Test IQ, Anak TK dan Saya


Saya pernah diceritain temen, anaknya yang batu mau masuk taman kanak-kanak baru selesai test IQ. Teman saya yang lain bilang, test IQ untuk TK ini membantu sekolah untuk menentukan ‘karakter’ anak-anak. Tujuannya supaya sekolah dapat ‘menyediakan’ guru yang tepat untuk anak-anak. Jadi, mungkin, kalau saya nggak salah – logikanya adalah: anak dengan karakter A akan diberi guru yang B.

Menurut saya, test IQ untuk anak-anak ini sungguh menyedihkan. Mungkin, kalau saya jadi orang tua anak TK yang diminta untuk melakukan test IQ, saya akan marah. Serius, deh. Marah.

Alasan saya ada dua.

Pertama, tau nggak, ada percobaan dengan pendekatan yang dalam studi psikologis disebut dengan Stereotype Threat.

Yang saya tahu, sudah ada beberapa percobaan yang dilakukan dengan pendekatan ini. Yang saya ingat itu percobaannya Jane Elliot di tahun 1968 yang judulnya A Class Devided: Then and Now dan penelitiannya Joshua Aroson di tahun 1995 tentang stereotipe kecerdasan.

On both days, children who were designated as inferior took on the look and behavior of genuinely inferior students, performing poorly on tests and other work. In contrast, the “superior” students — students who had been sweet and tolerant before the exercise — became mean-spirited and seemed to like discriminating against the “inferior” group. (dari penelitian Jane Elliot)

Kedua studi ini melakukan penelitian eksperimen pada kelompok orang yang sebenarnya kecerdasannya setara. Tetapi, peneliti lalu memberi label berbeda pada dua kelompok tersebut. Kelompok yang satu diberi label ‘tidak begitu pintar’ sementara kelompok yang lain diberi label ‘pintar’. Hasilnya, kelompok yang diberi label ‘pintar’ berkembang menjadi orang-orang pintar, sementara kelompok yang diberi label ‘tidak begitu pintar’ berkembang menjadi orang-orang yang tidak begitu pintar (ingat: padahal, awalnya kepintaran orang-orang dalam dua kelompok ini SAMA).

Ada lagi penelitiannya Philip Zimbardo di tahun 1970an. Namanya “The Stanford Prison Experiment”, coba klik link ini kalau mau tau lebih banyak.

Zimbardo memilih 24 mahasiswa laki-laki yang sehat secara mental dan jasmani, dari kelompok sosial yang sama (kulit putih dari kelas menengah atas). Lalu 24 mahasiswa ini dibagi dalam dua kelompok: tahanan dan sipir. Hanya dalam waktu dua hari, kelompok yang diberi label ‘penjahat’ dan ‘tahanan’ mengembangkan sikap kriminal, memaki, merusak, dan pembangkang. Sementara kelompok yang diberi label ‘sipir’ mengembangkan sikap (sok) berkuasa, kejam, menekan, dan senang menghukum.

After observing our simulated prison for only six days, we could understand how prisons dehumanize people, turning them into objects and instilling in them feelings of hopelessness. And as for guards, we realized how ordinary people could be readily transformed from the good Dr. Jekyll to the evil Mr. Hyde (dari penelitian Philip Zimbardo)

Ada ratusan penelitian dengan pendekatan ‘stereotype threat’. Coba cek di sini dan di sini.
Penelitian-penelitian ini menunjukkan ‘keburukan yang sama’ tentang betapa fatalnya memberikan ‘stereotipe’ pada manusia.

Balik lagi ke soal test IQ untuk anak TK. Anak TK gitu loh. Umurnya berapa sih? Ibarat kertas putih, yang paling baru ditulis tanggal di pojok kiri atas. Apa yang bisa dibuat untuk menentukan ‘karakter’ nya? Nah, apalagi pada anak-anak, yang sifat alamiahnya masih seperti spons, menyerap apa pun yang diajarkan lingkungan sosialnya. Yang terakhir, Aronson menyatakan hal yang penting, yang selalu saya ingat sebagai orang tua: “intelligence is both fragile and malleable” dan “Temperament is not destiny”. Satu lagi, IQ itu beda loh sama EQ.

Buat saya, ngasih test IQ ke anak TK itu sama aja menanamkan stereotipe dini. “Hey Nak, kamu pintar loh. IQ mu 180″ dan “Hey Nak, maaf – kamu ternyata biasa-biasa saja. IQ mu ‘hanya 118′.” dan “Aduh Nak, kamu ternyata bego. IQ mu 90.”

Kedua, saya baca-baca tentang ‘perlunya test IQ untuk anak TK’. Lalu, beberapa artikel muncul dengan pernyataan yang sama ‘Indikator anak berbakat’, yang menyatakan ‘anak berbakat berbeda dengan anak pintar’.

Menurut saya, dengan segala hormat pada para psikolog, tiap manusia itu berbakat. Ada yang berbakat menyanyi, ada yang berbakat menulis, ada yang berbakat begosip, ada yang berbakat memecah belah, ada yang berbakat usil, ada yang berbakat penjahat, ada yang berbakat menjadi ilmuwan. Talenta. Ada yang baik dan ada yang buruk. Hubungannya apa dengan ‘kecerdasan’? Lalu, misalnya – ada dua manusia. Yang satu bisa menghasilkan kue-kue yang enak yang bisa dijual, hasil dari belajar sendiri. Yang satu insinyur lulusan Harvard kerja di perusahaan multinasional. Yang satu nggak cerdas (tapi berbakat) – yang satu cerdas (tapi nggak berbakat)?

Tolong terangkan.

Terakhir. Sekadar cerita tentang test IQ saya. Hanya mau berbagi cerita pada orang tua dan orang yang bekerja di sekolah (dan memberi test IQ pada anak TK), bahwa IQ nggak ada hubungannnya dengan kualitas hidup jangka panjang.

Hasil test di SD, SMP dan SMA – menunjukkan hasil yang sama. IQ saya 144. Waktu SD, saya nggak pernah dapat ranking satu. Waktu di SMP saya pernah dapat ranking 33 dari 33 murid (selebihnya selalu ranking 20 besar dari kelas yang kecil). Waktu kuliah, di semester pertama IP saya 2.00 dan di semester kedua 1.96. Lalu diancam pembimbing akademik akan drop out kalau terus punya IP begitu (bandingkan dengan sahabat saya di S1 dulu. Jek Chin, yang ngaku IQ nya itu 99. Tau ga, IPnya jebol 4 di beberapa semester. Lulus dengan IPK 3.9). Saya belajar di bangku S1 5 tahun (harusnya empat tahun), bangku s2 3 tahun (harusnya cuma dua tahun), dan sekarang s3 belum kelar-kelar dari tahun 2009. Nggak punya bakat apa-apa selain ngakak-ngakak baca page ini. Duit nggak punya juga. Terus, masalahnya apa?

Ini bacaan bagus.
Ini juga ding, bacaan bagus.

About these ads

5 thoughts on “Test IQ, Anak TK dan Saya

  1. Ngakak dewe moco postinganmu iki mbak.
    Pelabelan itu memang berbahaya, orang cenderung bertumbuh ke arah label yang diberikan, anw IQku 126 dan selalu top three di sekolah lho *disambit sandal* :))

  2. kalo IQ ku berapa ya?aku sampe lupa IQ ku berapa, hihihihihi
    santai mbak aku temenin aku lupa IQ ku tapi aku biasa aja *njuk apa hubungannya ya*

    • Biasa aja. IQ bukan satu2nya indikator kok. IQ tinggi tapi kelakuan minus, plus nggak manis dan nggak suka nabung, buat apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s