1

Kosong dan isi: castration anxiety


standardized-testing-comic3

Agak lupa, di kelas yang mana. Suatu hari seorang mahasiswa saya berbagi tentang pengalamannya pertama masuk universitas tempat saya bekerja.

“Di Bekasi, orang nggak peduli kamu pakai iPhone atau nggak. Tetapi di sini, beda. Semua orang pakai iPhone. Kayak di tempat kos saya: kalu sedang kumpul-kumpul, semua bicara soal iPhone. Saya jadi terasing karena tidak mengerti apa yang dibicarakan. Saya merasa jadi outsider.”

Mahasiswa saya yang lain, di waktu yang berbeda, bercerita bagaimana dia merasa berbeda dengan “anak Jakarta”. “Waktu saya datang dari daerah saya, saya merasa berbeda. Dari cara berpakaian dan cara bicara. Anak-anak yang dari Jakarta terlihat keren dan cara bicara mereka juga keren. Saya jadi terdengar dan terlihat aneh. Jadi terasing. Sehingga pelan-pelan saya mulai menyesuaikan diri.”

(menarik nafas)

Kita, mungkin, menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk belajar keras menjadi seperti orang lain. Kita punya kebutuhan untuk menjadi ‘sama’ seperti kebanyakan orang agar kita diberi ‘tempat’ di mana kebanyakan orang berada. Di tempat itu, mereka (dan kita) berbagi gaya hidup yang standard, obrolan yang setopik, baju yang segaya, dandanan yang setrend, makanan yang setrend, barang yang semerek, pengetahuan yang standard. Artinya, sepanjang hidup kita, mungkin, akan banyak waktu kita habiskan untuk menutupi ketidaksamaan kita agar menjadi sama dengan orang banyak. Sehingga, kita melupakan bahwa we are all born originals (Edward Young).

Tahu castration anxiety? Istilah ini diperkenalkan oleh SIgmun Freud untuk menggambarkan kegelisahan setelah manusia mengidentifikasi perbedaan dirinya dengan orang pada umumnya.  Castration anxiety menggambarkan perasaan tidak signifikan (karena kondisi berbeda) dan karenanya menimbulkan perasaan terdominasi dan perasaan lebih rendah/inferior (terhadap mereka yang kebanyakan memiliki kesamaan). Menurut Freud, perasaan ini menunjukkan ketakutan bahwa kondisi berbeda menyebabkan seseorang kehilangan kekuasaan (padahal tidak ada yang mengambil). Sehingga, mereka yang merasa tidak signifikan karena berbeda pada akhirnya akan menyelamatkan ‘kehormatan’ dengan berusaha mati-matian untuk menjadi sama dengan orang kebanyakan dengan cara-cara yang tidak rasional.

Misalnya, sebenarnya tidak butuh-butuh amat pakai iPhone tapi maksain beli hanya karena orang lain pakai iPhone. Padahal, mungkin sebenarnya kita tidak perlu merasa ‘inferior’ (karena tidak punya iPhone) kalau tahu bahwa iPhone dijalankan dengan operating system iOS sementara beberapa merek telepon yang lain dijalankan dengan operating system Android atau QNX atau Windows. Semuanya tadi itu bukan merek, tetapi mobile operating system – yang kita pilih karena fungsi dan karakternya. Tiap mobile operating system punya kelebihan dan kekurangan sendiri.

Saya, misalnya, tidak memilih iPhone. Buat saya pemilik iPhone adalah anak manja yang harus selalui dijagain  dalam walled garden. Teman saya tidak mau membeli produk Apple.inc karena hal ini.

Kalau sudah seperti ini orang akan kelihatan keren bukan karena ybs punya iPhone atau tidak. Orang akan kelihatan keren kalau dia punya ilmu pengetahuan yang bisa menjelaskan kenapa ybs memutuskan berbeda (dengan bangga). Bangga kan, kalau bisa menerangkan mobile operating system di kelompok mayoritas iPhone tanpa harus punya iPhone? Bangga kan, kalau dapat menerangkan tidak menggunakan iPhone demi kemanusiaan?

I would say this. I think to be able to choose to be different is a struggle. Yet, it is an autonomous decision. It is a great privilege (and courage) to be who we are and do what we want to do according to great knowledge of our own, not the given values and beliefs of society. For that reason, we need to skill boundless knowledge.  Foucault said (having) knowledge is power. Master it.  On top of everything, I think it is extremely eewww if we let brands define us so we could look like others? We are all born originals, why is it so many of us die copies?

==========================

“The difference between my darkness and your darkness is that I can look at my own badness in the face and accept its existence while you are busy covering your mirror with a white linen sheet. The difference between my sins and your sins is that when I sin I know I’m sinning while you have actually fallen prey to your own fabricated illusions. I am a siren, a mermaid; I know that I am beautiful while basking on the ocean’s waves and I know that I can eat flesh and bones at the bottom of the sea. You are a white witch, a wizard; your spells are manipulations and your cauldron from hell yet you wrap yourself in white and wear a silver wig.”
C. JoyBell C.

0

So, I read and listen too…


Once there was a young warrior. Her teacher told her that she had to do battle with fear. She didn’t want to do that. It seemed too aggressive; it was scary; it seemed unfriendly. But the teacher said she had to do it and gave her the instructions for the battle. The day arrived. The student warrior stood on one side, and fear stood on the other. The warrior was feeling very small, and fear was looking big and wrathful. They both had their weapons. The young warrior roused herself and went toward fear, prostrated three times, and asked, “May I have permission to go into battle with you?” Fear said, “Thank you for showing me so much respect that you ask permission.” Then the young warrior said, “How can I defeat you?” Fear replied, “My weapons are that I talk fast, and I get very close to your face. Then you get completely unnerved, and you do whatever I say. If you don’t do what I tell you, I have no power. You can listen to me, and you can have respect for me. You can even be convinced by me. But if you don’t do what I say, I have no power.” In that way, the student warrior learned how to defeat fear.
Pema Chödrön, When Things Fall Apart: Heart Advice for Difficult Times

0

(orang) Kaya KW1, Pencuri Fasilitas Umum


10501650_10152415328644690_3632325427482789413_n

Mohon maaf bila ada yang tersinggung.

Sejak lebaran kemarin, ‘pemerintah lokal’ seputar gang rumah saya memberlakukan aturan baru: menutup portal muka gang. Gara-garanya ketika liburan lebaran lalu, ada warga yang kecurian mobil.

Sebelum ‘pemerintah lokal’ menutup portal muka gang dekat rumah saya, saya sudah tidak suka mengendarai mobil. Sekarang, saya lebih tidak suka lagi. Kalau mengendarai mobil, untuk keluar rumah menuju jalan raya, saya harus memutar ke arah muka gang yang satu lagi, melalui jalan yang lebih panjang dan lebih banyak rumah (tetangga, yang saya tidak kenal). Di depan hampir tiap rumah yang saya lalui, ada mobil di parkir di (pinggir) jalan. Akibatnya, saya selalu deg-degan, takut menyerempet karena jaraknya mepet sekali. Belum lagi kalau dari arah yang berlawanan ada mobil lain yang juga akan lewat. Kemarin, saya berpapasan dengan sebuah mobil besar, yang dikendarai supir yang ‘pongah’ – tidak mau minggir sedikit juga dan mengharapkan saya nyetir mundur sejauh 200 m. Enak saja.

Seminggu ini saya menyimpulkan sesuatu.

Lingkungan tempat saya tinggal bukan lingkungan orang ‘kaya raya’ (sepertinya). Lingkungan ini penuh dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah sederhana (well, kalau dibandingkan dengan rumah-rumah di Pondok Indah atau Menteng). Setiap rumah, rata-rata, tidak lagi memiliki pekarangan dengan rumput. “Rumah” adalah bangunan yang tidak menyisakan area ‘pekarangan’ bahkan untuk garasi sekalipun. Pemilik rumah memaksimalkan tanahnya untuk bangunan.

Tapi, kebanyakan orang memiliki mobil-mobil mewah yang diparkir di (pinggir) jalan depan rumah mereka. “Mencuri’ jalanan yang selayaknya adalah fasilitas umum. Beberapa memiliki mobil sekelas Land Cruiser dan Jeep yang maha besar dibanding lebarnya gang. Saya perhatikan, mereka ini parkir tanpa empati (bukan lagi perasaan bersalah mencuri jalanan sebagai fasilitas umum) dan menyetir dengan pongah, hati-hati saja tidak mau.

Kenapa mereka tidak membeli tanah yang lebih besar supaya dapat membuat garasi? Kalau karenanya mereka harus ‘berkorban’ membeli mobil yang lebih sederhana, kenapa tidak? Mau terlihat kaya dengan pamer punya mobil mewah nan besar, tetapi mengambil hak umum dengan parkir di (pinggir) jalan (umum).

Mencuri, tapi bangga sekali. Tidak tahu malu.

Terimakasih Ira Hairidauntuk meminjami saya gambar parkiran mall di Palembang.

0

Statistikku sayang, statistikku malang


Untuk beberapa orang, pilpres 2014 sudah selesai. Beberapa masih meneruskan prosesnya. Semoga angka berpihak pada yang benar dan baik.

Angka.

Idealnya ya, yang berperan penting dalam pilpres 2014 adalah angka. Iya, angka dari setiap poling yang dilakukan oleh banyak lembaga survei sebelum, pada saat dan setelah pilpres 2014. Misalnya saja diagram survei Vox Populi ini

GAMBAR 1

populi1
(Lembaga Survei Vox Populi: Elektabilitas Parpol dan Calon Presiden Pada Pemilu 2014 yang datanya diambil tanggal 9-23 December 2013)

Data, ya angka. Angka, ya data. Atau, ekstremnya kita bisa sebut data ini sebagai fakta (ngeri ya?). Data ini kalau menurut Vox Populi berasal dari sistem penarikan sampel probabilita. Artinya walau survei ini diambil dari sampel, hasilnya tetap dapat digeneralisasi karena (harusnya) sudah melalui proses reliabilitas dan validitas data.

Jadi, kalau berdasarkan survei ini, 97,9% dari total pemilih ingin pemimpin yang ‘Punya Strong Leadership’. Tapi, pemilih lebih ingin punya pemimpin yang ‘Melayani dan Peduli’ (98,8% dari total pemilih). Dengan catatan: pada waktu survei diadakan lho ya. Hasil ini tidak bersifat ‘abadi’ karena manusia itu kan pada dasarnya ababil sejati.

Juga penyajian ‘data’ berikut (masih dari survei yang sama):

GAMBAR 2

populi2

‘Data’nya suvei ini (waktu itu), kebanyakan ‘masyarakat’ (hasil generalisasi sampel), yaitu 33,1%, akan memilih Prabowo pada pilpres 2014. Sementara hanya 10,1% ‘masyarakat’ yang akan memilih Joko Widodo dalam piplres yang sama.

Suka atau tidak suka, angkanya bilang begitu, mau apa?

Nah,  yang angka tidak bilang adalah ini:

GAMBAR 3

 

hasil-survei-ox-populi-survey-20-638TAPI, lembaga survei ini mengklaim pernyataannya yang tanpa data sebagai ‘Temuan Survei’. Lha, datanya mana? Angkanya mana???

Coba deh, baca naskah survei lengkapnya di sini. Mungkin saya yang tidak teliti membacanya (kalau demikian, saya minta maaf, ya). Tetapi, saya sudah membaca dua kali dan tidak ada data yang menyatakan point pertama pada gambar di atas.

Datanya hanya bilang waktu itu (sekitar bulan Desember 2013) begitulah keinginan ‘rakyat’. Pingin pemimpin yang punya leadership, punya pemimpin yang melayani dan peduli. Pingin milih Prabowo dibanding Joko Widodo. Tapi TIDAK ADA data yang bilang bahwa

GAMBAR 4

hasil-survei-ox-populi-survey-20-638 (2)

 

Saya tidak terlalu paham statistik, hanya tahu sedikit. Yang saya tahu, pernyataan di atas itu dapat didukung dengan penyajian tabel silang (cross tab) antara GAMBAR 1 dan GAMBAR 2. Artinya data antara GAMBAR 1 dan GAMBAR 2 disilangkan (menggunakan alat data statistik seperti SPSS) untuk melihat hubungan antara ‘karakter presiden idaman’ dan ‘calon presiden’. Nantinya data tabulasi silang ini akan menghasilkan data yang lebih spesifik ‘siapa calon di pillpress yang dianggap memiliki kriteria presiden idaman’. Kalau itu disajikan, maka klaim lembaga survei di atas itu ‘sah’ karena memang ada ‘angkanya’. Ada ‘datanya’. Ada ‘faktanya’. (Walaupun saya masih tetap bingung darimana ‘pengelolahan pemerintahan yang selama ini sangat korup, lemah serta tidak punya rasa percaya diri dan selalu dilecehkan oleh negara tetangga’ itu berasal).

Tau nggak sih, orang jaman sekarang punya percaya diri yang besar sekali kalau mengutip atau menyebarkan ‘hasil survei’. Orang-orang semakin ‘pinter’ karena paham ‘survei’ itu menyajikan ‘data’ (yang HARUSNYA reliabel dan valid). Sayangnya, orang-orang belum cukup pintar untuk paham bahwa survei mempunyai daya persuasif yang didgaya, terutama ketika menggunakan statistik (angka). Yang orang kurang ngeh adalah bahwa survei dan statistik itu sering dimanipulasi untuk menyuarakan argumen yang lemah (dan disebarkan untuk memanipulasi orang-orang yang kurang paham statistik seperti saya).

Saya jadi ingat Mark Twain yang bilangthere are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics‘. Yang bohong itu bukan statistiknya, Pak Twain. Kalau sudah seperti ini yang bohong itu yang menggunakan statistik. Statistik digunakan untuk memanipulasi, untuk membohongi (pikiran) orang (dan diri sendiri).

Statistikku sayang, statistikku malang. Dikira tukang bohong. Padahal, yang bo’ong kan tukang surveinya.

Kasihan ya statistik.

0

Blue


Me: Dear God, I want a blue blanket.
God: This blue blanket?
Me: No, another blue blanket.
God: This blue?
Me: No.
God: What kind of blue do you want?
Me: The blue that rips my heart out.
God: You don’t see that type of blue around here.
Me: OK.

Feeling-Blue

Picture.

4

Asisten atau pembantu (rumah tangga)?


cleaning-8765

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang terburu-buru pulang, seorang teman bertanya: “Kenapa buru-buru?”
Saya menjawab: “Karena anak saya sendirian di rumah”.
Teman saya bertanya: “Oh, nggak punya pengasuh atau asisten?”
Saya jawab: “Saya nggak punya pembantu”.
Teman saya tersenyum dan berkata, “Asisten, bukan pembantu.”
Saya, tersenyum balik, mengatakan: “Nggak, pembantu kok. Bukan asisten.”
Lalu, saya berlalu.

Dalam bahasa Inggris (paling tidak), asisten (rumah tangga) (assistant) memiliki arti:
as·sis·tant [uh-sis-tuhnt]
noun

  1. a person who assists or gives aid and support; helper.
  2. a person who is subordinate to another in rank, function, etc.; one holding a secondary rank in an office or post: He was assistant to the office manager.
  3. something that aids and supplements another.
  4. a faculty member of a college or university who ranks below an instructor and whose responsibilities usually include grading papers, supervising laboratories, and assisting in teaching.

Sementara, pembantu (rumah tangga) (home-helper) memiliki arti:
home-help·er [hohm-hel-per] 
noun

someone who provides part-time or full-time care for a sick or disabled person at home.

Saya ngaku, salah satu sifat saya adalah sok tahu dan keras kepala. Saya kekeh menggunakan kata ‘pembantu’, dan bukan kata ‘asisten’ karena nasihat ayah saya.

Menurut ayah saya, pembantu adalah: orang yang membantu kita. Artinya, pekerjaan apa pun yang mereka bantu – pada dasarnya adalah pekerjaan kita. Jadi, kita adalah penanggung jawab utama pekerjaan itu. Artinya, yang utama yang harus melakukan kerjaan apapun itu adalah: kita. Sementara pembantu bukanlah orang utama yang seharusnya melakukan pekerjaan apapun itu. Tugas mereka adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kecil, pritil, dan bukan utama.

Sekarang ini kan orang-orang itu kebalik. Justru pembantu yang melaksanakan pekerjaan utama, sementara kita melakukan sisa kerjaan yang kecil-kecil dan bukan utama“, kata ayah saya.

Jadi, menurut ayah saya – misalnya, kalau kerjaan itu adalah memasak, maka tugas pembantu adalah: mencuci perkakas yang kita gunakan untuk memasak. Tetapi bukan: ke pasar belanja bahan (karena bahan adalah yang utama). Tetapi bukan: mempersiapkan bahan makanan (karena bentuk dan ukuran adalah yang utama). Juga bukan: memasak (karena rasa adalah yang utama). Kalau penampilan masakan adalah yang utama, maka pekerjaan itu bukanlah pekerjaan pembantu, tetapi kita.

Sesederhana itu logika ayah saya.

Kebanyakan dari kita terlalu malas. Sehingga banyak orang menganggap menggunakan kata pembantu adalah merendahkan pekerjaan ini.

Padahal, menurut saya – secara logika, ‘pembantu’ lebih tepat dari kata ‘asisten’. Mereka bukan orang kedua setelah kita kalau dalam urusan rumah tangga. Masih ada suami atau isteri atau anak.

Tapi, tentu saja – logika ini adalah menurut saya (berdasarkan nasehat ayah saya yang saya anggap benar secara logika).

Demikian.

Gambar diambil dari sini, ya.

0

Lovely classes and students


This semester I am teaching PTIK, Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi for a S1 reguler class and a S1 pararel class. I’ve found PTIK is a cool subject. They are lovely, wonderful students.

Today, I just realized how I am growing too with my students, updating our knowledge in ICT.

I began these classes introducing basic concepts in ICT. I started with technological determinism theory. I also introduced them to a notion of Trekology. Then I offered them a view of SCOT, Social Construction of Technology (Theory). I really hope they understand differences between these two different but connected theories.

Then it was a reminder topic that we (yes, all of us) are moving from analog-sphere into digital-sphere. This, then, included explanations about mediamorphosis: a term (by Roger Fidler) that defines how technologies (especially of communication of media) are evolved. This topic, I told them, relates closely to issues of copyright infringement. I closed this process of updating knowledge by introducing them to a notion of Luddites, those who reject being abused by technology.

However, last weeks of these classes I have asked my students to present infographics or pictographs. These charts should inform the technological establishment of particular devices (free choices). They should include discussions of analog-digital transformations, theories, copyrights, and Luddites.

You should come to my class.

They are lovely, lovely students. They presented the technological establishment from interesting industries such as music and games, too. You name it: vocaloid, emulator, dota 2 competition, networked book, and other cool stuffs. I enjoy these classes very much, where I have updated my knowledge (hopefully as much as my students have too). Wonder though, why they do not bring up the topic of digital boyfriend/girlfriend ;)

On top of everything, I bet you are very jealous now of knowing that you’re not in luck like me. I have lovely classes and students this semester. I do really enjoy this experience!

.