Jendela kotor

Kemarin, Polisi nurut aja sama FPI untuk membatalkan konser Lady Ga Ga. Katanya Lady Ga Ga beraliran sesat karena memuja Lucifer (?).

Hari ini, denger lagi. Film Soegija ditolak, nanti mungkin juga akan dicekal. Katanya karena SARA. SARA karena Soegija tadinya beragama A, terus pindah ke agama B. Jadinya SARA. 

Ingat, kapan itu rok mini pantang dipakai ketika masuk gedung DPR (tapi yang didalam gedung nonton film porno?), katanya karena tidak sopan (tidur ketika orang lain berbicara, emangnya sopan? Pergi ke luar negeri dengan alasan studi banding – lalu pakai uang rakyat, sampai di luar negeri hanya belanja. Emangnya sopan?) 

Tau tidak. Semua yang kamu liat kotor. Pohon. Rumah. Sepeda. Mobil. Orang-orang. Semua. Kamu lalu marah-marah, memaki mereka yang kamu liat, karena kamu liat mereka kotor. Lalu, kamu bilang sama anak-anakmu: mereka itu orang-orang yang kotor. 

Kamu bilang sama isteri/suamimu: mereka itu jangan ditemenin, karena kotor.Dan kamu mengajak anak, isteri, suami, bapak dan ibu, sanak keluarga dan semua yang ada bersama kamu untuk melihat dari tempat kamu melihat. Dan mereka sepakat: iya, bener. Pohon. Rumah. Sepeda. Mobil. Orang-orang. Semua. Semua kotor. 

Tau tidak. Orang-orang yang ada di dalam rumah, naik sepeda, naik mobil dan burung-burung yang nangkrin di pohon. Semua. Semua. Semua berpikir: jendela rumahmu kotor sekali. Berdebu. Mereka membatin: kapan sih kamu akan mencuci jendelamu? Supaya, kamu bisa melihat dengan lebih jelas, dengan lebih jernih. Mereka semua, kasihan padamu.

Tapi kamu, dari dalam – selalu memaki mereka. Ngatain mereka: kotor. 

Sebelum bilang yang kamu lihat itu kotor, cuci dulu jendelamu. Supaya bersih. Supaya sudut pandangmu lebih jernih. 

Irrelevance

It is like to protect your feet. Instead of covering them with slippers, you carpet the whole of the earth.
But, what if I don’t want to use slippers? I love high heels. Carpet doesn’t do what high heels do!

You are not allowed to eat pork, then you burn all pigs the whole of the earth.
But, I eat pork. Why?

You dislike the sound of music. You crush every instrument and mute every singer and burn every player – in the world.
Without music, I would die.

So, if you do like to wear slippers, everybody else should too. If you don’t eat pork, everybody else should not too. You don’t listen to music, everybody can’t.

If it is peace you want, seek to change yourself, not other people (Anthony de Mello)
But, your definition of peace could be different to mine.

After the full stop

To remember you is sad. I let go. I let go my faith too. Nothing’s left but echo from your emails. I  miss my feeling when still had faith and hope. It stopped crawling to you because we promise to stop after the full stop. So here I am, after the full stop. Alone. With no faith. 

 

Hosti pecahan

Hari ini saya ke gereja dengan membawa banyak gembolan untuk dikeluhkan ke Tuhan. Lalu, ketika pastur mulai memecahkan hosti, saya beribisik “Tuhan, kalo beneran kamu denger doa saya – saya mau dong, pecahan hosti-nya si pastur. Jangan dikasih hosti yang bundar kecil. Jadi, saya tahu, kamu selama ini dengerin saya. Ya? Ya? Ya?”

Ketika saatnya menerima komuni, ternyata saya adalah orang pertama di jalur sebelah kiri. Dan, saya melihat – si pastur sudah siap dengan hosti di tangannya untuk diberikan pada saya. Hosti pecahan yang saya minta tadi ke Tuhan.

Saya kembali ke tempat duduk. Mata saya basah. Senang sekali rasanya. Tuhan mendengar. Dan hati saya rasanya tenang sekali.

Saya bukan orang yang percaya akan kebetulan. Terimakasih ya Tuhan :’)

Dear Mom,

I may not like you all the time, and I disagree a lot that lead to fights. Also sometimes I make you sad and upset. I also know, I do not always listen and being very stubborn.

But, I love you always. No matter what. Unconditionally. Thank you for being my mother. You rocks! \m/

Happy Mother’s day, Mami. Peluk sayang :*

JERKS

Seminggu ini saya membuktikan, bahwa education and empowerment workshop untuk pengembangan kepribadian itu sungguh sangat kecil signifikansinya untuk perkembangan kepribadian. 

Banyak kan kursus-kursus atau workshop yang memasang tarif jutaan, terus ngasih kita program-program yang MENURUT MEREKA dapat memperbaiki kepribadian kita. Berhasil nggak? Menurut saya sih, yang berhasil bukan program memperbaiki kepribadiannya. TAPI berhasil meyakinkan kita kalau kepribadian kita menjadi lebih baik setelah ikut workshop mereka. 

Padahal sih…. kepribadian itu milik pribadi. Nggak ada orang yang bisa mengubah/mengempower/memperbaiki kalau  orang yang punya kepribadian ingin memperbaiki/mengubah/mengempower. Ngeliat semut pun, kalau yang punya kepribadian ingin dan mau, kepribadiannya bisa menjadi lebih baik. 

Dan saya merasa sayang sekali uang yang dibuang-buang percuma. Berpuluh juta, hanya untuk memperbaiki kepribadian yang kelihatan sekali, sia-sia. 

This is what I meant on my twitter: “Some people were born as jerks. No matter what clothes they wear, education they take, cars they drive. They.are.just.jerks.” Before they know that they are jerks, no training is too powerful to undo their jerk-ness. 

Hilarious!

538774_10150862764999518_724014517_9452353_1273510577_n

taken from Mark Woodward‘s Facebook album

Melihat foto ini, lucu sekali. Slogan yang direkam oleh gambar adalah “tolak pemikiran feminis liberal” dan “Irshad Manji destroying national morality”

Saya jadi bertanya-tanya, perempuan-perempuan itu bersekolah tidak ya? Karena salah satu pemikiran feminis liberal adalah kesamaan peluang dalam pendidikan. Juga bersuara dan berpolitik. Ketika mereka bersuara, membawa spanduk – itu adalah bagian dari agenda feminis liberal. Tapi menolak pemikiran feminis liberal? Ini yang membuat spanduk tau ga sih programnya feminis liberal? Foto ini menunjukkan kegagalan pendidikan. Oh sedihnya.

Moral nasional yang mana yang dirusak? Moral nasional yang tidak menghargai perbedaan? Lupa, kalau slogan negara kita adalah Bhinneka TUnggal Ika. Buka lagi buku pelajaran di SD untuk tau artinya. Kalian yang merusak moral nasional, Mbak. Dengan tidak menghargai perbedaan. Dengan melakukan premanisme untuk menindas mereka yang berbeda (dan berjumlah kecil).
Sedih sekali.

Neraka atau Surga?

Benar-benar ingin tahu. Bagaimana Tuhan bersikap, ketika nanti – di depan pintu surga dan neraka ia menghadapi empat orang. A, B, C dan D. Dan menanyakan pertanyaan yang sama.

Tindakan paling spektakuler selama masih hidup.

A: Saya homoseksual
B: Saya telah membunuh A (bangga)
C: Saya telah menerima uang sogokan B supaya dia bisa membunuh A tanpa diusut
D: Tidak ada yang spektakuler, Tuhan. Saya hanya diam saja dan hanya melihat. Sedikit ngetwit, sih.

Siapa yang masuk neraka, siapa yang masuk surga?

It is letting go, not moving on

Pagi ini saya belajar, benar-benar belajar. Bahwa, berjalan terus (to move on), sungguh berbeda dengan mengikhlaskan (to let go).

To move on, oiya. Saya berjalan terus, tidak terpaku pada kondisi yang tidak membahagiakan. Tapi, ketika saya berjalan terus, saya menyeret apa pun yang tidak membuat bahagia itu bersama saya. Benar sih, saya berjalan terus. Tapi, bukan berarti saya menjadi lebih bahagia dan lebih bebas. Karena saya berjalan terus dengan (masih) membawa beban apapun yang membuat tidak bahagia. Berat. Capek. Repot.

“I move on, Clara. I don’t care any more. But, she has to understand that what she did, has brought all memories back. Then it flashes back. It reminds me things that hurt me. She should understand that it hurts me. So she should not do that to me.”

Dan karena manusia mampu mengingat, kapan saja – saya bisa terluka (lagi, lagi, lagi, lagi). Dan berjalan terus bisa berarti menyeret sesuatu yang berpotensi melukai diri sendiri secara berulang, kapan saja dan dimana saja.

Kalau saya mengikhlaskan, saya melepaskan ikatan dengan apapun itu. Saya bebas. Apapun yang saya ikhlaskan itu pun bebas. Lalu, saya meninggalkannya begitu saja, lepas tanpa menyeretnya bersama saya. Ringan. Melegakan. Membuka peluang.

Dan karena saya telah melepaskan, saya bebas. Betul saya tidak memiliki lagi, tetapi saya tidak membawa serta sesuatu yang berpotensi melukai saya. Saya mungkin (masih) terluka. Tapi, saya berpeluang untuk sembuh. Dan menjadi (lebih) kuat. Saya aman. Saya bebas.

I have no fear of losing u, for you aren’t an object of my property, or anyone else’s. I love you as you are, without attachment, without fears, without conditions, without egoism, trying not to absorb you. I love you freely because I love your freedom, as well as mine ~ Anne Lamott

The first stone

“Yang demo itu banci, homo, sama perempuan dugem. Bagi saya itu itu sampah” (Munarman).

And let he who is without sin, cast the first stone

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.