya rational mind tidak dapat bekerja secara efektif tanpa adanya keceradasan emosional.

Penelitian Goleman memberi ruang pada pemikiran Gilligan mengenai etika moral. Ketika akal sehat tidak bisa berjalan tanpa emosi, maka kepedulian – yang disebut oleh orang banyak merupakan bentuk emosi yang berlebihan – tidak lagi merupakan “dumb emotion”.

Menurut saya, pemikiran Gilligan ini memberi sumbangan bagi pemikiran feminis secara keseluruhan. Terutama penghargaan terhadap emosi dalam kehidupan moral. Banyak kaum feminis yang beranggapan bahwa salah satu kelemahan perempuan adalah emosinya (Tong, 2000). Karena mereka berpendapat emosi perempuan yang membuat mereka lebih peduli dibanding laki-laki. Kepedulian perempuan berangkat dari pengalaman peran domestik mereka.

Sehingga menurut banyak feminis yang mengkritik Gilligan etika moral kepedulian adalah suatu langkah yang melanggengkan peran perempuan di dalam ruang domestik. Sehingga pada akhirnya etika moral kepedulian akan menjadi bumerang bagi perempuan – semakin mereka peduli, semakin mereka akan memandang diri mereka sebagai tulang punggung keluarga dan tulang punggung perkawinan.
Artinya apa? Kaum feminis yang mengkritik Gilligan mengatakan bahwa etika moral kepedulian adalah bentuk pengorbanan diri perempuan, yang sangat merugikan perempuan.

Apakah kritik itu benar?

Menurut saya tidak. Saya mengacu pada pemikiran Nel Noddings yang membedakan ethical caring dan natural caring. Natural caring mendorong kita untuk menolong orang lain karena kita menghendakinya (Tong, 2000).

Mungkin pemikiran Noddings mengenai natural caring memiliki dasar yang sama dengan pemikiran Sara Ruddick mengenai maternal ethic, yaitu kebaikan moral yang diasosiasikan dengan kepedulian perempuan sebagai ibu.

Yang perlu diperhatikan adalah baik Noddings maupun Ruddick tidak pernah menyebutkan bahwa natural caring dan maternal ethic adalah milik perempuan. Natural caring dan maternal ethic biasa dilakukan oleh perempuan, tetapi bukan hanya perempuan yang mampu melakukan itu.

Itu pula yang ditekankan oleh Gilligan, seperti Noddings dan Ruddick, bahwa laki-laki pun bisa melakukan. Joel Feinberg menyatakan tindakan moral itu tidak berdasar (Warren, 2000:75), seperti loving one’s child:
This is what might be said, after all about parental (and other) love. [In the case of] the parent’s unshaken love for the child who has gone bad … no quality of the child can be cited as a reason in justification of the parent’s love. “I am his father after all”.

Mungkin itu suatu tantangan besar. Karena kalau lepas kendali, saya juga sependapat, perempuan akan menjadi korban bagi dirinya sendiri. Namun Gilligan pun mensyaratkan untuk melakukan etika moral kepedulian ini, seorang perempuan pertama-tama harus mengenali dirinya sendiri, jujur terhadap dirinya sendiri dan menghargai serta mencintai dirinya sendiri.

Ketika perempuan telah mengenali dirinya sendiri, bukan berarti ia tidak akan melakukan tindakan aborsi. Bukan berarti ketika seorang perempuan melakukan tindakan aborsi ia tidak melakukan etika moral kepedulian itu.

Warren mengatakan bahwa ketika etika moral kepedulian pada akhirnya memicu konflik moral, seorang harus menyadari beberapa hal (Warren, 116-118).
Pertama, konflik moral sering kali berlawanan dengan pola umum yang berlaku di masyarakat, bahwa seseorang harus berlaku adil. Kenyataannya, menurut Warren,:
Acting on the basis of care may not always be just

Kedua, konflik moral sering kali hanya dapat dipahami dan diselesaikan melalui pendakatan tradisional, bukan pendekatan umum yang berlaku di masyarakat (ethic of justice)

Ketiga, konflik moral sering kali menggunakan topeng lying – truth telling, karena konflik moral yang terjadi merupakan hasil dari simbol dan struktur institusi.

Keempat, konflik moral sering kali berupa gender sensitive. Seperti misalnya kehamilan di luar nikah yang disebabkan karena perkosaan. Apakah tindakan aborsi dipandang sebagai tindakan yang menyimpang dari etika moral kepedulian?

Tindakan kepedulian tidak selamanya harus menimbulkan konflik moral. Justru sebaliknya, etika moral kepedulian dapat dipakai sebagai alat untuk menghindari konflik.

Terlebih yang terpenting menurut saya, Gilligan memang menyatakan bahwa perempuan berhubungan erat dengan jaringan. Namun ia tidak pernah menyatakan perempuan ada di luar jaringan tersebut dan hanya berfungsi sebagai penjaga kestabilan jaringan tersebut. Gilligan justru menyatakan perempuan adalah bagian dari jaringan tersebut, sehingga untuk menjaga kestabilan jaringan itu, perempuan terlebih harus menjaga dirinya sendiri, jangan sampai ia mengorbankan dirinya sendiri. Karena mungkin saja ketika ia mengorbankan dirinya, kestabilan jaringan justru rusak.

Jadi menurut saya, etika moral kepedulian ini bukan dumb emotion, seperti yang disebutkan oleh para feminis yang mengkritik Gilligan. Saya setuju dengan Gilligan bahwa dengan menghapuskan keberadaan emosi dalam kehidupan moral berarti juga menghapuskan keberadaan perempuan.

Setelah saya membaca buku tersebut, saya melihat bahwa ternyata laki-laki hidup dengan cara yang lebih individualistik dibandingkan perempuan. Yang membuat saya mengajukan pertanyaan, apabila laki-laki lebih mementingkan kehidupan yang lebih individualistik, bagaimana mungkin laki-laki menciptakan standar-standar kehidupan yang berlaku secara sosial dan meyakininya sebagai kebenaran yang mutlak?
Namun saya juga melihat beberapa celah yang mungkin menjadi kekurangan dalam gambaran Gilligan mengenai perempuan. Gilligan menyatakan perempuan hidup dalam jaringan kepedulian. Dalam jaringan itulah lahir ethic of care, di mana setiap orang diletakkan secara sejajar dengan orang lain dan bahwa setiap tindakan dilakukan untuk menghindari kerugian dipihak lain.

Menurut saya, perempuan memang terbiasa dan memilih hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Namun, perempuan tidak bisa menghindarkan dirinya untuk berinteraksi dengan kelompok yang lebih besar. Artinya, kelompok yang lebih besar memiliki tingkat keragaman yang tinggi. Mungkinkah jaringan yang besar ini saling mengakomodasi sehingga tidak ada satu pihakpun yang dirugikan?

Gilligan memang menyatakan untuk dapat mencapai tindakan yang dapat mengakomodasi seluruh pihak, perempuan harus memasukkan konsep diri yang jujur dan menghargai diri sendiri dalam keputusan moralnya. Namun, dalam model perkembangan moralnya, Gilligan menyatakan bahwa tingkat ketiga hampir tidak mungkin dicapai oleh seorang perempuan.

Gilligan membuka mata kita bahwa ada definisi-definisi lain mengenai kehidupan,yang berasal dari perempuan. Di mana definisi-definisi itu sama berharganya, kalau mungkin lebih baik dan dapat berdialektika dengan definisi-definisi laki-laki.

DAFTAR PUSTAKA
Gilligan, Carol
1997 Dalam Suara Yang Lain. Jakarta: Pustaka Tangga

Belenky, Mary Field, et.al.
1986 Women’s ways of knowing: the developmental of self, voice and mind. US: BasicBooks

Warren, Karen J.
2000 Ecofeminist Philosophy: A Western Perspective on What It Is and Why It Matters

Paludi, Michele A.
1998 The Psychology of Women. New Jersey: Prentice Hall.

Whilshire, Donna
1992 The Uses of Myth, Image, and the Female Body in Re-visioning Knowledge dalam Gender/Body/Knowledge: Feminist Reconstructions of Being and Knowing. Alison M. Jaggar dan Susan R. Bordo (Eds.). New Jersey: Rutgers University Press.

Tong, Rosemarie
2000 Feminist Ethics. Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Duras, Marguierite
1975 Interview by Susan Husserl-Kapit. Signs: Journal of Women in Culture and Society, 1(2), 423-434.

One thought on “In a different voice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s