8 February 2010

K-A-C-A-N-G-A-N

Barusan aja gembar-gembor di milis perihal perokok idealis kacangan. Sumpah, enggak tau kenapa jadi perokok aja dibilang idealis? Kalau lihat Kamu Besar Bahasa Indonesia online idealis itu adalah orang yang bercita-cita tinggi. Cita-cita tinggi macam apa yang ingin dicapai seorang perokok dengan kegiatannya merokok? *heran*

Lalu kalau kacangan.. yahhhh enggak tau jugalah, maksud “kacangan” apa. Tapi kalau mengacu pada “playboy kacangan” atau “produk kacangan” atau “lagu kacangan” atau “film kacangan” – kamu bisalah ngerti maksudnya kacangan apa.

Nah, kemarin waktu saya jalan-jalan ke Bandung, secara kebetulan saya bertemu orang-orang (dewasa) kacangan in terms of smoking. Eh,sebelumnya saya minta maaf sama orang-orang yang saya rekam gambarnya tanpa minta ijin dulu. Soalnya ga yakin kalau saya minta ijin boleh motret tindakan kacangan mereka. Maaf ya.

Pertama, waktu mobil antarjemput saya berhenti di pangkalan shuttle. Terus saya ngeliat ada seorang laki-laki dewasa yang dengan enaknya santai-santai di tangga di dekat seorang anak kecil yang lagi makan kentang goreng.

Waktu itu, di dalam mobil ngeliatin laki-laki dewasa kacangan itu, pikir saya: “Biasa deh, laki-laki. Ngga tau sih rasanya menjaga kehidupan sampe sembilan bulan”. Secara aneh dan sinis, saya masih bisa “maklum” kalau laki-laki dewasa perokok adalah manusia kacangan, yang tidak peduli pada orang lain – khususnya anak-anak. Memang kacangan sih, tapi …. ya sudahlah. Maklum.

Nah, waktu saya makan di salah satu warung surabi, saya lihat ada dua orang perempuan dan seorang gadis kecil – kurang lebih lima atau enam tahun gitu. Enggak yakin, kedua perempuan dewasa itu siapanya gadis kecil cantik itu. Mungkin kakaknya, mungkin tantenya, mungkin tetangganya, mungkin (salah satunya adalah) ibunya *semoga tidak*. Yang jelas, kedua perempuan itu adalah dua manusia (super) kacangan. Dengan santainya merokok pada jarak yang amat sangat dekat dengan si gadis cilik. Dengan santainya mereka meniupkan asap rokok sisa hisapan. Dengan teganya mereka bahkan tidak berusaha mengipas asap rokok supaya bertiup ke arah lain. Tega. Tega.

Kondisi yang mengenaskan ya? Mereka kan perempuan, yang mungkin nantinya akan jadi memilih untuk memelihara kehidupan. Terus buat apa (nanti) mereka repot-repot periksa kehamilan, pergi ke dokter tiap bulan? Terus ngapain mereka (nanti) pakai susah payah mengalahkan rasa mual dan tetap minum susu dan makan makanan sehat demi demi harapan anaknya lahir sehat?

Manusia paling super hebat kacangan saya lihat waktu sedang makan malam. Ini benar-benar buat saya geleng-geleng. Pasangan suami istri – dua-duanya ngerokok habis makan keluarga. Iya, mereka bawa anak perempuan kecil. Iya, mereka ngerokok di dekat anak perempuan kecil itu. Entah mau nangis atau marah melihat ketidakpedulian mereka.

Anak-anak perempuan yang jadi perokok pasif itu kan juga punya pilihan untuk hidup sehat ya – jauh dari penyakit dan kegagalan fungsi organ-organ tubuh. Anak-anak perempuan yang jadi perokok pasif itu kan nantinya (mungkin) akan jadi ibu juga ya? Anak-anak itu perempuan. Tega. Tega.

What a hypocrite human. Susah-sudah keluar uang banyak untuk menjaga kehamilan supaya sehat, kalau sudah malah kesehatan anak dirusak sendiri. Anak sudah lahir sehat malah dibuat sakit. Wah. Apa saya yang terlalu naif ya? Menganggap semua perempuan itu (harusnya) bangga dengan kemampuan menjaga kehidupan. Mau ngerokok, ya terserah. Sama kok hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal merokok. Tapi saya pikir, mereka bisa lebih peka terhadap sekitar, terutama kalau yang disekitarnya itu anak-anak.

Saya berharap saya punya cukup keberanian untuk mendekat ke meja itu dan berkata: “sayangi anak kecil”. Saya berharap saya punya cukup keberanian untuk mendekat pada pasangan suami istri itu untuk berkata: “Kalian tidak kasihan pada anak kalian?” Sayang, saya juga tukang protes kacangan atau sebutlah idealis kacangan yang cuman berani rusuh di blog saya sendiri. Saya berharap punya keberanian kayak pemilik toko satu ini di Cempaka Mas *kali ini saya minta ijin kok waktu ngambil gambarnya*

31 January 2010

K-A-N-G-E-N

Sebenernya sepi. Tiap pagi, bangun yang dilihat pertama hanya dia. Tiap malam mau tidur yang dilihat terakhir hanya dia. Sarapan berdua. Main (kebanyakan berdua). Makan malam berdua. Nonton TV berdua. Kemana-mana berdua. Malam-malam sepi setelah dia tidur dan waktu belajar tiba. Kalau dia sudah tidur, nggak ada orang yang diajak ngobrol kalau sudah di dalam rumah. Kalau dia sudah tidur, nggak ada orang yang bisa dilihat lalu lalang dalam rumah. Kalau dia sudah tidur, cuma ada saya, IBMR51e, secangkir kopi dan buku-buku textbook.

Tapi ada Trish. Amelita. Albert. Liam. Eva. Eden. Jonno. Donna. Robyn. Christine. Martha. Indika. Imandi. Miguel.
Tapi ada Chai Coffee tiap pagi di kafe gang buntu, SWELL.
Tapi ada kantor dengan nomor 2081B dengan Ken dan Stephanie di dalamnya.
Tapi ada Philip Kitley dan Jason Willson yang selalu siap datang rapat mingguan.
Tapi ada tetangga yang tiap pagi batuk-batuk sambil ngerokok dan mabuk tiap akhir minggu di lantai bawah.
Tapi ada pantai utara yang enak buat dibuat jalan-jalan.
Tapi ada perpustakaan yang bukunya bagus-bagus dan siap dipinjam kapan saja.

Rasanya sudah waktunya pulang. Kangen.

31 January 2010

G-I-T-A-(N-J-A-L-I)

Bahkan sebelum saya berkehendak akan menikah, saya selalu memikirkan Gitanjali sebagai nama anak saya. Nama “Gitanjali” memang terdengar lebih cocok untuk diberikan pada anak perempuan, ya? * tidak pernah terpikir apakah kalau anak saya laki-laki tetap akan saya beri nama Gitanjali dan juga tidak pernah terpikir nama apa yang akan saya berikan kalau anak saya itu laki-laki*

Gitanjali adalah buku kumpulan puisi yang ditulis Rabindranath Tagore tahun 1910 dalam bahasa Bengali. Gitanjali (Gitanjoli) berasal dari kata Git dan Anjali (atau Anjoli). Git artinya lagu dan Anjali (atau Anjoli) artinya persembahan. Gitanjali artinya “prayer offering of songs”, bukan lagu yang dipersembahkan secara sembarangan – tapi lagu yang dipersembahkan secara sakral dalam doa.

Tiap puisi dalam buku itu adalah doa saya untuk Gitanjali, putri saya. Makanya, daripada mendoakan dia secara panjang lebar – saya memilih untuk menamai dia: Gitanjali – sebuah doa *yang amat panjang hahaha*

Where the mind is without fear and the head is held high/Where knowledge is free/Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls/Where words come out from the depth of truth/Where tireless striving stretches its arms towards perfection/Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit/Where the mind is led forward by thee into ever-widening thought and action/Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake.

This is my prayer to thee, my lord—strike, strike at the root of penury in my heart/Give me the strength lightly to bear my joys and sorrows/Give me the strength to make my love fruitful in service/Give me the strength never to disown the poor or bend my knees before insolent might/Give me the strength to raise my mind high above daily trifles/And give me the strength to surrender my strength to thy will with love.

[semoga jiwanya tanpa takut dan kepalanya berdiri tegak/semoga pengetahuannya bebas merdeka/semoga dunianya tidak akan pernah bubar ke dalam pecahan tembok-tembok domestik yang dangkal/semoga kata-katanya keluar dari kebenaran sejati/semoga perjuangannya tiada kenal untuk sebuah kesempurnaan/semoga nalarnya mengalir tajam dan lugas dan tidak kehilangan arah di padang pasir kebiasaan yang mematikan/semoga jiwanya dipimpin maju oleh yang kuasa pada pemikiran dan semoga tindakannya maha luas pada surga kebebasan]

[ini doaku padamu Tuhan, menyuarakan kekosongan dalam hatiku/beri aku/kekuatan menanggung bahagia dan derita dengan enteng/kekuatan membuahkan cinta kasih/kekuatan untuk tidak menyangkal orang miskin/kekuatan untuk tidak menghormati yang biadab/kekuatan untuk mensyukuri hal-hal kecil/kekuatan untuk memasrahkan kekuatanku pada kehendakmu dengan cinta]

Kamu adalah belahan jiwaku. Kamu adalah sahabatku. Aku mencintaimu, Nak. Dalam setiap tarikan nafas. Dalam setiap kedipan mata. Terimakasih karena sudah memilihku menjadi ibumu. Semoga bagimu aku adalah kenyamanan. Aku cinta padamu.

30 January 2010

WC Umum

http://2.bp.blogspot.com/_TMlQo_69v-0/SBbqVn_LQjI/AAAAAAAAiT4/jevLFmWv0KQ/s400/toilet-signs01.jpg

Pernah pakai fasilitas WC umum? Dimana? WC-nya jongkok atau duduk?
Sebenernya pikiran tentang WC umum udah lama sering muncul di otak saya. Terutama setiap habis mengunjugi WC umum yang tidak memuaskan (pelayanannya). Entah kenapa kok sejak tadi malam, saya ketemu dengan isu mengenai WC umum ini.

Tadi malam saya ke salah satu plaza di kawasan Jakarta Pusat, kopi darat bareng Ocha, Rara dan Chic dan Gita. Terus, Gita minta pipis dan dikasih tau sama Rara: “Ke situ, terus belok kiri” – sambil nunjukin arahnya. Saya dan Gita pergi ke arah yang ditunjukan sampai menemukan rambu biru berikon perempuan dengan tulisan “WANITA”. Ya sudah, masuklah saya dan Gita ke dalam. Ya ampuuuuunnnnnnnnnnn! Itu wc (manusia) perempuan apa (kecoa) betina??? WC umumnya cuma satu, WC jongkok. Tapi kok kecoanya banyak amat?? *emang kecoa bisa jongkok?*

Gita yang dasarnya penjijik terpana ngeliat banyak amat kecoa – mulai dari yang emak (besar) sampai yang anak (kecil-kecil), jalan merayap-rayap diseluruh penjuru WC jongkok itu: di dinding, di lantai, di ember, di tempat sampah, di dalam kloset jongkoknya, dan di pintu *hiiiiii! bergidik*. Tapi karena sudah diujung tanduk, Gita noleh ke saya sambil bilang: “Udah deh, ga papa”. Karena saya kasihan, saya bilang: “Dek, pipis di lantai aja ya?” dan Gita ngangguk. Jadilah kami berdua melanggar aturan dengan pipis di lantai.

Sesudah selesai pipis dan menyiram hajat basah yang di lantai, kami keluar dan saya baru sadar kalau WC Umum yang “sesungguhnya” ada di sebelah pintu WC kecoa itu. Saya bilang ke Gita: “Yahhh Dek, ini WC yang benerannya”. Kata Gita: “Yang tadi WCnya kecoa ya? Huuu Ibu!!!!” *hahahahahahahahaha, maappppp!*

Nah, pas Chic sudah datang – entah kenapa – kok obrolan kami sampai lagi ke masalah WC Umum. WC Umum favoritnya Chic itu di Plaza Senayan, yang katanya bersih, luas, gampang ditemukan, dan dekat area menyusui anak. Ok deh. WC Umum favorit saya itu di Plaza Indonesia karena bagus *cetek amat ukurannya*. Nah, pas kami ngobrol tentang WC-WC umum di mall-mall supermegah itu, saya sempat ngebayangin WC umum di Mangga Dua Mall sambil mringis dalam hati. Di otak juga sempat terlintas WC Umum di kereta api yang terakhir saya naiki sambil nyengir. Hahaha.

Pagi ini, saya mengantar Ocha ke bandara Soekarno Hatta di terminal 3. Sesudah Ocha boarding, sebelum pulang saya pipis dulu. Hati sudah tenang karena tampilan WC umum dari luar bagus: pakai kaca dove warna hijau – ah, pokoknya (terlihat) keren deh. Pas masuk, yaaaaaaa agak kuciwa, soalnya nggak ada satupun bilik WC Umum duduk itu bersih: yang lantainya becek lah, yang pipisnya belum disiram lah, yang ada bekas p*p nyiramnya ga bersihlah, yang tissue kotornya dibuang ke lantailah. Waduhhhhh, males banget. Akhirnya tetep pipis dengan pilihan jatuh pada WC duduk yang paling bersih *catatan: tissue gulung nggak ada, di lantai ada tissue kotor yang dibuang gitu aja, lantai becek, dan ga ada tong sampahnya*

Saya tiba-tiba rindu akan WC umum yang selalu bersih dan kering di Australi. Tapi, tiba-tiba juga ingat obrolan saya dengan beberapa teman tentang masalah: kenapa orang bule umumnya jijik (dan menertawakan) orang Asia yang kalau habis pipis/pup cebok pakai air dengan menggunakan tangan DAN kenapa orang Asia umumnya jijik (dan menertawakan) orang bule yang kalau habis pipi/pup cebok pakai tissue tanpa air. Nah, tapi kayaknya perbedaan ini yang jadi penyebab becek/tidak becek atau tidak kotor/kotor – nya WC umum di sana dan di sini. Apa iya?

http://www.funnycoolstuff.com/wp-content/uploads/2009/01/toilet-sign-japan.jpg

Buat saya issue cebok pake tissue dan cebok pakai air di WC umum tiba-tiba jadi penting. Logikanya adalah: kalau cebok pakai tissue, habis cebok kan tissuenya langsung dibuang di kloset dan disiram – jadi, ga perlu ada tong sampah pun – WCnya akan tetap bersih. Apalagi karena nggak ada air, jadinya nggak becek dan kotor. Sementara karena cebok pakai air, lantai WC jadi becek dan (ditambah) kalau diinjak-injak pakai sepatu/sandal yang habis nginjak lumpur. Huuuu jadi kotor dan basah! Sementara kalau cebok pakai air, ya itu tadi – airnya kemana-mana dan lantai jadi becek dan kotor.

Nah, ini. Di Indonesia ada dua jenis WC, kan? WC jongkok (squat toilet) dan WC duduk (flush toilet). Saya masih agak maklum kalau masuk WC jongkok yang becek dan kotor. Karena desain WCnya memungkinkan pengguna membuat becek dan kotor sewaktu cebok. Nah, ini! Saya agak bingung kalau masuk WC duduk yang becek dan kotor. Hah! Kok bisa sih becek sih?? Padahal kan sekarang di WC duduk itu disediakan bidet buat cebok *kalau pun memilih tidak pakai tissue buat cebok kering*. Tapi, kok masih bisa becekkkkkkkkkkkk????

Yang lebih mengesalkan, kalau ngeliat jejak sepatu/sandal di perkamen dudukan toilet/WC duduk. Artinya, seorang oknum telah mengubah fungsi WC duduk menjadi WC jongkok. Nah, yang ada orang berikut yang masuk ke bilik itu bakal ogah menggunakan WC duduk itu dengan duduk di atasnya (apalagi kalau ngga ada tissue buat ngelap jejak sepatu/sandal itu). Akhirnya, pengguna berikutnya kalau nggak ikutan nangkring (pakai sepat/sandalnya) ya, jadi batal masuk!

Saya sempat mikir, kenapa yah – kok kayak gitu? Susah bener cari WC umum yang bersih dan rapih di Indonesia? Apa karena kebiasaan kita mandi cebar cebur – ngga merasa bersih kalau bagian-bagian tubuh ga nyentuh air? Jadinya, ya berasa belom cebok kalau bokong (juga) belum basah kena air. Soalnya, saya juga selalu bawa botol bekas air mineral 1 liter kemana pun saya pergi di Australia. Saya masih merasa jijik kalau harus melakukan cebok kering. Hiiii. Nah, apakah kebiasaan ini yang mengakibatkan lantai WC umum selalu basah dan becek dan kotor?

Apa karena orang banyak yang belum tahu kalau tissue biasa itu nggak kenapa-kenapa kalau dimasukin ke lobang WC dan digerojok air? Apakah itu yang menyebabkan jadinya banyak tissue kotor bergeletakan di lantai WC Umum?

Apa karena WC jongkok lebih populer di negara kita dibanding WC duduk? Sehingga ada aja orang yang tetep jongkok dan nongkrong di atas perkamen dudukan WC duduk – dan meninggalkan jejak lumpur bekas sepatu/sandal di atasnya?

Apa kalau gitu, sebaiknya pengelola WC umum mengamati dulu – WC umum macam apa yang cocok untuk para pelanggannya – jadinya nggak salah sasaran, WC duduk dipakai sambil jongkok, eh WC jongkok dipakai sambil duduk. Apa iya perlu diadakan pelatihan menggunakan WC Umum?

Enak juga sepertinya, kalau pengguna WC Umum memikirkan kenyamanan pengguna WC Umum berikutnya. Saya percaya, siapa pun akan merasa nyaman menggunakan WC Umum yang bersih dan kering.

28 January 2010

No Reason, I love you

One day a man asked: why do you like me..? why do you love me..?

She answered: I can’t tell the reason.. but i really like you..

He: you can’t even tell me the reason.. how can you say you like me? how can you say you love me?

She: i really don’t know the reason, but i can prove that i love you.

He: proof??? no i want you to tell me the reason, my friends girlfriend can tell him why she loves him but you cant…!

She: ok..ok!! hmm…. i love you because you are handsome, because your voice is nice, because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, because of your every movements.

The guy felt very satisfied with her answer. Unfortunately, a few days later, the guy met with an accident and became comma. She then placed a letter by his side, and here is the content:

Darling,

Because of your sweet voice that I love you… now can you talk? no…
therefore i cannot love you.

Because of your care and concern that i like you.. now that you cannot show them, therefore i cannot love you.

Because of your smile, because of your every movements that i love you.. now can you smile? now can you move? no…, therefore i cannot love you…

if love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore.

do love need a reason? NO!!!!
therefore, i still love you… and love doesn’t need a reason

Sometimes the best and the most beautiful things in the world cannot be seen, cannot be touched, but can be felt in the heart. Love doesn’t need a reason… its something you can feel burning inside your heart and waiting to explode. Maybe you should never ever ask someone why do they love you. Love is nature and without love the world is nothing but a piece of crap, so everyone love the world and also love your loved ones.

26 January 2010

Gita, Ik!


It is always amazing, watching how Gita deals with languages.
She knew only six English words when we arrived in Wollongong. I was soo nervous, for Gita had to visit school in less one week time.
Now, she is able to read books. She can write too. Even, many times she corrects my English hahahahaha!

Last week I brought along Gita, introduced her to my friends from Loenpia Semarang. We visited Pagilaran tea plantation, and stayed there for two days. At the first time she had used mixed language: English and Indonesia. But then something funny happened in second day. We were in outbond area in Pagilaran tea plantation, in a small hut by the small cliff when fog was coming down – suddenly Gita said:

“Wah, kabutnya sudah turun, ik”

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
It took only two days for her to spontaneously grabbed the semarangans “IK”. Yes, children are remarkable language learners.
And Kopril was happy…

19 January 2010

Am I a bloody feminist?

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman sekantor memperkenalkan saya pada istilah baru, honor killing. Ken, teman saya itu – menemani saya meng-google istilah itu. Tadinya, saya bingung – kok dia bersikeras buat nemenin saja browsing. Tapi, setelah halaman-halaman situs terbuka – saya baru tahu kenapa dia begitu gigih ingin menemani saya.

www.curezone.com/upload/Blogs/Zoebess/female_behe...

Honor killing, membunuh untuk kehormatan – adalah tindakan membunuh anggota keluarga yang ditujukan untuk menjaga kehormatan keluarga karena salah satu anggota keluarga dianggap telah mencemarkan nama baik keluarganya.

Lucunya, yang kebanyakan jadi korban honor killing ini adalah: perempuan. Apa alasan keluarga mereka melakukan pembunuhan dengan alalasan kehormatan? Alasannya macam-macam: tidak berpakaian “sepantasnya perempuan”, berkencan dengan laki-laki, menolak dikawinkan (dengan paksa, atau bahasa halusnya dijodohkan), diperkosa lalu hamil, meminta cerai dari suami (karena sering dipukul atau mengalami perkosaan dalam rumah tangga), hingga karena menikahi laki-laki dari suku atau agama lain.

Cara membunuhnya bisa beragam, dari mulai dilempar batu (rajam), dibakar, ditembak, dipancung, you name it – they have it. Sebenarnya, ga semua perempuan di bunuh untuk menyelamatkan muka keluarga. Seorang gadis dari Afganistan, misalnya, hamil karena diperkosa. Ibu dan saudara laki-laki gadis itu mengeluarkan janin dalam kandungan gadis itu tanpa prosedur operasi yang pantas (menggunakan pisau cukur, dan tanpa obat bius).

www.islammonitor.org/index.php?option=com_con...

Ibu menjagal anak perempuannya sendiri? Iya. Jangan kira yang melakukan honor killing hanya laki-laki. Walau pun pelaku biasanya laki-laki, tetapi banyak kok honor killing yang dilakukan oleh (kelompok) wanita terhadap seorang wanita karena dianggap mempermalukan keluarga.

Bagi saya, situasi ini menggambarkan nggak cuma laki-laki yang melakukan praktik-praktik phallogocentrism atau phallocentrism. Gampangnya sih, phallogocentrism (atau phallocentrism) adalah praktik-praktik (atau wacana) dalam hubungan sosial yang berpusat pada keyakinan bahwa laki-laki adalah pihak yang superior (karena bertitit – baca The Chance of a Coming of the Otherwoman-nya Jacques Derrida atau Writing the Body-nya Hélène Cixous), karenanya “pengikutnya” senang-senang saja dan menganggap biasa – kalau semua aturan dibuat oleh laki-laki (tentu saja, berdasarkan kepentingan laki-laki *huuuuu*) dan tanpa merasa ada yang salah – perempuan bahkan ikut cara hidup seperti itu (perempuan tapi bertingkah laki-laki – I am not talking about sort of tomboy definitions yaaaaa).

Makanya ga heran, ada perempuan yang menindas perempuan lain, karena sudah teracuni oleh nilai-nilai phallogocentrism itu. Makanya lagi, nggak heran – banyak pelaku honor killing itu juga perempuan. Lupa, bahwa perempuan itu penggendong kehidupan.

Eh, sukanya saya pada istilah itu: penggendong kehidupan. Lihat saja “takdir” perempuan: memiliki rahim untuk “menjaga” janin selama sembilan bulan, memiliki susu untuk “memberi makan” bayi, paling tidak sampai enam bulan, dan air susunya mengandung kolostrum yang memiliki nilai kebaikan seumur hidup.

Tanpa mengecilkan si penghasil sperma (yang sering diagung-agungkan itu) – menurut saya, istilah penggendong kehidupan atau penjaga kehidupan, itu lebih cocok diberikan kepada perempuan, apalagi dihitung dari lamanya masa “bertanggung jawab menjaga/membuat kehidupan” – dibanding sperma yang cuma kisaran tiga menit (lalu mati).

Saya sih bangga karena punya syarat yang bisa menjadikan saya dipanggil “si penggendong kehidupan”. Bukan berarti saya percaya pada mitos terhadap “kelayakan” bahwa perempuan yang baik HARUS punya anak. Itu kan pilihan perempuan. Saya memilih mau punya anak, karena saya bangga punya kemampuan untuk “menggendong dan menjaga kehidupan”.

Terus saya jadi heran ketika ada perempuan-perempuan yang memilih untuk tidak menjaga kehidupan pada kasus honor killing itu. Judulnya aja udah “killing” – menyudahi kehidupan. Apa hebatnya? Siapa saja bisa kok menyudahi kehidupan – ga butuh sembilan bulan penuh kasih sayang dan kehati-hatian. Sekali tebas (kalau pake pedang), langsung nyawa melayang. Huh! Nggak keren sama sekali.

Tapi, terus saya akhirnya merasa kasihan. Kasihan karena perempuan-perempuan itu sebenarnya juga korban. Dimatikan rasa … rasa apa ya? Saya takut, kalau saya memakai kata “keibuan”, nanti diprotes karena dipikir tidak berpihak pada pilihan untuk tidak jadi ibu. Tapi memang bukan perasaan keibuan sih, tepatnya.

Apa dong?

Mmhhh, mungkin yang mati adalah rasa kebanggaan menjadi seorang perempuan (yang menggendong dan menjaga kehidupan) – yang harusnya sangat menghargai kehidupan dan tindakan menjaga kehidupan. Rasanya istilah saya yang terakhir itu lebih pas. Dunia yang phallogocentrism membunuh rasa bangga menjadi perempuan, dan lebih bangga menjadi orang yang berpikir dan berlaku layaknya laki-laki.

Kenapa juga bisa, perempuan jadi ikutan cara berpikir dan hidup yang nggak keren banget itu ya? *bingung* What our womb can do, what our breasts can produce, what our breast milk can suply – are amazing and powerful, no? No such power can ever be owned by MEN. Kok bisa hidup dengan bangga (honor) – dan tentu saja merasa POWERFUL sesudah mengakhiri nyawa? *logika yang aneh*

Saya bukan marah pada ulah honor killing karena saya seorang feminis. Am I a bloody feminist? Uumm…. Jain (baca: Yain – istilah dalam bahasa Jerman untuk jawaban antara YA dan TIDAK), eh – nggak tau ding! I am a humanist, yet – yes, I am a bloody (hell) feminist.

====================================================
dan tidak berdaya: “ya PANTES kalau laki-laki marah itu terus emosi, lalu mencekik dan menendang”. *untung masih hidup*

18 January 2010

K-A-M-U

Faith and Confidence

William C. Beall of Washington Daily News


saya percaya
kamu yang menciptakan setiap kondisi
dengan alasan yang baik
bahkan ketika dada saya sesak
tidak tahu harus marah atau nangis atau tertawa
saya tetap percaya
kamu mengijinkan setiap hal yang terjadi
dengan alasan yang baik
bahkan ketika saya tidak melihat ada jalan
saya percaya
jalan buntu kamu ciptakan
dengan alasan yang baik
baik untuk saya, baik untuk bukan saya
dan ketika saya ingin bahagia
kamu bikin hati saya begitu
lewat manusia yang tidak saya niatkan
ijinkan saya untuk bahagia selamanya
karena kamu yang bikin semua
mohon sempurnakan
karena saya yakin kamu tau
niat yang bersih, hati yang tulus
mohon mudahkan
karena saya yakin kamu tau
saya percaya kamu bikin
semua hal yang terjadi dalam hidup saya
dengan alasan yang baik

13 January 2010

B-B

Hari ini janjian makan siang di Depok sama Kiki dan Meli. Jadinya, saya nyetir ke kampus FISIP UI Depok. Hari ini keadaan kampus FISIP beda dengan minggu lalu. Sebenarnya minggu lalu sudah ke kampus juga. Tapi minggu lalu masih sepi karena mahasiswa masih pada libur. Hari ini lumayan rame soalnya mahasiswa pada ketemu PA (Pembimbing Akademiknya).

Saya takjub sekali dengan perubahan yang terjadi di kampus, terutama kalau bicara soal mahasiswa. Jaman saya masih jadi mahasiswa (I’ve been a student for ages *mringis*) kampus itu selain jadi tempat ketemu dosen, juga jadi tempat main kartu dan gaplek. Di seluruh kampus, tersebar pojok-pojok nyaman tempat mahasiswa kucel (nggak hanya yang laki lho, yang perempuan juga) duduk lesehan main gaplek sambil ketawa ketiwi dari pagi sampe malam di kampus. Masih inget waktu BalSem (BALik SEMak) masih ada, bahkan ada senior yang untuk dua hari duduk di tempat yang sama dan masih pakai baju yang sama: main gaplek.

Sekarang gaplek sudah punah di FISIP UI. Mahasiswa sekarang lebih milih untuk main blackberry. Permainan yang satu ini benar-benar digemari dan dimainkan dengan aktif. Maksud saya memilih kata aktif ya benar-benar aktif.

Jalan saja mata mereka masih tertuju pada layar blackberry. Makan siang saja mata mereka nggak lepas dari layar blackberry sambil tangan mencomot makanan. Pacaran saja mata masing-masing pasangan memandangi mesra layar blackberry.

Lalu ngobrol dengan teman jadi berkurang maknanya.
Lalu berkasihan dengan pacar jadi hilang gairahnya.
Lalu hidup di kampus jadi hambar.

Hahahahahaha. Jadi inget jaman dulu waktu saya pertama kali memakai blackberry. Tahun berapa ya? Tahun 2006 kayaknya. Orang-orang (dan mungkin mahasiswa saya yang sekarang pada pakai blackberry) memandang saya dengan aneh karena bentuk blackberry saya itu lebih mirip teng perang.

Mas Dedy: Itu apa, Tut?
Titut: Ini bebe, Mas
Mas Dedy: Bebe itu apa? *sambil mengambil blackberry saya dan mengamati dengan seksama*
Titut: ngggg bebe itu blackberry, Mas.
Mas Dedy: Ooohh Untuk apa itu?
Titut: ngggg untuk apa aja bisa mas. Bisa untuk sms, bisa untuk telpon, bisa untuk chatting, bisa untuk buka email, bisa untuk browsing.
Mas Dedy: Ooohh Mahal ya?
Titut: nggg nggak, Mas – saya sebulan Cuma bayar 200 ribu udah termasuk telpon dan sms. Online juga 24 jam.
Mas Dedy: *terkagum-kagum sambil masih memegang blackberry saya* Wahhh asik ya
Titut: tersenyun jumawa

Saya hanya bertahan kurang dari setahun pakai blackberry itu. Kapok. Saya dicuekin sama keluarga. Gara-gara pas liburan keluarga besar, saya sibuk sendiri be-be-em-an dan chatting sama temen-temen sesame pemakai blackberry (padahal waktu itu orang yang pakai blackberry baru beberapa orang sajah, sudah membuat sibuk sendiri hahahaha). Dan sayapun menjual blackberry saya. Dan saya pun menemukan betapa bahagianya hidup saya tanpa blackberry.

Main di taman sama Gita, nonton dia kejar-kejaran dengan temannya. Minum kopi di kafe, ngobrol ngalur ngidul dengan sahabat menertawakan kebodohan sendiri sambil nontonin pemilik kafe yang ganteng. Baca buku di perpustakaan yang ramai dengan bahasa Cina enggak jelas. Menaikan layangan akrobatik di pantai sambil lari-lari menghindari layang-layang jatuh di atas kepala. Bushwalking bersama teman sampai mau pingsan kelelahan. Tidur di tenda dengan kepala di luar supaya bisa melihat bintang di malam musim panas. Naik bukit subuh-subuh tanpa senter sambil bermanja-manja. Belanja hal-hal ga penting di pasar kaget tempat jual mulai dari anak ayam yang diwarnain sampai chocolate fountain. Duduk bego berdua di teras sambil bertatapan mesra.

Dan blackberry jadi barang sampah.
Dan blackberry jadi bukan apa-apa.
Hanya mesin yang dingin, yang tidak tahu apa-apa.

===================================================
Me: Hey, can I ask you a favor?
My sister: Yes, sure.
Me: Can you please ask how much they sell blackberry in Netherlands
My sister: Ok, I will
A week later she chatted with me
My sister: Dek, I could find no store selling FRESH blackberry, but we have FROZEN blackberry, if you want.
Me: WHAT???????
*&%#$@)*&%$

12 January 2010

2010: Life time learning

There was once a peasant who owned a stallion. It was his proudest and most valuable possession. One spring day it ran away, and peope from the village came to commiserate, “Oh, what bad luck. What a shame”.

“Well, thank you for your sympathy, but we’ll just have to wait and see, ” replied the peasant.

Only a few days later, the stallion returned, and brought with him several wild mares. The peasant’s neighbors now came to offer contratulations: “Oh, such good luck.”

Once again, the peasant replied: “Well, thank you for your congratulations, but we’ll just have to wait and see”

Not long after the stallion’s return, the man’s son tried to mount one of the new mares, and she threw him off, leaving him with a broken leg. People from the village came to commiserate, “Oh, what bad luck. Now your boy won’t be able to help you with the plowing. What a shame”.

“Well, thank you for your sympathy, but we’ll just have to wait and see, ” replied the peasant.

When the fall came, and with it the harvest, the boy was still limping badly, so he could not do his share of the work with gathering in the crops. Then just as a people were offering their sympathies, along came a press gang from the army that look all the young men of the village of to fight a war. All, that is, but the lame boy.

All neighbors came to complain about the loss of their sons and congratulate the peasant father on the safety of his son. The peasant replied: “Well, thank you for your congratulations, but we’ll just have to wait and see”.

I thank God for last year, a year which I learnt so much things from live. Other might call them ups and downs. Now, I prefer to call them my process of growing.

I was all smilles and was crying heart out as well, yet sometimes did not know whether to laugh or to cry. Too many ups and downs. Too many dramas. Too many stress. But then, what?

I remember when I decided to start meditation. It was a time when I felt like I had no more energy to fight things back. It was a time when I felt I needed to survive. It was a time when I felt myself deserve to be loved by me. It was a time when I needed urgently to be able to love others unconditionally.

I started to meditate (again) in July last year. Slowly, I began to understand no matter loud I laugh, no matter sad I sob, everything remains. During my meditation journey, I’ve learnt trying to believe ourselves as the centre of universe. I have learnt that what our mind and heart do will lead us to how we will experience our world. That’s why now I do believe our world is what we choose to be, to do, to feel, to appriciate, to complain, to see, to believe. That’s why I manage myself to be more responsible to myself – both physically and emotionally.

Then after long journey, I found when we sincerely love other because we consciously choose to do it without wanting anything in return, nothing can harm us. Even when people you love doesnt love you back. Even when people you love hurt you. By choosing something counsciously, we are aware to take responsibility to ourselves.

Therefore, I believe when we say: “I want to love this person because I love him/her. I don’t want anything in return, just love him/her. I will stay ok if they just don’t love me back. If they do something bad to me because I love them, that is not my problem.” Certainly, I don’t count acts of being a stalker can be included in acts of loving. Because, most of the time, I found to love somebody means to let them go.

By the way, it’d been so hard for me to let things go. I still remember when did I do it for the first time. At that time, something astonished me. Instead of being misserable *I’d thought I would be*, I felt fine and good and wonderful. The act of letting go doesnt reduce my loving feeling to others, in fact it encourage me to love them more and unconditionally. It is soooo amazing.

Meditation helps me to realise life goesn on effortlessly. Deepak Copra calls it The Law of Least Effort. Grass doesn’t try to grow, it just grows. Fish don’t try to swim, they just swim. Flowers don’t try to bloom, they bloom. Birds don’t try to fly, they fly. This is their intrinsic nature. The earth doesn’t try to spin on its own axis; it is the nature of the earth to spin with dizzying speed and to hurtle through space. It is the nature of babies to be in bliss. It is the nature of the sun to shine. It is the nature of the stars to glitter and sparkle. The law of least effort invites us to be aware that our world is as it should be, nothing less and nothing more.

For me, this is crazy and very hard to do. All those sentences do make sense, but also don’t make sense for me, who used to question things. So, here I am, still doing my effort to say repeatedly my commitment: “Today I will accept people, situations, circumstances and events as they occur.” This means I will know that this moment is as it should be, because the whole universe is as it should be.

Now I am still learning to believe that that by excepting things as it should be, actually we are welcoming many opportunity to evolve. That story from China helps me to realise all things that have happened to us, have hidden meanings, which serve our own evolution – our own growth.

Now I believe, only by sincerely follow how nature unfolds – make a commitment to be acceptance, responsibility and defenselessness – will lead me to a positive growth.

================================================
Don’t cry in your beer. Get yourself straightened out.