Cute culture ga selalu lucu


normal_harajuku_img_09922Ketika pertama kali mendengar istilah “cute culture” – yang terbayang di kepala saya adalah cara berpakaian remaja sekarang yang menggemaskan: gaun mini potong dada bermotif bunga-bunga yang dikenakan bersama legging 3/4 berwarna senada dan dipadan dengan menggunakan sketcher dengan tidak lupa dilengkapi kaus kaki. Atau dengan kata lain adalah gambaran model baju anak kecil yang dikenakan oleh orang dewasa. Untuk kedua profesor saya, cute culture lebih dihubungkan dengan emotikon-emotikon “menggemaskan” yang digunakan untuk “meramaikan” instant messenger dan warna merah jambu dan putih pada si kucing cantik tanpa mulut, Hello Kitty.

kittyimage1Cute culture – seperti namanya, memang dimaksudkan agar yang mempraktikannya terlihat “cute” (kalau boleh saya terjemahkan menjadi lucu/menggemaskan – tidak terlihat tua/angkatan emak gue). Cute culture mulai populer di Jepang pada tahun 1970-an. Cute culture awalnya adalah gaya penulisan yang lahir di kalangan gadis remaja Jepang untuk keluar dari kebosanan aturan menulis kanji. Gadir remaja Jepang saat itu menulis dengan gaya yang bertentangan secara total dengan gaya menulis tradisional Jepang: menulis kanji menggunakan pensil mekanik – yang kehalusannya stabil dengan menambahkan gambar-gambar lucu disela-sela tulisan denganmenyertakan bahasa non Jepang di dalamnya (biasanya bahasa Inggris). Masyarakat lalu mengasosiasikan gaya menulis seperti dengan gaya menulis anak kecil yang “ngaco” tapi “polos” – dengan kata lain: menggemaskan. 

Trend “child-like style” (istilah yang menurut saya mendingan dibanding “childish style“), cepat ditangkap oleh perusahaan Sanrio. Pada tahun 1974, perusahaan raksasa itu menciptakan logo kucing lucu yang diberi nama Hello Kitty. Logo Hello Kitty ditempatkan pada barang-barang seperti dompet uang receh, yang langsung laku keras di pasaran. (www.popcultmag.com/criticalmass/books/kitty/hellokitty1.html).

Target pasar Hello Kitty tidak pernah jelas. Walau pun Hello Kitty sangat lucu dan pantas sekali dikenakan anak-anak, konsumen terbesarnya justru orang dewasa (remaja termasuk di dalamnya): “Some are looking for a little cuteness or camp to cheer up an otherwise high-speed professional life that can be pretty weary. Some want to harken back to a time, in their childhood, when they felt more protected or innocent. Still others really hate cute little things like Hello Kitty but collect the stuff, nonetheless, to make a counter-fashion statement. It is all the map”.(www.popcultmag.com/criticalmass/books/kitty/hellokitty2.html)

yamanbaKini, cute culture memiliki wajah yang lebih beragam. Tidak hanya dalam bentuk tulisan dan logo, melainkan juga dalam bentuk gaya busana (Japanese street fashion), gaya menata makanan, gaya rambut, manga baik dalam komik dan film kartun. Ngga hanya di Jepang, cute culture juga telah “menulari” negara-negara lain, termasuk Indonesia. Cute culture dalam film kartun sebenarnya sudah tidak baru lagi. Saya masih ingat – salah satu komik dan kartun kegemaran saya ketika SD dan SMP: Candy Candy (mulai nge-trend di Indonesia tahun 1980-an).

candy-candySerius deh, di awal saya ngehnya Candy Candy tuh cerita anak (ya untuk saya – yang waktu itu masih anak-anak). Tapi, ketika sampai di bagian tengah cerita – saya mulai jengah (rasanya kok risi sendiri nonton film itu). Soalnya, secara fisik (yang ditampilkan di film kartun itu) si Candy masih anak-anak banget – kalau dikira-kira, paling umurnya juga masih tujuh atau delapan tahunan. Tapi, kok udah pacaran dan pake adegan mesra-mesraan segala dengan si Antony – yang ditampilkan sudah beranjak remaja. Dari bagian tengah sampai akhir – seingat saya – isinya ya hubungan cinta antara Candy dan Antony. Ujung ceritanya sih biasa, akhirnya Candy menikah dengan Antony.

Ketidaksadaran. Saya dulu memiliki beberapa barang berlogo Hello Kitty dan menikmati komik dan film Candy Candy (tidak hanya sekali baca atau menonton, tapi berkali-kali. Tidak pernah bosan). Saya tidak pernah sadar saat itu saya termasuk salah satu pemraktik cute culture (walau pun saya merasa cute saat memakai saputangan atau jepit rambut berlogo Hello Kitty). Mengapa? Karena saat itu saya merasa pantas saja, wong saya masih anak-anak (dan cute). Saya sama sekali tidak memiliki kesadaran bahwa Hello Kity dan Candy Candy pada dasarnya adalah cute culture yang sasarannya lebih pada remaja dan orang dewasa.

Tampaknya banyak orang di jaman sekarang (terutama anak-anak dan orang tua) mengalami hal serupa dengan saya: ketidaksadaran bahwa komik dan film kartun yang (anak) mereka konsumsi adalah cute culture yang sasaran utamanya lebih pada remaja dan orang dewasa.

mang_seiyusa151Sailor Moon, misalnya (saya dulu juga pernah suka). Sempat di tayangkan di salah satu stasiun TV swasta nasional pada hari libur (Sabtu dan Minggu) – di mana anak-anak biasa menonton. Tak ayal, banyak anak-anak menonton dan menikmati film kartun ini dan banyak orang tua jadi salah asumsi, mengira Sailormoon adalah tayangan film kartun untuk anak-anak. Banyak adegan dewasa ditayangkan dalam Sailor Moon, misalnya ketika Usagi mencium Seiya. Juga, jangan dilupakan adegan-adegan kekerasan seperti yang ditayangkan dalam Saint Seiya.

Cute culture memang diniatkan untuk memunculkan perasaan atau penilaian “lucu”, “menggemaskan”, “menyegarkan”, “tidak bosan”, “tidak jadul”, dan lain-lain pada sesuatu. Tapi, dari sejarahnya saja, cute culture tidak pernah melibatkan anak-anak (walau pun anak-anak akhirnya terjaring menjadi konsumen karena tertarik pada produk-produk cute culture yang memang cute). Kalau banyak orang tua tidak mudah terjebak dengan Bart Simpson (karena dengan jelas tidak terlihat cute dalam ujudnya yang anak-anak), sebaiknya para orang tua juga tidak mudah terjebak dengan cute culture dalam bentuk-bentuk yang cute – yang mudah menimbulkan salah persepsi, seolah-olah itu produk untuk anak. Tidak semua cute culture menjadi cute kalau dikonsumsi oleh anak kita.

 

15 Februari 2009

3 thoughts on “Cute culture ga selalu lucu

  1. [Lagi-lagi] tulisan yang bagus. Ada personal passion [yang khas kamu] yang meruap sejak awal alinea. Dan, menjadi bagus, karena passion-nya gak terlilit emosi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s