Patah hati


brokenheart

What is done out of love always takes place beyond good and evil.”
(Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, Aphorism 153)

Saya pernah mencintai; sedang mencintai dan tidak pernah akan berhenti mencintai. Saya pernah patah hati, berkali-kali patah hati – dan sekarang saya sedang patah hati. Saat saya sedang patah hati, saya menjadi sedih sekali, malas berpikir (bukannya tidak bisa berpikir, hanya malas), merasa kosong dan kesepian, merasa sakit hati, merasa kehilangan pegangan sehingga ada saat (banyak saat) tiba-tiba air mata menetes dengan sendirinya.

Entah, apakah kalian juga merasakan hal yang sama seperti saya ketika patah hati. 

Lalu suatu hari seorang teman berkata bahwa saya kecanduan rasa sedih. Ia bilang, saya tidak bisa hidup tanpa rasa sedih. Walau kesal sekali – saya tetap tidak bisa berkata apa-apa. Tetapi, sejak saat itu saya terus bepikir dan bertanya pada diri saya sendiri, “is it bad to be sad after broken hearted? Should I not sad if i love somebody very deep but without any reason he hushed me very rude? Apa iya gue kecanduan rasa sedih? Gue cuman lagi patah hati doang. Emang ga boleh sedih?”

Gara-gara tidak bisa menerima “tuduhan” teman saya itu, saya berusaha mencari tahu – apakah salah merasa sedih karena patah hati🙂 – sampai saya menemukan istilah Tako-Tsubo Syndrom atau lebih dikenal dengan nama broken heart syndrom (lawan dari sindrom ini adalah lovesickness)

Tako-Tsubo adalah perangkap gurita atau cumi-cumi yang biasa digunakan para nelayan di Jepang. Dinamakan Tako-Tsubo syndrom karena sindrom itu berkaitan dengan jantung manusia – yang akan berbentuk seperti Tako-Tsubo yang sudah berisi gurita atau cumi-cumi saat mengalami sindrom tersebut.

Sindrom tersebut muncul bila manusia mengalami situasi yang sangat menekan – yang berkaitan dengan kemarahan dan kekecewaan (biasanya karena kehilangan seseorang yang disayang atau dicinta). Hasil penelitian yang lucunya tidak mengejutkan saya (tetapi tetap membuat saya bertanya-tanya) adalah bahwa perempuan lebih sering (dan paling banyak) mengalami sindrom patah hati ini. Padahal, penelitian yang lain menyebutkan bahwa perempuan lebih memiliki dukungan sosial (social support) dibandingkan laki-laki. Logikanya, seharusnya perempuan lebih mudah mengatasi kehilangan karena ditinggal oleh orang yang dicintai dibanding laki-laki.

Kendler menyatakan salah satu penyebab mengapa perempuan lebih rentan terhadap sindrom ini adalah karena perempuan sangat menyenangi hubungan antar pribadi – bila dibandingkan laki-laki. Itu sebabnya, bila kehilangan hubungan antar pribadi yang berkualitas, perempuan akan mudah mengalami depresi dibandingkan laki-laki.

Para dokter menyatakan sindrom patah hati ini dapat disembuhkan dalam waktu satu minggu – bila dilakukan dalam sebuah program penanganan yang memadai (bandingkan dengan orang yang bisa terhanyut dalam patah hati sampai bertahun-tahun hahaha).

Walau pun masa penyembuhannya hanya selama tujuh hari, sindrom ini tidak bisa dianggap enteng. Sudah ratusan tahun yang lalu para dokter mengetahui bahwa kejutan emosional – yang salah satunya disebabkan oleh patah hati – dapat menyebabkan serangan jantung dan kematian tiba-tiba. Namun pada sindrom patah hati, kejadiannya berbeda.

Para dokter di RS Johns Hopkins menemukan bahwa desakan hormon pencetus stres seperti hormon adrenalin menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah. Kondisi ini menyebabkan saluran darah menyempit – dan menjadi sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup si penderita.

Seharusnya ada penjelasan yang ilmiah mengenai pernyataan bahwa perempuan lebih terikat pada hubungan antar pribadi (setelah menulis artikel ini saya akan cari). Tetapi, kalau begitu faktanya – benar kata mitos bahwa perempuan adalah mahluk yang sering merana karena cinta.

 Saya rasanya sih tidak sampai merana karena patah hati. Tapi, sekarang saya tahu – bahwa saya tidak kecanduan rasa sedih. Walau pun belum saya cari rujukannya, tapi – ya. Saya merasa sangat kehilangan hubungan antar pribadi dengan orang yang sangat saya cintai, dan itu yang membuat saya patah hati – lalu sedih jadi bagiannya.

 

16 Februari 2009

5 thoughts on “Patah hati

  1. Hai titut,
    Aku hesti
    Kita temenan di labshool

    Patah hati mang sakit rasanya
    Tapi bila kita bisa mengatasinya
    Sakit itu membuat kita lebih kuat
    Dalam menghadapi ujian hidup selanjutnya

  2. sakit hati…berjuta rasanya…
    siang malam..jadi impiannnnn…

    hahahaha….

    patah hati??? cukup bbrp jam
    setelah itu…hunting lagi!!!!

    jaman nge-net dunk… ;*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s