28 December 2009

Tukang becak segala bisa

For the first time I met Cahya today. He came at hotel where I and Gita are staying. We were about to have dinner yet had needed to buy my ticket to go back to Jakarta *by the way it’d sold out*. We had dinner in Tio Ciu – one of the famous chinese restaurants in Jogjakarta. However, after finishing dinner – Gita asked to take becak to get back to our hotel. Arguing for awhile – *in the name of human rights* then we decided to take two becaks: I was with Gita in open top becak and Cahya was happy alone in usual becak *its roof was on* hehe

Mr. Becak: ini bundaran UGM, untuk balap honda.
Me: lho, mana balapannya?
Mr. Becak: Wooo, udah ngga boleh lagi thoooo
Me: Oooo. Lha, itu! Itu pada ngapain *apointed to bunch of male teens, gathering by the gate*
Mr. Becak: Oooo, itu kan pada mejeng
Me: LoL
Mr. Becak: Lha iya tho? Anak muda sekarang kan sukanya mejeng

*I had not heard mejeng for ages hahahaahahah*

… and we kept moving – I mean he was carrying me and gita on his becak.

Gita: Bu! Bu! Look! *apointed to terompet*
Me: Oh, iya. Terompet ya? Mau tahun baru, Nak. Bagus ya?
Mr. Becak: Srompret! Nek terompet lha kan mestine awet. Wong iku mung kertas – yo srompret! Wong sediluk rusak!
Me: LoL

…. we still kept moving. It was a slow motion coz Mr. Becak was going up the street carrying me and Gita in his becak.

A lady IN THE CAR *driver drove the car slowly next to our becak*: Mas! Mas! Adi Sucipto ke mana ya?
Mr. Becak *ngos-ngosan*: Itu *hosh* terus *hosh* belok kiri *hosh hosh*
Me: LoL

… we still kept moving *slowly*. We were passing a restaurant. Several cars were parked outside. Pair of lovers had fight.
Male: *)*$)^%^&^*&%A#&%$*&^(#*&B *with very loud voice*
Female: *crying*
They stoped coz we (me, Gita and Mr. Becak) kept moving watching them – stared back to us (me, Gita and Mr. Becak) – ashamed (perhaps).
Male: Kowé ngetuti, aku mbengok! *mbengok tenan*
Mr. Becak: Wah. Kasar iku! Kasarrrrrrrrrr!
Me: LoL

Oh, what a night! Thanks for Mr. Becak, Cahya and Gita.

25 December 2009

Ketika (panitia) Natal tidak menyayangi anak-anak

little match girl

Semalam saya datang ke misa natal bersama keluarga (dalam jumlah agak) besar. Misa natal kali ini agak khusus dan beda. Ada dua hal yang menarik perhatian saya.

Yang pertama, Gita dan kedua sepupunya – Bram dan Widya – ikutan nyanyi, gabung dengan paduan suara anak-anak. Dua puluh empat anak-anak akan nyanyi bersama paduan suara dewasa. Lucu banget ngeliat bapak-bapak dan ibu-ibu anggota paduan suara itu sibuk ‘menyesuaikan’ diri dengan anak-anak yang polos-polos – karena beberapa anak bahkan masih dibawah lima tahun.

Yang paling nggemesin dan lucu, karena masih itungan balita (BAwah LIma TAhun), mereka bahkan belum bisa membaca, tapi tetap – demi kesetaraan dan kesamaan, mungkin – mereka diberi map berisi partitur lagu-lagu misa. Map yang jadi terlihat “sangat besar” itu justru menutupi wajah-wajah mungil mereka. Hahahaha Saya geli sekali ngeliat dirigen berulang kali bilang sama anak-anak itu untuk menurunkan mapnya supaya enggak nutupin wajah *yang artinya juga nutupin suara keluar* Belum lagi ngeliat ada satu ibu yang jadi malah sibuk nyolek-nyolek anak-anak itu – ngasih tahu supaya duduk tenang dan enggak berisik *padahal, dianya sendiri jadi malah enggak konsentrasi ngikutin misa jadinya, kayak saya yang malah asik nontonin “kesibukan” seputar daerah anggota paduan suara*

Yang kedua, beberapa anggota paduan suara dewasa ternyata telah meminta pada panitia liturgi untuk menyisakan beberapa baris paling depan di dalam gereja untuk pasukan penyanyi anak-anak itu. Alasannya, jika jumlah pasukan penyanyi anak-anak itu digabung dengan jumlah anggota paduan suara dewasa maka artinya akan ada hampir lima puluh orang yang duduk di tempat yang disediakan untuk paduan suara – di sudut muka gereja, di dekat orgen. Sementara, area paduan suara itu “cukup” sempit.

Tapi yang buat saya miris, panitia natal tidak merelakan beberapa baris paling depan diberikan pada pasukan penyanyi anak-anak itu. Alasan mereka: kasihan umat lain yang tidak kebagian tempat duduk – karena quota tempat duduk untuk umat berkurang. Oh, jadi – anak-anak bukan umat ya? Baru tahu lho saya! Mau misa kok jadi malah kesel ngeliat betapa tidak sayangnya (organisasi) gereja tempat saya misa itu pada anak-anak.

Saya minta maaf untuk mengatakan ini, tapi – itu misa malam natal, lho! Juga, bahkan Yesus sendiri menempatkan anak-anak sebagai tamu yang istimewa dalam perjamuannya. Kenapa sih, panitia natal itu ga mau ngeliat pasukan penyanyi anak-anak yang (kebetulan) berseragam itu – adalah umat yang datang dan bersedia bernyanyi (lebih banyak) dengan sukarela? *pake latihan sebulan penuh sebelumnya, lagi!* Akhirnya, beberapa bangku yang awalnya sudah disediakan untuk pasukan penyanyi anak-anak itu dilepaskan, direlakan digunakan umat lain. Bangku-bangku pun diatur berdesak-desakan di area paduan suara – supaya bisa memuat hampir 50 orang anggota paduan suara – baik anak dan dewasa.

Yang lebih lucu (secara sarkasme, tentu) – beberapa kali dulu saya datang ke misa anak. Biasanya sih misa anak itu diadakan hari Minggu pagi jam 8.30 pada minggu pertama setiap bulan. Oleh panitia misa, disediakan baris-baris khusus dibagian depan untuk anak. Para pengasuh bina iman mendorong dan menemani anak-anak untuk duduk bersama teman-temannya (bukan bersama orang tua atau pengasuhnya).

Nah, selalu setiap kali misa anak – saya melihat banyak orang dewasa memaksa duduk di baris-baris khusus untuk anak-anak. Padahal, pada ujung-ujung meja sudah ditempeli kertas dengan tulisan besar-besar: KHUSUS MISA ANAK. Tapi, yang selalu saya lihat adalah panitia enggak bisa berbuat banyak ketika orang-orang dewasa merebut hak anak-anak itu *tidak setegas apa yang tadi malam saya lihat mereka lakukan pada anak-anak itu* Dan akhirnya, banyak anak yang tidak bisa duduk di baris depan. Padahal misa hari itu seharusnya jadi misa khusus, yang harusnya menjadikan anak-anak sebagai tamu istimewa *namanya juga misa anak-anak gitu lho!*

Mmmhh, enggak di dalam negara, keluarga, juga gereja – anak-anak selalu jadi warga kelas dua, ya. Saya memang bukan pengikut organisasi Katolik yang baik. Saya jarang ke gereja. Saya sudah bertahun-tahun enggak ngaku dosa. Saya sungguh bukan anggota organisasi yang baik. Saya sadar betul enggak punya kapasitas memadai untuk berkata-kata bijak. TAPI saya kesal sekali melihat bagaimana mereka memperlakukan anak-anak. Apa iya, Tuhan melihat anak sebagai warga negara dan umat kelas dua?

Ayolah, ini natal – hari kelahiran seorang ANAK – bukan ORANG DEWASA! Menurut saya, harusnya anak-anak justru jadi tamu istimewa pada setiap misa malam Natal, layaknya seorang anak mengundang teman-temannya ikut merayakan hari ulang tahunnya. Kenapa justru tamu istimewa itu dinomorduakan? Huh, masa memberikan tiga baris tempat duduk yang satu barisnya cuma bisa diisi mentok-mentok 5 orang anak aja enggak rela sih??? Natal-natal gini, kenapa juga saya jadi riwil gini ya? Hahaha

HAPPY CHRISTMAS EVERYONE!

20 December 2009

AVATAR, Pocahontas, TLotR, The Craft

Waktu kemarin saya main ke Makassar, saya dan beberapa teman dari Angingmammiri nonton Avatar di Mall Panakukkang. Sayang telat lima menit gara-gara keasikan nulis blog di Caffee Exelso.

Ngomong-ngomong, film yang satu ini bener-bener bisa membuat saya lupa daratan dalam arti yang sesungguhnya *nonton dulu baru kamu tau maksud saya, ya nggak Ntan?hahahahaha*. Padahal di menit-menit awal film ini, saya merasa “yaaaa film beginian” (baca: udah mau males nonton aja bawaannya). Eh, ternyata setelah 15 menit lewat – saya jadi keasikan sendiri.

Yang aneh, selama nonton film Avatar itu, saya juga jadi inget Pocahontas (1998), The Lord of the Ring (2003) dan The Craft (1996). Iya ga sih? Ada yang mengalami kejadian serupa ga selama nonton film itu? *hihihihi*

Na’vi membuat saya ingat pada Powhatan. Neytiri mengingatkan saya pada Pocahontas. Terus, Jake Sully vs John Smith, The Well of the Sould vs Mother Willow (in fact, the Well of Souls in Avatar is a giant willow tree). Kalau di Avatar, orang-orang “barat” mau mengambil alih unobtainium di daerah Pandora, di Disney-nya Pocahontas orang-orang Inggris dari Virginia Company mau mengambil alih “emas” di daerah Tsenacommacah.

Ibu para dewi, Eywa mengingatkan saya pada Ibu bumi Manon di The Craft (1996). Ini petikan percakapan antara Rochelle, Sarah dan Nancy di film the Craft.

Sarah: Who?
Rochelle: Manon.
Sarah: What’s that? That’s like god?
Nancy: No, man invented god. This is older than that.
Sarah: D-Do you guys worship the devil? (laughter)
Nancy: It’s like god and the devil. I mean, it’s everything. It’s-it’s the trees; it’s the ground; it’s the rocks; it’s the moon; it’s everything.
…..
Nancy: It’s when you call him. Manon. It’s like– It’s like you take him into you. It’s like he fills you. He takes everything that’s gone wrong in your life, and he makes it all better again. (chuckles)


*percakapan di Avatar tentang devinisi Eywa menyusul yak… soalnya baru nonton sekali hahahaha*

Nah, waktu saya main-main ke wiki-nya James Cameron tentang Avatar, dijelasin tuh apa itu Eywa. Eywa itu adalah kekuatan supernatural suci yang menjaga dan melindungi Pandora dan Na’vi. Orang-orang Na’vi percaya Eywa akan menjaga kestabilan “ekosistem” dan menghubungkan setiap unsur dalam alam semsta. Makanya, selalu ada “selang penghubung” alamiah pada ikran (burung/Banshee), pa’li (kuda/Direhores), dan palulukan (panter/Thanator) yang kalau dihubungkan ke rambut kepang orang-orang Na’vi akan menjadikan binatang-binatang khas Pandora itu menjadi satu harmoni dengan penunggangnya. Orang-orang Na’vi percaya Eywa adalah kekuatan spiritual yang mengatur keharmonisan setiap unsur di alam semesta. Karena mereka percaya soal itu, jadinya mereka bisa melihat ujud Eywa ini pada benda-benda disekitar mereka – yang dapat dipegang dan dilihat.

Masalahnya, banyak orang-orang yang engga percaya bahwa Eywa atau Manon atau Ibu Bumi itu adalah entitas yang memiliki jiwa. Jadi, bawaanya ada orang-orang yang mau menguasai bumi (dan segala isinya) dan enggak berlaku engga sopan sama (ibu) bumi. Orang-orang ini lupa, kalau pada saatnya nanti bumi akan membalas kelakuan mereka *kata Sarah yang di the Craft: “(ibu) bumi akan membalas tiga kali lebih parah”. Waduh, ngeri!* Jadi inget waktu binatang-binatang di hutan menyerbu pasukannya Kolonel Quaritch. Jadi inget waktu Ents menyerbu orc dan uruk-hai dan menghancurkan pasukan Menara Timur.

TREEBEARD: There is always smoke rising from Isengard these days.
MERRY: Isengard?
TREEBEARD: There was a time when Saruman would walk in my woods. But now he has a mind of metal and wheels. He no longer cares for growing things.
….
….
[The Ents are stomping over Isengard, swinging their huge limbs, throwing and stamping on Orcs and rolling huge boulders over the ground. An Ent is pulled down with chains by some Orcs, who immediately jump on and hacks away Saruman rushes out onto the balcony of Orthanc and stares at the pandemonium in incredulity. Merry and Pippin also throws stones at Orcs, their aims true.]

PIPPIN: Yes!
TREEBEARD: A hit. A fine hit! (Two Ents rock a wooden structure and push it over into the caverns below, smashing against the rock. Some Orcs fire flamed-tipped arrows at an Ent, setting him on fire. Saruman continues to look about from his balcony, helpless. Some Ents are now breaking away at a dam.]
TREEBEARD: Break the dam! Release the river! (The dam is broken and Saruman looks up to see the river rushing down the slope towards Isengard, washing away Orcs and wooden structures in its path.)
MERRY: Pippin, hold on! (The hobbits tighten their hold on top of Treebeard)
TREEBEARD: Hold on, little hobbits! ([Treebeard braces himself against the flood. As the water rushes over Isengard, an Ent rushes in and thrusts his burning body into the water. The water rushes into the caverns, washing away the bridges, mechanisms and structures within.)

Kalau saya mau mengenyampingkan fakta bahwa dalam film Pocahontas itu Disney memutarbalikan fakta sejarah *huh! sebal*, sebenarnya film itu (dan film yang lain) membuat saya kesentil *malu* hahahaha

Color of the Wind

You think you own whatever land you land on / The Earth is just a dead thing you can claim / But I know every rock and tree and creature / Has a life, has a spirit, has a name

You think the only people who are people / Are the people who look and think like you / But if you walk the footsteps of a stranger / You’ll learn things you never knew you never knew

The rainstorm and the river are my brothers / The heron and the otter are my friends / And we are all connected to each other / In a circle, in a hoop that never ends

How high does the sycamore grow? / If you cut it down, then you’ll never know / And you’ll never hear the wolf cry to the blue corn moon

You can own the Earth and still / All you’ll own is Earth until / You can paint with all the colors of the wind

Ngomong-ngomong, capek ga baca postingan yang ini? I am thinking to much! HAHAHAHAHAHAHAHAHA Belum tentu juga orang-orang yang pada nonton film mikirin apa yang saya pikirin. Nonton mah nonton aja kali yah hahahahahaha.
Tapi, saya merasa beruntung sekali menuruti ide iseng-iseng nonton Avatar waktu di Makassar (disempet-sempetin). Saya selalu merasa perlu diingatkan pada banyak hal, dan kali ini saya diingatkan oleh sebuah film (dan beberapa film lainnya yang teringat gara-gara saya nonton Avatar).

16 December 2009

Kok Prita doang? Kok koin doang?


sapu lidi

Saya takjub sekali dengan gerakan mengumpulkan koin sebagai kepedulian rakyat Indonesia pada Prita Mulyasari. Menurut artikel yang saya baca, tanggal 16 Desember 2009 ada Rp. 193.352.450610.000.000,- koin yang terkumpul. Dasyat ya?

Saya membayangkan mungkin ada seorang bapak yang menyumbangkan 100 perak, ibu yang lain menyumbangkan 500 perak, seorang anak kecil memberikan uang jajannya yang 200 perak, tante yang itu memberikan kembalian dari supermarket 500 perak, tante yang ini menyumbangkan 1000 perak karena kantong uang receh di dompetnya sudah terlalu penuh (dan bau busuk). Koin-koin yang disumbangkan (mungkin) adalah jumlah yang tidak dianggap signifikan.

Tapi ketika seluruh rakyat Indonesia mau peduli, ketika banyak orang bersama-sama merogoh kantong untuk menyumbangkan sekeping uang receh yang tidak berarti (buktinya kalau di supermarket sering ga dikembalikan sama si kasir, dan kita juga ga pernah protes! Ha!), hasilnya adalah Rp. 193.352.450! 610.000.000,- koin saja. Wah. Wow. Hedew. Gile. Keren.

Padahal, mungkin banyak orang enggak kenal lho sama Prita Mulyasari. Tapi karena orang banyak percaya bahwa ajakan koin peduli itu penting untuk dilakukan dan semua orang mau peduli untuk kebaikan – mereka mau ikutan beraksi! Aksi 100 perak saya rasa adalah aksi yang sama sekali enggak susah (Dibanding aksi menjahit mulut dan tidak makan sebulan. Hi! Ngeri!).

Nah, saya jadi ingat buku-buku sejarah atau PSPB yang dulu sering saya baca (dengan paksaan dari pihak-pihak tertentu hehe). Jadi ingat anologi tentang sapu lidi yang jadul itu. Aksi yang kecil, tapi karena dilakukan secara serentak karena peduli dan percaya – hasilnya adalah maha dasyat!

Terus, saya jadi memikirkan beberapa hal. Kok Prita doang ya? Kok koin doang ya? Gimana dengan sampah? Gimana dengan korupsi? Gimana dengan pendidikan? Gimana dengan pendidikan anak?

Kalau saja tiap orang di Indonesia mau membuang sampah pribadinya di tempat sampah yang sudah disediakan, kalau saja tiap orang di Indonesia bangun lebih pagi sedikit dan datang tepat waktu ke kantor atau sekolah atau kampus, kalau saja tiap orang tua mau menyisihkan waktu untuk membacakan satu buku cerita pada anaknya setiap hari, kalau saja tiap orang mau tersenyum setiap hari, kalau saja tiap orang mau mengucapkan tiga kata ajaib (tolong, maaf, terimakasih).

Kalau saja tiap orang Indonesia mau melakukan hal-hal kecil karena peduli untuk Indonesia yang lebih baik. Kalau saja enggak Prita doang. Kalau saja enggak koin doang. Kalau saja kamu ngerti apa yang sedang saya bicarakan hahahaha

====================================================
Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day saying, “I will try again tomorrow.” (Mary Anne Radmacher)

15 December 2009

Belajar dari perempuan (blogger) Bali

Bukan karena saya perempuan, saya berani mengatakan perempuan itu kuat, cerdas, berani dan peduli. Perempuan yang tidak kuat (baca: lemah), tidak cerdas (baca: bodoh), tidak berani (baca: penakut) dan tidak peduli (baca: tidak acuh) adalah hasil konspirasi yang mendehumanisasi perempuan.

Kalau ada yang (berani) bilang bahwa perempuan itu mahluk yang lemah, bodoh, penakut dan acuh – suruh dia melihat perempuan-perempuan di Bali. Sementara para laki-lakinya kebanyakan duduk dan melukis atau nongkrong sambil menyabung ayam – para perempuan Bali justru berjalan jauh naik tebing, mencari dan mengangkuti batu yang kadang-kadang beratnya sampai delapan kilo gram. Batu-batu itu lalu dijual untuk diukir (oleh para lelaki). Kalau melihat para perempuan di Bali terlalu makan ongkos, bisa berkunjung ke tulisan mengenai perempuan Bali.

Tapi sebenernya sih, saya tidak setuju kalau fisik selalu dijadikan alat mengukur kekuatan, kecerdasan, keberanian dan kepedulian.
Moral dan emosional barangkali juga bisa dijadikan tolak ukurnya.

Misalnya, berapa banyak sih perempuan yang berani bilang ke suaminya kalau dia enggak dapet (orgasme) waktu make love? Malah, banyak perempuan yang bahkan nggak berani ngomong kalau selama make love (vaginanya) sakit. Berapa banyak sih perempuan yang kuat melawan mitos (dan pandangan miring) masyarakat kalau dia memutuskan untuk berani bersuara (dan jujur)? Berapa banyak juga perempuan yang kuat melawan arus dengan memutuskan untuk berani bersuara karena mereka peduli?

Menurut saya – Luh De dan Ika Widari – adalah dua orang perempuan Bali yang dengan cerdas menunjukkan keberanian mereka bersuara karena mereka peduli (oh ya, mereka adalah perempuan-perempuan yang kuat lho). Cerdas karena mereka bersuara lewat blog, berani karena bersuara melawan mitos, peduli karena berbagi.

Blognya Luh De dan Ika Widari nggak membahasa hal-hal ribet mengenai CARA buat atau permak blog. Kalau mau cari gimana cara download widgets atau pengalaman pake ubuntu di blog mereka berdua, wah – salah alamat! Blognya Luh De dan Ika Widari seperti buku cerita, yang kebanyakan isinya tentang pengalaman mereka sebagai perempuan.

Luh De, misalnya, berani lho menceritakan kebingungannya waktu harus memilih alat kontrasepsi (dan ternyata banyak perempuan yang juga bingung gimana mesti milih alat kontrasepsi). Ika Widari beda lagi, berani bersuara jangan menjauhi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), tapi virusnya!

Saya belajar banyak sekali ketika membaca blog mereka berdua. Belajar untuk berani bersuara. Belajar menjadi kuat melawan arus utama yang mementingkan “kepantasan” dibanding “kejujuran”. Bersuara lewat blog adalah hal yang luar biasa – terutama untuk perempuan. Suara perempuan suara yang indah. Suara perempuan adalah kepedulian dan memberdayakan. Mari perempuan, bersuara dan berbagi cerita lewat blog.

====================================================
“In the different voice of women lies the truth of an ethic of care, the tie between relationship and responsibility, and the origins of aggression in the failure of connection.”
(Carol Gilligan)

10 December 2009

Gegar budaya dua kali

dan mungkin jadi tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali …

Dulu sebelum ke Australia – di Jakarta dan Depok (apakah Depok itu masuk Jakarta atau bukan ya?), saya tidak terlalu takut menyeberang jalan, walaupun selalu sebelum menyeberang selalu mempersiapkan badan dan konsentrasi. Tapi, lebih nekatlah dibandingkan kakak dan ibuku dan beberapa temanku (kecuali Kiki yang kalau tiap mau nyebrang justru mendorong saya ketika ada kendaraan yang lewat. *oh, emang dia jahat*).

Biar nekat, tetap saja setiap kali ingin menyeberang jalan, saya akan berwaspada: tengok kiri dan kanan dan kiri dan kanan dan kiri dan kanan sebelum mengukur jarak kendaraan yang akan lewat dengan ketepatan waktu menyeberang lebar jalan. Artinya, saya akan berdiri di tepi jalan selama beberapa detik atau menit.

Nah, ketika saya datang ke Australia saya mengalami gegar budaya dalam hal menyebrang jalan. Ada beberapa sih, yang pertama – saya jadi selalu menempatkan diri di dekat lampu merah setiap akan menyeberang jalan. Di tiang lampu merah ada tombol yang harus ditekan kalau kita mau menyeberang jalan (jujur, saya ga tau fungsi tombol itu apa. Karena tanpa menekan tombol pun, lampu hijau akan berubah jadi merah – tanda penyeberang jalan sudah mulai beraksi). Jadi, saya selalu berdiri di sekitar tiang lampu merah, menekan tombol, dan menunggu lampu hijau berubah jadi merah, baru menyeberang. Saya merasa bersalah sekali kalau menyeberang jalan di sembarang tempat yang tidak ada tiang tombol itu.

Yang kedua berurusan dengan zebra cross. Pertama kali saya menyeberang jalan di zebra cross, seperti biasa saya bersiap-siap. Berdiri di pinggir jalan – menunggu kesempatan untuk pindah tempat ke seberang jalan. Tapi saya kaget dan bingung (sempat black out beberapa detik) ketika semua mobil tiba-tiba berhenti: “Ha? Kok mobil-mobil berhenti?”. Untung saya cepat sadar, kalau mereka berhenti karena saya berdiri dipinggir jalan di depan zebra cross. Saya cepat-cepat menyeberang.

Sekarang, saya sedang ada di Indonesia untuk beberapa minggu. Ternyata kegiatan menyeberang jalan adalah salah satu kegiatan tetap saya tidak perduli di mana saja. Aksi menyeberang jalan yang pertama kali saya lakukan di Indonesia itu di depan Terminal Rawamangun. Saya sudah siap berdiri di dekat salah satu tiang lampu merah – lalu bingung: “Mana ya tombol untuk menyeberang?” hahahaha baru sadar kalau saya sudah kembali ke Indonesia. Waduh, pikun.

Sama, waktu saya mau menyeberang zebra cross di Bali. Saya main nyeberang saja – karena berasumsi mobil-mobil dan motor-motor itu akan langsung berhenti ketika saya menapakan kaki pertama di atas zebra cross. Asumsi yang terlalu cepat. Motor dan mobil itu tidak perduli, lho. Jelas-jelas ada zebra cross. Jelas-jelas ada manusia yang mau menyeberang. Sepertinya menghemat waktu beberapa menit lebih penting dibanding keselamatan nyawa orang lain.

Sisi baiknya adalah – saya semakin terampil mengukur kesempatan: kapan saat yang paling baik menyeberang dengan jarak kedatangan mobil/motor dan jarak lebar jalan yang mau diseberangi.

Dan saya pasti akan mengalami gegar budaya menyeberang lagi nanti. Hahaha

8 December 2009

Down on my knees

in case you failed to notice
in case you failed to see
this is my heart,
bleeding before you,
this is me down on my knees

7 December 2009

I Fall In Love

Do you believe in love at the first sight? I do. Very many factors act in the situation of falling in love from the first sight: the appearance, voices, gestures, smell, and attitude. When you fall in love at the first sight you are usually ready and willing to fall in love. It means we will intuitively searches in the other the qualities to complete ourselves.

But if you suddenly fall in love with quiet unknown person and see that it’s mutual that may mean even that mother-nature has chosen a partner that genetically suits you a lot. In this case it is like “aha, match!”.

Anyway, I am falling in love, and it is EXACTLY love at the first sight given by mother-nature *hahaha, I am blissful*. I fall in love with a good looking, smell good, nice attitude of a place where I am now – writing this post Well, love is a term, which is much more than just physical attraction. It’s about compatibility, understanding, trust and respect – and I feel damn good compatible with it. I give all my trust and respect and understanding to it. Definitely this is not just a lust :)

=====================================================
“If you love something, let it go. If it comes back to you, its yours forever. If it doesn’t, then it was never meant to be.”

4 December 2009

Warung Kopi Chek Yuke


I arrived in Aceh on the 3 December. Yes, it was yesterday. I’d never been to Aceh before, so this is my first time in Aceh. I had an intriguing feeling about Aceh.

Yes, Aceh is intriguing. At least, warung kopi is a very provocative vocabulary for my mind. When we talk about “warung” we will imagine a semi-permanent booth/tent at the roadside, where people sell kopi tubruk, but not in Aceh – at least in Banda Aceh. Here, in Aceh, warung kopi is a “wide and big” place in a two-floor building, which is well-equiped with hotspot. Hotspot? Yes, hotspot. You can find hotspot in almost every warung kopi in Aceh. Therefore, you will find different type of visitors/buyers as well. Chek Yuke is one of Aceh’s warung kopis, a place where I did my first kopi darat with my ABC friends *kopi darat di warung kopi! haha* When I came to Chek Yuke warung kopi, I saw a vascinating view: almost visitors brought along their laptops *oh yes, that was realy cool!*

Another interesting fact about Aceh is Aceh Learning Centre, where Aceh people can learn how to use Internet for free. What I meant with free is totally free: free Internet access, free PC, free space, and free training. Could you please tell me place elsewhere to find such of services? Haha! *none, I believe!*

My friends from ABC also told me another awesome fact (and also job), about their restless efforts to introduce writing skill for blogging activities all around Aceh by giving free trainings for teens. The only barier for these teens to keep blogging is lack of computers *sad*. But still, two tumbs up goes for my ABC friends (btw, I am an ABC guy tooo haha). To be honest, this is the first time I feel the fullest to be an Indonesian :)

===================================================
I always have the feeling in these low states that something good is about to happen. That’s when I feel the fullest, the rawest, the closest to myselfNastassja Kinski
Doesn’t mean you are vanished :) . It means I am more able to love because I want to – nothing in return I want from you :)

4 December 2009

Lembar Informasi Peserta Survey Online

University of Wollongong

 

 

LEMBAR INFORMASI UNTUK PESERTA SURVEY ONLINE

PENGANTAR

Saya, Endah Triastuti, mahasiswa S3 di Fakultas Ilmu Budaya (Faculty of Arts) pada Universitas Wollongong (University of Wollongong). Saya mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini memberikan kesempatan menambah informasi penting mengenai penggunaan Internet di Indonesia. Sebelum Anda memutuskan untuk turut serta atau tidak dalam penelitian ini, sangat penting untuk mengetahui mengenai penelitian ini lebih jauh: mengapa penelitian ini penting – dan yang lebih penting hak Anda sebagai peserta penelitian.

PENJELASAN MENGENAI PENELITIAN :

Survey online ini dirancang untuk menghasilkan data yang lebih reliabel mengenai penggunaan Internet dan sikap terhadap Internet di Indonesia. Sebagai peserta survey, Anda akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai aktivitas online dan sikap terhadap Internet. Ada beberapa penelitian terdahulu mengenai pengunaan Internet di Indonesia, tetapi  tidak ada satu pun yang menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel. Survey online ini menggunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai penggunaan Internet dan sikap terhadap Internet yang telah diuji oleh beberapa penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional.

 KEUNTUNGAN BILA MENGIKUTI SURVEY ONLINE INI

Dengan berpartisipasi dalam penelitian ini, Anda berkesempatan memberikan suara mengenai aktivitas online dan sikap terhadap Internet sebagai penduduk Indonesia. Artinya, Anda turut menyumbangkan cara pandang/pendapat tentang bagaimana orang Indonesia menggunakan dan sikap Anda terhadap Internet.

APA YANG DIMINTA DARI ANDA SELAKU PESERTA PENELITIAN: …..
klik di sini untuk membaca lebih lanjut: Lembaran Informasi Peserta Survey