Kalian suka browsing tanpa tujuan nggak? Saya suka.
Beberapa bulan yang lalu saya nonton Buddha Boy di Youtube. Buddha Boy, atau Ram Bahadur Bomjon lahir di Nepal tahun 1990. Weeee muda ya?
Istimewanya apa Buddha Boy ini? Ia bermeditasi sambil berpuasa selama 6 bulan tanpa makanan dan air. Ha! Kalau kalian sempat, ada lima bagian di YouTube tentang Buddha Boy. Ada banyak tulisan kalau kalian Google. Menarik sekali melihat ilmuwan-ilmuwan Barat menanggapi meditasi beserta puasa yang dilakukan Buddha Boy ini.
Awalnya para ilmuwan itu menyangsikan keberhasilan Buddha Boy diawal meditasinya. Lalu, setelah beberapa waktu terbukti Buddha Boy bisa terus bermeditasi tanpa air dan makanan, mereka mulai membahas dengan teori-teori “Barat” yang ujung-ujungnya bilang: “Pasti ada yang mensuplai makanan ketika orang-orang tidak ada di sana”. Beberapa jurnalis dari beberapa stasiun tv dunia memutuskan untuk memasang CCTV selama beberapa hari. Dan, ya. Mereka tidak melihat seorang pun mengantarkan makanan atau air untuk Buddha Boy (dan Buddha Boy tetap duduk bersila dengan tenang di bawah pohon). Setelah gagal membuktikan ‘kecurangan’ Buddha Boy, para ilmuwan Barat ini mulai membahas ketidaksehatan Buddha Boy karena tidak makan dan minum, dan kemungkinan ‘cacat’ tubuh dan fungsi kerja saraf. Tapi, setelah beberapa bulan – stasiun TV menangkap Buddha Boy bangkit dari meditasinya, dan berjalan masuk hutan tanpa lunglai atau gontai sedikitpun.
Saya jadi ingat pernah nonton film Jet Li yang berperan sebagai tabib. Dokter-dokter Barat di film itu bilang: “saraf otot bekerja dibawah sistem otot jantung”. Mereka mencontohkan, otot refleks di bagian dengkul yang ketika dengkul di ketuk kuat, pasti kaki kita secara reflek menendang. Jet Li bilang: “Nggak. Semua bisa diatur. Otak adalah kuncinya”. Lalu, Jet Li menusukkan beberapa jarum akupuntur pada dengkul seorang pasien, dan ketika diketuk – si dengkul diam saja.
Percaya nggak? Saya percaya.
Saya percaya ada kearifan ilmu pengetahuan Timur yang tidak bisa masuk/diterima logika ilmu pengetahuan Barat. Lihat deh, bagaimana kebanyakan masyarakat Barat menentang pengobatan alternatif. Ya memang, nggak bisa dijelaskan (rasanya sih bisa – tapi belum diteliti aja). Tapi kan bekerja dan bermanfaat kan? Teman-teman saya di sini sering ketawa kalau saya menyarankan mereka buat teh Dandelion kalau mereka demam. Atau menyangsikan nasehat ‘teh cengkeh’ saya kalau lagi batuk.
Kalian gimana? Percaya nggak kearifan Timur? Suka nggak pengobatan herbal atau alternatif?
Salam hangat.
Gambarnya, Kamrusepa, saya ambil dari sini. Terimakasih ya.
================
Kamrusepa adala dewi kesembuhan, pengobatan dan mantra dalam mitologi Hittite. Disebut Ibu, penyembuh yang maha ampuh dan dukun yang memberikan kesembuhan pada orang-orang Mesopotamia. Dia memerintah dengan menggunakan nyanyian dan ritual. Bagi Dewi Kamrusepa madu dan buah-buahan adalah benda-benda sakral.

Umm… saya pernah baca dan nulis tentang Breatharianism. http://dewikharismamichellia.blogspot.com/2011/06/sweets-inedia.html
Soal kearifan timur, teman saya, Mas Zamzam, pernah cerita tentang penelitian etnofotografi, ada yang pernah meneliti kebiasaan orang di Bali yang selalu memangku anaknya (foto-foto itu menunjukkan bagaimana semua orang tua/kerabat di foto menggendong anak dengan cara tertentu) dan didapati juga bagaimana seorang kakek mengajari cucunya bermain angklung/gamelan dengan ‘pengayoman’ yang sama, lalu dibuatlah teori bahwa orang Bali biasa mentranser ilmu mereka melalui tubuh, tanpa buku/ilmu di bangku sekolahan. Itu menjelaskan kenapa orang-orang Bali biasa belajar kesenian secara otodidak.
Eh BTW, web yang Dewi Kesembuhan itu lagunya enak. Rajin mampir ke sana, Mbak Titut?