Jangan ajari anakmu


Teman tersayang,

Hari ini saya membuka-buka inbox hotmail. Dan saya menemukan sebuah email dari kakak saya. Kakak saya, Retno – mengirimi saya puisi ini tanggal 17 Desember 2008. Ia mendapat forward sajak yang sangat indah dari Ibu Yasmine Sahab, seorang dosen Antropologi di FISIP UI. Sayangnya, tidak ada yang tahu siapa penulis sajak indah ini. Ibu Yasmine Sahab juga tidak menyebutkannya. Kita anggap saja anonim. Tapi, jika teman-teman ada yang tahu, boleh ya menginformasikan ke saya :) Terimakasih sebelumnya. Salam hangat :)  

Jangan didik anakmu laki-laki
Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki
Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan
Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan

Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan Semesta yang indah
Sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya
Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan Semesta

Jangan larang anakmu perempuan
Jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat
Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda
Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang
Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
Dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan Semesta anugerahkan
Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini

Isilah rumahmu
Dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan
Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan
Keindahan menikmati mentari pagi
Kehangatan rasa ketika menggenggam pasir
Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
Dan merdunya suara tetes-tetes hujan

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah
Gemakan keberadaan Tuhan Yang Maha Semesta dalam dirimu
Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang
Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan
Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku

Jika kau ingin anakmu penuh kasih
Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu
Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan
Hiduplah demikian!

Gambar perempuan Caffre menyusui saya pinjam dari sini. Terimakasih ya.

I love you :*


Hai!

Apa kabar?

Kalau kamu sudah selesai membaca postingan saya ini, tolong SEGERA telpon ayah atau ibumu ya, katakan: “Pak/Bu saya sayang Bapak/Ibu :)

Have a good day!

Salam.

ps. Salam manis untuk ayah dan ibumu ya

Gambarnya saya pinjam dari sini

Mens(truasi)


Teman tersayang,

apa kabar? Hmmm saya sepertinya mau mens. Bawaannya kesal terus. PPfffff.

Ngomong-ngomong soal mens, saya agak bingung loh. Bertanya-tanya apakah Kalian pernah memikirkan apa yang saya pikirkan tentan mens.

Orang tuh, suka aneh ya – kalau menyikapi perempuan dan mens. Kalau perempuan nggak mens (artinya kan perempuannya nggak bisa hamil alias mandul), perempuan dikucilkan, diomongin macem-macem, kadang diperlakukan dengan tidak adil (baca: dicerai, misalnya. Dengan alasan: tidak bisa punya anak).

Tapi, kalau perempuan mens – dianggap kotor. Jadinya, tiap perempuan sedang menstruasi – dikucilkan juga (baca: nggak boleh masuk rumah ibadah, nggak boleh membuat sesaji, nggak boleh menjadi pemimpin, nggak boleh ini, nggak boleh itu).

Jadi perempuan tuh serba salah kan?

Mungkin mitos menstruasi tuh ya, cuma akal-akalan orang yang sirik karena HANYA perempuan mampu menggendong kehidupan :) (and that means ALOT). Jadinya, dibuatlah cerita kalau menstruasi itu kotor, kalau menstruasi itu melemahkan perempuan (padahal perempuan hanya ‘lemah’ kalau sedang menstruasi hehe). Hah.

“…blood that stains is the blood of war, not the blood of menstruation.” (borrowed by Hildegard of Bingen)

Setuju nggak? :p

Salam!

Gambarnya saya pinjam dari sini.

Litter in public spaces


Teman tersayang,

hari ini ngapain aja? Pagi ini saya rencananya mau baca buku dan menulis bab untuk tesis. Tapi perhatian saya jadi bertumpu pada lini massa mengenai kasus tabrakan maut yang menewaskan sembilan (atau delapan) pejalan kaki di daerah Tugu Tani Jakarta Pusat. Akhirnya nggak cuma twitter yang saya tonton, tapi juga berita-berita terkait mengenai kasus ini. Dan, bagaimana orang menanggapinya.

Yang saya liat hari ini ya, manusia moderen menggunakan media bukan hanya untuk mencari berita. Tetapi juga untuk mengungkapkan kekesalan dan, (ini yang paling miris) menyebarkan kebencian dan kemarahan.

Ada pengguna twitter yang menyabarkan akun-akun twitter orang-orang yang diduga ada di dalam mobil penabrak. Jujur saja, saya mikir: untuk apa? Walaupun kalimat twitter hanya berisi bahwa ID yg disebutkan ada di dalam mobil – tanpa nada provokatif.

Saya sudah sejak lama memperhatikan fenomena ini. Bagaimana orang-orang di dunia maya berbagai alamat/identitas online orang-orang yang dianggap ‘musuh bersama’. Ujung-ujungnya apa? Penyerangan secara verbal – walau nonmetion sekalipun. Tapi dibalik itu, saya melihat ada kebencian dan kekerasan yang disebarkan lewat lini massa.

Tapi tidak hanya lini massa twitter. Komentar-komentar di surat kabar online pun – penuh dengan kebencian dan kemarahan – yang seringnya menyimpang jauh dari konteks. Makian yang berkaitan dengan fisik sampai tuduhan “paling juga udah nggak perawan” ada hampir di setiap link yang saya kunjungi.

Entah deh, membisu ketika saya membaca dan mengamatinya. *sigh*

Hari ini, setelah mengamati apa yang terjadi di dunia maya berkaitan tabrakan maut, saya berjanji untuk lebih bijaksana. Saya merasa – bukan hak saya juga untuk membagikan identitas online orang – walaupun, identitas itu terbuka untuk diakses.

Media online (dan media sosial) memang berfungsi untuk memberdayakan pemakai dan menjalin keakraban. Mungkin ada baiknya, fungsi media online (dan media sosial) lebih dimaksimalkan dengan menggunakan dengan bijaksana? Memberdayakan dengan positif?

Why do we kill people for killing people to show that killing is wrong? Why we speak uncaring words to show how uncaring people are? Why we do uncaring behaviour to point someone’s uncaring attitude?

However, I regret and dislike her and her friends uncaring attitude. I swear at her and her friends silently.

Ini pendapat saya. Saya mengerti kalau teman-teman punya pendapat yang jauh berbeda dengan saya.

Selamat berkomunikasi online ya :)

Salam.

Gambarnya saya pinjam dari sini. Terimakasih ya.

Libur telah tiba!

This slideshow requires JavaScript.

Teman tersayang,

Kalian punya anak/keponakan/adik/cucu yang masih sekolah? Sebentar lagi liburan loh… Sudah punya rencana liburan untuk mereka?

Gita sedang liburan juga, sampai nanti 31 Januari. Sudah beberaa kali setelah Gita nonton Youtube selama liburan ini, dia membuat beberapa eksperimen yang keren. Hari ini, Gita membuat lava lamp. Keren deh. Bahannya gampang juga.

Bahannya ini:
Gelas/botol yang jernih volume 1 liter. Sebaiknya jangan yang berwarna ya.
Minyak goreng
Pewarna makanan
Tablet effervescent

Caranya gini:
Isi gelas/botol dengan air sampai 1/3 tinggi gelas/botol
Isi gelas/botol yang sama dengan minyak goreng sampai 4/5 tinggi gelas/botol
Masukan delapan tetes pewarna makanan
Terakhir masukan tablet effervescent

Untuk efek yang lebih spektakuler, matikan lampu ruangan dan sinari gelas/botol dengan senter/lampu.

Titip salam buat anak/keponakan/adik/cucu Kalian ya. Selamat liburan untuk mereka ya.

Stupid parents we are (or I am)

Dear friends,
do you have any kid(s)? I do. I learnt important thing today from Gita.

From them we know that we are not perfect (but it does not stop us to try or to give our best, doesn’t it?). From them, we know that we are not smart enough (and they inspire us to keep learning). From them, we know it is okay not being perfect and they wholeheartedly give us unlimited chances to always improve ourselves. Most of all, from them we know it is good wanting to know about everything. It is good to question and not to take everything for granted.

G: Bu, who discovered the first bird?
C: What do you mean, Gita?
G: The first bird, before the birds today exist.
C: Oh. They hatched from eggs. You know that.
G: Oh. Who laid the first egg?
C: The bird!
G: What bird? Before the first egg hatched, there wouldn’t be any bird! 

Oh. There you go.

Then I reminded her our discussion about the first human, God made or evolution product. But she said: “Yes. I do remember. But that was about the first human, not the first bird. So, how about the first bird. Who discovered the first bird?

C: “There were not discovered. They’ve evolved! The evolution is a line where birds are included. And then one stopped or slowed down, another continued until they started to stopped or slowed down as well.

G: How? Birds were not evolved from monkeys? In which part of the evolution line the first bird was?

Mother of God. I don’t have any idea in which part was that. I don’t know.
I couldn’t answer. Can you? All I could say was: “I will show you at home. We will look on the Internet.

And before I write this post, we browsed on the Internet – to find in which part of evolution line the first bird was.

To you, parents – I am sure you are facing the same from your kids – every day, did you? Or are you still? :)

I borrowed the picture from NASA. Thank you.

Nasi dulu, baru kenyang


Teman tersayang,

hari ini, saya makan malam di rumah kerabat dekat. Saya yang masak -___- Menunya: lontong cap gomeh-cap gomehan (soalnya nggak terlalu cap gomeh). Perlengkapannya: ketupat (see?), opor ayam, tumis labu siam, sambel goreng hati, telur pindang, dan bawang goreng. Plus, lumpia goreng.

Menurut saya sih, porsinya lumayan. Tapi, sehabis makan malam – Kakek Walter tanya ke istrinya: hidangan penutupnya apaan nih? Aku masih laper? Wadoh.

Saya akhirnya tanya: Kakek, kurang ya porsinya? Eh, yang jawab anaknya. Kayak gini: “Aku tau deh. Si Kakek masih laper karena makan ketupat, bukan makan ‘proper meal’. HOH? Terus, anaknya yang tinggal di Malaysia cerita, kalau di sana (Malaysia) biar sudah makan mie goreng plus nasi satu piring dan lauk, tapi kalau dia belum kemasukan ‘proper meal’ – dia masih tetap kelaparan.

Saya lalu tanya, proper meal itu apa. Jawab si anak: “Steak, mashed potatoes, vegetables”.

Ring a bell. Jadi inget orang di Indonesia yang biar sudah makan steak, burger, pasta – tapi kalau ketemu nasi, bisa tega bilang belum kenyang -____-

I am what I eat. That’s true.

Have a good day and weekend!

Gambarnya saya pinjam dari sini.

IBU TIRI

Teman tersayang,

waktu Kalian kecil pernah/suka nonton film-film Disney yang tentang putri? Memperhatikan tidak, ada kesamaan-kesamaan besar? Pertama, kebanyakan putri itu ditinggal mati ibu(kandung)nya (Snow White, Cinderella, Ariel, Belle, Jasmine, Pocahontas). Kedua, beberapa ayahnya mereka tidak tahan menduda lalu menikah lagi. Akhirnya, putri-putri ini punya ibu tiri – yang jahat (Snow White, Cinderella). Ketiga, peran ayah tidak banyak diceritakan. Ngapain aja sih mereka, sampai anaknya bisa dijahatin orang? (Snow White, Cinderella).

Dua akhir pekan yang lalu, saya menghabiskan waktu bersama keluarga teman saya. Sebut saja nama teman saya ini L. Ayah L bercerai, lalu menikah lagi. L, seperti cerita Disney – tidak pernah akur dengan ibu tirinya. Tapi, tau nggak – L juga nggak akur dengan ayahnya. Hahaha!

Setelah dua akhir pekan kemarin, saya jadi terus memikirkan soal Disney dan para putri yang ditinggal ibu kandungnya mati itu. Jangan-jangan, mereka pun tidak akur dengan para ayah (kok bisa, Cinderella dan Snow White diperlakukan keji di rumahnya sendiri oleh ibu tirinya!). Dan Kalian tahu nggak, bahkan L juga nggak akur dengan ibu kandungnya. Yak! Saya juga jadi bertanya-tanya bagaimana hubungan para putri itu dengan ibu kandungnya. Jangan-jangan mereka juga tidak akur dengan ibu kandungnya (sebelum para ibu kandung mati).

Dahsyat ya, bagaimana media bisa meluputkan kita dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Membiarkan kita percaya dan memelihara mitos tentang ibu tiri (liat deh sinetron di Indonesia).

Gita, anak saya, pernah bertanya apakah semua ibu tiri jahat. Saya jawab tidak tahu karena saya belum pernah punya ibu tiri. Lalu, dia bertanya apakah ayah tiri itu SAMA jahatnya seperti ibu tiri (lihat cara Gita menarik kesimpulan bahwa ibu tiri itu jahat dari cara dia mengatakan “SAMA jahatnya seperti ibu tiri”). Dan jawaban saya: “I love you. If I ever give you step dad, I will make sure he will love you as I do.

Logikanya, kebanyakan orang tua akan memastikan anak-anaknya selamat dulu kan, bahkan ketika mereka memutuskan untuk menikah lagi. Dipikir-pikir, lucu sekali bagaimana Disney selalu menggambarkan ‘ideal princes charming‘ untuk seorang perempuan, tapi tidak menggambarkan orang tua yang ideal :)

Gambarnya saya pinjam dari sini.

To be fair unfairly

Teman tersayang,

ada tidak diantara Kalian yang sudah jadi orang tua? Lalu, pernah tidak Kalian berpikir betapa tidak adilnya pada anak-anak? Saya pernah, terutama akhir-akhir ini.

Dulu, saya rajanya nonton TV, apalagi kalau sedang libur. Saya bisa duduk di depan TV dari jam 8 pagi sampai larut malam (pada hari yang sama) – kadang sampai tidak mandi seharian. Kebiasaan saya itu kayaknya dari saya umur tujuh tahun, deh.

Tapi lihat, apa yang saya lakukan sekarang pada anak saya? Puasa TV. Gita hanya menonton TV di hari Jum’at malam (satu program yang selalu menyiarkan film akhir pekan) dan di hari Sabtu sore sampai malam (serupa, stasium TV ini menyiarkan home funniest video dan film akhir pekan). Bahkan selama masa liburan seperti sekarang – tetap: nggak ada acara nonton TV untuk Gita (sesekali saya nonton berita bersama Gita).

Saya selalu berkilah, program TV sekarang lebih berbahaya dibanding jaman saya kecil dulu. Tapi saya pikir, tiap jaman pasti punya kekhawatirannya sendiri. Dalam hal ini, kalau dipikir orang tua saya hebat juga ya. Bisa segitu hebat rasa percayanya pada anak-anak. Nggak pernah (rasanya) berpikir: program TV jaman itu lebih berbahaya daripada jaman sebelum TV ada. Nggak seperti saya pada Gita. *Hufff*

Entah apa benar media sekarang lebih berbahaya untuk anak, atau saya yang kurang percaya diri. Kurang percaya diri bahwa saya orang tua yang baik dan kurang percaya diri bahwa anak saya akan baik-baik saja (walaupun menonton program TV).

Is it fair to be fair unfairly?

Saya pinjam gambarnya dari tumblr ini. Terimakasih ya.

Hot no cross Buns

Teman tersayang,
ini bukan postingan SARA ya.

Kalian pernah makan hot cross buns? Sebenarnya, hot cross buns itu roti rempah biasa dengan dua garis frosting saling menyilang di bagian tengahnya. Ini resepnya. (Dibilangin kan, roti rempah buah biasa!).

Roti ini punya ‘sejarah penting’ dalam gereja Katolik terutama masa paskah (perhatikan ‘g’ dalam ‘gereja’ saya tulis dalam bentuk kecil). Frosting gula menyilang di atas roti yang menyerupai ‘salib’ melambangkan kemenangan.

Tradisi hot cross buns sudah ada jauh sebelum jaman Yesus. Tepatnya di jaman paganism, waktu manusia masih memuja dewa, patung, dan sejenisnya yang diharamkan oleh banyak agama modern seperti Katolik. Sejarah lengkapnya bisa dibaca pada situs tentang sejarah hot cross buns berdasarkan urutan waktu.

Dua minggu yang lalu menurut penanggalan gereja Katolik masih masuk masa Natal, tetapi di supermarket besar di Australia sudah mulai menjual hot cross buns ini. Pihak gereja lalu protes, menuntut supermarket di Australia untuk berhenti dulu menjualnya ATAU kalau mau tetap menjual hot cross buns tanpa cross. Paling tidak sampai nanti mendekati masa paskah. Ini petisinya.So, be it. Hot cross buns.

Ehem. Buat saya, frosting gula ya frosting gula saja. Lucu ketika agama meyakini Tuhan dan melarang penyembahan selain pada Tuhan. Tetapi hal-hal kecil seperti frosting gula menyilang di atas roti mengusik keimanan.

With or without cross on the hot buns, do you think God gives it a damn?

Gambarnya pinjam dari sini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.